STUNTING atau pertumbuhan terhambat pada anak merupakan masalah kesehatan yang seringkali tidak mendapat perhatian yang cukup di masyarakat. Menurut data dari World Health Organization (WHO), lebih dari 149 juta anak di seluruh dunia mengalami stunting pada tahun 2021.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2020, lebih dari 27 persen anak di Indonesia mengalami stunting. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak tantangan yang harus diatasi dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting di Indonesia. Padahal, stunting dapat berdampak besar pada kualitas hidup anak dan potensi kerugian ekonomi di masa depan.
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI menerangkan, angka stunting hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 mengalami penurunan sebesar 2,8 persen. Dibandingkan dengan tahun 2021.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, stunting merupakan masalah kesehatan yang seringkali tidak mendapat perhatian yang cukup di masyarakat. Faktanya, banyak jurnal penelitian menyebutkan prevalensi stunting pada anak-anak di pedesaan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak di perkotaan.
Kurangnya pengetahuan mengenai gizi yang sehat merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan prevalensi stunting yang tinggi di pedesaan. Terutama pada ibu yang menikah pada usia muda. Selain itu, fasilitas kesehatan di pedesaan seringkali terbatas. Sehingga, akses terhadap layanan kesehatan seperti imunisasi dan pemeriksaan kesehatan bayi sulit diakses.
Pandangan masyarakat pedesaan terhadap stunting sendiri dapat bervariasi. Tergantung pada tingkat pendidikan dan pemahaman mengenai kesehatan dan gizi.
Beberapa masyarakat menganggap stunting sebagai kondisi yang umum terjadi pada anak-anak. Padahal, stunting tidak bisa dianggap sebagai hal yang wajar. Sebab, stunting adalah masalah kesehatan yang serius dan dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak.
Beberapa masyarakat pedesaan masih percaya bahwa stunting disebabkan oleh faktor keturunan atau nasib. Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya pemahaman mengenai faktor-faktor risiko stunting seperti kurang gizi, kurangnya akses terhadap air bersih, sanitasi yang buruk, serta lingkungan yang tidak sehat.
Apabila dilirik dari sisi kesehatan, stunting memiliki efek jangka panjang yang dapat memengaruhi kemampuan kognitif seseorang. Jika kemampuan kognitif seorang anak menurun, maka kualitas SDM di masa yang akan datang juga akan menurun.
Dilihat dari sisi ekonomi, stunting dapat menyebabkan kerugian ekonomi jangka panjang bagi suatu negara. Anak yang mengalami stunting biasanya akan memiliki produktivitas yang rendah saat dewasa dan berisiko mengalami pengangguran.
Menurut laporan Global Nutrition Report 2020, stunting dapat menyebabkan kerugian ekonomi sebesar USD 8,4 triliun pada tahun 2030.
Sedangkan, jika dilihat dari sisi politik sendiri, stunting dapat menjadi masalah yang kompleks karena penyebab stunting seringkali berasal dari berbagai faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Selain itu, stunting dapat menjadi isu politik karena memengaruhi kemampuan suatu negara untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan, seperti target penanggulangan kemiskinan dan pencapaian kesehatan masyarakat yang lebih baik.
Oleh karena itu, kurangnya informasi dan pengetahuan mengenai stunting dan cara pengasuhan anak dapat memicu meningkatkan prevalensi stunting. Sehingga, penting diperlukan peran pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat dalam mengatasi masalah stunting pada anak.
Pemerintah dapat berperan dalam memberikan dukungan dan fasilitas yang memadai bagi masyarakat dalam upaya pencegahan stunting pada anak, seperti program gizi buruk dan pendampingan gizi anak.
Selain itu, lembaga swadaya masyarakat juga dapat berperan dalam memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai pencegahan stunting pada anak kepada masyarakat.
Namun, tidak hanya pemerintah dan lembaga swadaya, peran masyarakat sendiri juga tidak kalah penting. Kita juga dapat berperan dalam menyuarakan pentingnya pencegahan stunting pada anak kepada keluarga, teman, dan masyarakat sekitar.
Hal ini dapat dilakukan dengan mengedukasi masyarakat mengenai dampak dari stunting pada anak, serta memberikan informasi mengenai cara mencegah dan mengatasi stunting.
Namun, sebelum menyuarakan edukasi stunting, kita harus merefleksikan apakah makanan yang kita makan telah bergizi dan terhindar dari permasalahan stunting. Karena untuk mencapai Indonesia sehat dan bahagia, berawal dari kita. (*) Editor : Jawanto Arifin