Refleksi 27 Tahun Jawa Pos Radar Bromo, dari Koran Menjadi Institusi Kepercayaan  

Ahmad Suyuti • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 01:58 WIB
Direktur Jawa Pos Radar Bromo, HA Suyuti
Direktur Jawa Pos Radar Bromo, HA Suyuti

 

DUNIA terus berubah. Teknologi semakin berkembang. Pun dengan media. Saat ini, ribuan perusahaan media berdiri. Dari catatan Dewan Pers, ada 1.819 perusahaan media yang terverifikasi. Terdiri dari 989 perusahaan media digital. Sisanya media cetak dan elektronik (radio dan TV). 

Artinya, saat ini bukan lagi zaman nirinformasi. Sebaliknya, setiap orang akan mudah mendapatkan informasi. Bisa mengakses kapan saja dan dari mana saja. Cepat. Murah. 

Setiap detik ribuan berita membanjiri ruang digital. Berita bercampur opini. Fakta bercampur propaganda. Kebenaran bersaing dengan sensasi. Siapapun bisa menyampaikan informasi. Siapapun Bisa menjadi “wartawan”. Tidak perlu berpendidikan tinggi. Tidak perlu teknologi canggih. Modalnya cukup telepon genggam untuk menyampaikan sebuah informasi.       

Namun ironisnya, semakin mudah informasi diproduksi dan diakses. Semakin sulit membedakan mana yang benar dan tidak. Mana yang sesuai fakta dan tidak. Berita hoaks bertebaran di mana-mana. Kebenaran hanya ditentukan oleh viralitas. Semakin viral, semakin dipercaya oleh pembaca.

Di sinilah kualitas media diuji. Apakah mencetak berita untuk mengejar viralitas tanpa memperhatikan kaidah jurnalistik? Membuat berita sensasi untuk mengejar klik? Atau memproduksi informasi yang tepercaya dan bisa dipertanggungjawabkan kepada pembaca? 

Dua puluh tujuh tahun lalu, ketika Radar Bromo pertama kali terbit, tantangannya masih sederhana. Bagaimana menghadirkan berita secara cepat (tidak basi) dan terlengkap kepada pembacanya. Untuk menarik pembaca, dilengkapi foto dan desain grafis yang estetik.

Baca Juga: Di Balik Ujung Pena yang Lebih Tajam dari Bayonet: Refleksi 27 Tahun Radar Bromo

Namun, saat ini tantangannya lebih kompleks. Hadirnya media sosial dan akal imitasi (AI), membuat lanskap media berubah. Kecepatan menjadi yang utama. Kecepatan adalah segalanya.  Kecepatan menjadi tuhan baru dalam dunia jurnalistik.

Sementara konten bukan lagi yang utama. Yang dikejar semata klik bait untuk menaikkan trafik.

Karena itu, jika ukuran keberhasilan sebuah media dalam menyajikan berita soal kecepatan, saat ini sudah ketinggalan. Kalah telak dengan medsos dan AI. Termasuk citizen journalism.

Mereka bisa menyampaikan informasi langsung dari tempat kejadian saat peristiwa terjadi. Lengkap dengan foto dan videonya. 

Namun, jurnalisme bukan sekedar kecepatan. Tapi ada yang tidak bisa tergantikan. Ada tahapan yang hanya bisa dilakukan seorang wartawan dalam membuat berita tepercaya.

Mulai klarifikasi, verifikasi, dan konfirmasi. Termasuk independensi dan keberanian dalam menyampaikan fakta.

Karena itu, saat ini persoalannya bukan hanya pergeseran dari media cetak ke digital. Tapi lebih pada nilai berita.

Jika dulu tergetnya menjual berita. Sekarang sudah tidak laku. Karena berita tersedia gratis di mana-mana. Dulu masyarakat membeli koran untuk mengetahui sebuah peristiwa. Kini tinggal buka gadget sudah bisa mengakses berita.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh media? Apa yang mau dijual kepada pembaca?  Apa yang membuat masyarakat masih mau membaca sebuah media? Tentu bukan karena aplikasinya. Bukan juga soal medianya, cetak atau digital?

Tapi, yang membuat media masih dibaca saat ini adalah: TRUST. Kepercayaan pembaca kepada media.

Karena sejatinya, kepercayaan tidak bisa diganti dengan teknologi secanggih apapun. Karena kepercayaan dibangun dari konsitensi, integritas dan komitmen serta keberanian menjadi etika jurnalistik dalam waktu yang panjang.

Dalam konteks ini, Radar Bromo bukan lagi sekadar perusahaan koran. Bukan pula sekadar portal berita. Bukan juga event organizer (EO).

Radar Bromo harus menjadi institusi kepercayaan masyarakat. Menjadi reference newspaper. Menjadi rujukan bagi stakeholders. Menjadi checker bagi masyarakat untuk menilai berita ini hoaks atau tidak. 

Radar Bromo menjadi ruang dialog antarmasyarakat, pemerintah, dunia usaha, akademisi dan komunitas. Menjadi media yang di awal berdirinya sebagai pengawal demokrasi di daerah. Tidak hanya memberitakan sebuah persoalan, tapi juga memberi solusi atas masalah yang ada.

Di sinilah kekuatan Radar Bromo sebagai media lokal. Media nasional bisa memberitakan persoalan Indonesia dan global. Tapi tidak bisa memberitakan perkembangan Kota/ Kabupaten Probolinggo/ Pasuruan. Tidak bisa menggambarkan denyut nadi aktivitas masyarakat desa.

Hanya Radar Bromo yang bisa menceritakan perjuangan para nelayan saat paceklik di daerah pesisir Probolinggo dan Pasuruan. Merasakan geliat UMKM di saat krisis. Melihat pendidikan di pelosok desa dan merasakan pelayanan publik di masyarakat. 

Dua puluh tujuh tahun berinteraksi secara langsung dengan masyarakat, menjadi modal untuk mengetahui apa yang dirasakan masyarakat. Semua ini tidak bisa digantikan dengan algoritma. Tidak bisa diproduksi dengan kecerdasan buatan.

Itu semua lahir dari hadirnya wartawan secara langsung di tengah-tengah masyarakat. Memotret dan merasakan langsung kejadian di lapangan.

Karena itu, masa depan Radar Bromo tidak ditentukan oleh seberapa banyak berita yang dipublikasikan setiap hari. Tetapi oleh seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dari setiap berita yang diterbitkan. Seberapa banyak memberi solusi dalam setiap masalah yang dihadapi masyarakat. 

Sebagai perusahaan bisnis, Radar Bromo juga menghadapi perubahan model bisnis media. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, pergeseran belanja ke platform digital, serta perubahan perilaku pembaca, mengharuskan berpikir kreatif.

Tidak bisa lagi menggantungkan kepada sumber pendapatan konvensional. Tapi harus mencari sumber lain.

Radar Bromo dengan divisi Event Organizer-nya, menjadikan salah satu solusinya. Dengan menggandeng pihak pemerintah dan swasta, menggelar event-event baik skala lokal, regional dan nasional.

Karena itu, di usia ke-27, Radar Bromo terus menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Bukan lagi hanya mencetak koran. Tapi bagaimana memberikan solusi kepada masyarakat. Menjadi media yang tepercaya dalam menyajikan setiap informasi. 

Menjadi media yang hadir ketika masyarakat membutuhkan informasi yang benar. Ketika pemerintah membutuhkan kritik yang konstruktif. Ketika dunia usaha membutuhkan ruang kolaborasi, dan ketika generasi muda membutuhkan inspirasi.

Bukan sekadar menjadi saksi sejarah. Tapi menjadi bagian dari sejarah itu sendiri.

Zaman boleh berubah. Suatu saat koran Radar Bromo mungkin sudah tidak ada. Platform digital akan berganti. Algoritma terus berkembang.

Namun ada satu hal yang tidak akan berubah sejak pers lahir pertama kali, yakni manusia membutuhkan informasi yang benar dan dipercaya. Karena itu, masa depan media bukan ditentukan kecanggihan teknologi. Tapi oleh kualitas kepercayaan.

Karena itu, menjadi keharusan menjaga integritas, berpihak pada kepentingan publik, membuka ruang dialog, serta terus beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai jurnalistik.

Maka, usia ke-27 bukanlah penanda bahwa Radar Bromo telah bertahan dari perkembangan zaman. Tapi menjadi penanda bahwa Radar Bromo sebagai institusi kepercayaan sedang tumbuh.

Karena pada akhirnya, koran bisa berubah bentuk. Platform bisa berganti nama. Tetapi kepercayaan akan selalu menemukan rumahnya. Dan, rumah itu tetap bernama: Radar Bromo. (*)

Editor : Muhammad Fahmi
jawa pos radar bromo refleksi berita media massa Trusted