Oleh: Dr. H. Agus Lithanta, S.Pd.,M.Pd.
"Saya lebih takut menghadapi tiga surat kabar daripada seribu ujung bayonet."
“Siapa yang menguasai media akan menguasai dunia.” -Napoleon Bonaparte
Kalimat legendaris Napoleon Bonaparte ini bukan sekadar retorika perang di abad ke-19. Ia adalah pengakuan abadi tentang kekuatan sejati yang mampu mengguncang tahta dan membentuk peradaban.
Di era di mana informasi mengalir deras bagaikan banjir bandang, peringatan Napoleon terasa semakin relevan—bahkan mungkin lebih mendesak.
Hari ini, saat Jawa Pos Radar Bromo genap berusia 27 tahun, kita tidak hanya merayakan bertambahnya angka usia sebuah media. Namun, juga memperingati ketahanan "ujung pena" yang telah lama menjadi penjaga gawang demokrasi dan penyampai aspirasi rakyat di lereng Gunung Bromo serta sekitarnya.
Baca Juga: Agus Lithanta: Sosok ASN, Pegiat Sosial, Seniman, dan Penggerak Literasi di Probolinggo
Selamat Ulang Tahun ke-27, Radar Bromo. Dua puluh enam tahun bukanlah waktu yang singkat dalam lanskap pers daerah. Ia adalah seperempat abad penuh liku-liku, di mana Radar Bromo telah membuktikan bahwa ketakutan Napoleon itu beralasan.
Media cetak, khususnya pers lokal seperti Radar Bromo, memegang peranan yang tak tergantikan. Ia adalah mata yang melihat detil-detil kecil yang sering luput dari sorotan kamera nasional.
Juga telinga yang mendengar bisikan-bisikan warga desa yang tak terdengar di ruang parlemen. Dan suara yang mengingatkan penguasa bahwa kekuasaan mereka berasal dari mandat rakyat, bukan dari kesewenang-wenangan.
Namun, ungkapan "siapa yang menguasai media akan menguasai dunia" harus dibaca dengan kacamata tanggung jawab, bukan ambisi dominasi.
Dalam konteks Radar Bromo, menguasai berarti menguasai kepercayaan publik. Kepercayaan inilah mata uang paling berharga yang nilainya jauh melebihi sirkulasi atau iklan.
Ketika Napoleon takut pada surat kabar, ia sebenarnya takut pada akuntabilitas. Media massa memiliki kemampuan luar biasa untuk memengaruhi cara pandang masyarakat, mengontrol kekuasaan, bahkan menjatuhkan figur atau lembaga yang menyimpang.
Tetapi kekuatan ini ibarat pedang bermata dua. Jika digunakan untuk mencerahkan, ia membangun peradaban; jika disalahgunakan untuk memanipulasi, ia menghancurkan fondasi sosial.
Radar Bromo di usianya yang ke-27, membawa kewajiban publik yang berat namun mulia. Yaitu menyuguhkan hal penting menjadi menarik.
Ini adalah seni jurnalistik tingkat tinggi. Bukan berarti mendangkalkan isu serius demi klik atau penjualan. Melainkan menerjemahkan kompleksitas kebijakan, dinamika sosial, dan aspirasi masyarakat ke dalam bahasa yang manusiawi, mudah dipahami, namun tetap tajam dan berintegritas.
Menyuguhkan hal penting menjadi menarik adalah bentuk penghormatan terhadap waktu dan kecerdasan pembaca.
Itu adalah cara.media berkata: "Kamu berhak tahu, dan kami akan memastikan kamu mengerti."
Di tengah gempuran media digital yang sering kali mengorbankan kedalaman demi kecepatan, kehadiran Radar Bromo yang konsisten selama 27 tahun adalah oase.
Ia mengingatkan kita bahwa jurnalisme berkualitas bukan tentang siapa yang paling dulu memposting. Namun, siapa yang paling akurat, paling berimbang, dan paling berani menyajikan kebenaran meski pahit.
Ujung pena jurnalis Radar Bromo, meski tak berbunyi denting logam seperti bayonet, memiliki daya tembus yang jauh lebih dalam. Ia menembus dinding ketidakpedulian, menusuk selubung korupsi, dan membuka jalan bagi harapan-harapan baru.
Kepada seluruh insan pers Radar Bromo, dari pendiri hingga generasi muda yang kini memegang estafet: teruslah menjadi "tiga surat kabar" yang ditakuti oleh ketidakadilan, tapi dicintai oleh rakyat. Jadilah media yang tidak hanya memberitakan peristiwa, tetapi juga membentuk karakter bangsa.
Karena pada akhirnya, warisan terhebat sebuah media bukanlah seberapa banyak edisi yang terbit. Melainkan seberapa banyak keadilan yang terselamatkan dan seberapa banyak suara rakyat yang menemukan rumahnya di antara baris-baris tulisanmu.
Selamat Milad ke-27 Radar Bromo. Teruslah mencerdaskan dan membangun karakter bangsa melalui tulisan dan informasimu. Tetaplah tajam, tetaplah jujur, dan tetaplah menjadi cahaya di tengah kabut ketidakpastian karakter bangsa yang tercerabut dari akar akhlak mulianya.
Sebab selama masih ada ketidakadilan yang perlu dilawan dan kebenaran yang perlu disampaikan, ujung penamu akan selalu lebih perkasa daripada seribu bayonet mana pun.
Opini ini saya tutup dengan ungkapan Napoleon,“There are but two powers in the world, the sword and the mind. In the long run the sword is always beaten by the mind.”
(Hanya ada dua kekuatan di dunia ini, pedang dan pemikiran. Dalam jangka panjang, pedang selalu dikalahkan oleh pemikiran). Selamat mengabdi pada Ilahi lewat tulisan dan karya sejati!!! (*)
*) Ketua Kolumnis Bromo Pro Litera, Peraih Radar Bromo Award Kategori Seniman, Pegiat Sosial, dan Penggerak Literasi
Editor : Muhammad Fahmi