Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Puasa: Menghadirkan Ruang Perenungan Kolektif

radar bromo • Minggu, 22 Februari 2026 | 21:20 WIB

 

Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.
 

Alhamdulillah, tahun ini berjumpa lagi dengan Ramadhan dan bisa menunaikan ibadah puasa kembali. Bertemu dengan Ramadhan dan bisa berpuasa adalah sebuah kebahagiaan.

Memaknai puasa secara sederhana adalah menahan dari lapar dan dahaga. Namun, lebih dalam tentang makna puasa adalah sebuah pencapaian kesempurnaan hakikat kemanusiaan yakni ketaqwaan.

Makna dan tujuan puasa sebagaimana Alquran dalam Surat Al Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan bagi orang beriman agar bertaqwa. Ini artinya bahwa puasa merupakan proses dan ikhtiar untuk memperbaiki diri. Baik lahir maupun batin yang berdampak pula terhadap kesalehan sosial.

Ayat ini menegaskan taqwa sebagai orientasi puasa. Taqwa bukan hanya kesalehan individual yang hanya berdampak kepada dirinya, akan tetapi juga kesadaran moral yang berdampak sosial.

Orang yang bertaqwa akan menjaga lisannya ¾ di era media sosial menjaga jemarinya, menahan amarahnya, serta bertindak terukur dan terkendali. Apabila nilai ini tumbuh sebagai kesadaran kolektif, maka puasa menjadi fondasi etika publik—mengurangi konflik, menumbuhkan empati, dan memperkuat harmoni sosial.

Ritualitas puasa dalam Islam dimaknai bukan sebatas ibadah ritual yang bersifat individual. Melainkan juga momentum spiritual yang menghadirkan ruang perenungan kolektif.

Ramadan yang identik dengan ibadah puasa mengajak umat untuk recharge ruhani dengan berhenti sejenak dari hiruk pikuk rutinitas duniawi, mengisi ulang orientasi hidup, serta merefleksikan kondisi sosial di sekitarnya. Waktu sebulan Ramadhan sebagai ruang refleksi bersama atas nilai-nilai kesucian: keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.

Perenungan kolektif ini diperlukan di tengah tantangan masyarakat modern yang sering terjebak dalam polarisasi, disinformasi, dan kesenjangan sosial.

Puasa Melatih Empati

Puasa juga sarana melatih empati. Menahan lapar dan dahaga bukan sekadar ujian fisik, tetapi juga menempa batin agar merasakan hal yang sama dialami oleh saudara-saudara dengan keterbatasan sosial ekonomi.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Al-Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa dengan berpuasa harus melahirkan transformasi moral.

Ia tidak berhenti pada menahan lapar, tetapi menuntut perubahan sikap sosial—meninggalkan kemungkaran, hoaks, ujaran kebencian, dan keburukan-keburukan lainnya. Puasa juga sebagai benteng yang dapat menahan, sekaligus melindungi manusia dari perilaku destruktif, baik secara individu maupun sosial. Jika kesadaran ini tumbuh secara kolektif, maka masyarakat akan mampu menahan segalabentuk provokasi, konflik, dan ketidakadilan.

Alquran juga menegaskan dimensi sosial dari ketaqwaan: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan shalat, menunaikan zakat, menepati janji apabila berjanji, sabar dalamkemelaratam, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 177).

Lagi-lagi ayat ini menegaskan bahwa sejatinya amal kebajikan akan melahirkan kesempurnaan kemanusiaan berupa ketaqwaan sebagaimana halnya kebaikan puasa. Di mana puasa terutama di dalam bulan Ramadhan berkorelasi antara kesalehan spiritual dengan kepedulian sosial.

Maka tidak heran jika Ramadan menjadi bulan zakat, infak, sedekah dan amal-amal sosial lainnya. Empati dan simpati yang tumbuh selama puasa menunjukkan bahwa ibadah ini memiliki dampak sosial yang nyata.

Dalam konteks kehidupan masyarakat majemuk—puasa dapat menjadi ruang dialog, memperkuat silaturahmi dengan tradisi josonjo (dalam tradisi Madura), serta meneguhkan persaudaraan lintas kelompok. Puasa dan Ramadhan menghadirkan atmosfer moral yang menggugah muhasabah kolektif: sudahkah kita berbuat adil? Sudahkah kita menjaga amanah? (Sebagai pemimpin) Sudahkah kebijakan publik berpihak pada yang lemah?

Oleh karena itu, puasa adalah ruang sunyi yang dapat melahirkan kesadaran kolektif. Bahwa perubahan besar selalu bermula dari pengendalian diri dan kesucian hati dengan melaksanakan ritual puasa secara istiqamah.

Apabila puasa nilai-nilai puasa —  takwa, keadilan, empati, kejujuran, dan solidaritas—diinternalisasi secara kolektif sebagai sebuah kesadaran kolektif, maka puasa terutama di bulan ramadan bukan hanya sekedar ritual tahunan. Melainkan fondasi etis bagi terwujudnya masyarakat yang religius, harmonis, dan bermartabat. (*)

Oleh: Dr. H. Ahmad Hudri, ST., MAP.

*) Ketua FKUB/ Wakil Ketua Umum MUI Kota Probolinggo

 

 

Editor : Muhammad Fahmi
#ruang #perenungan #modern #kolektif #puasa