ANAK-anak kita tumbuh dalam ”asuhan” perangkat digital. Mereka tidak bisa lagi hidup tanpa internet. Beragam perangkat teknologi digital itu menyuplai asupan informasi. Contoh, model, teladan, dan panutan. Juga, pengalaman yang mungkin berbeda dari dunia nyata. Sering tanpa perimbangan pengasuhan yang sehat di dalam keluarga.
Maka, jangan heran apabila remaja yang sebelumnya terlihat baik-baik saja mendadak jadi brutal. Kriminal. Sadistis. Contohnya seorang santri ponpes yang membakar juniornya di Pandaan. Tidak ada yang menduga. Remaja 16 tahun itu menyiapkan bensin dalam botol. Menyiramkan ke tubuh juniornya. Lalu, menyulut korek api. Tewaslah bocah 13 tahun itu dengan tubuh terluka bakar sampai 70 persen.
Apa pemicunya? Pelaku menuduh korban mencuri uang. Lalu, meluapkan kekesalan dengan sadis. Yang entah ditirunya dari siapa perbuatan kejam itu. Hakim pun memutuskan hukuman 5 tahun. Hukuman itu lebih tepat untuk perbuatannya, bukan diri pribadi remajanya. Agar muncul efek jera para remaja lain. Sebab, pelaku masih punya masa depan. Dia berhak didampingi dan dipulihkan mentalnya.
Itu tragedi awal tahun 2023 lalu.
Kamis siang, 2 Maret, kita dibuat mengelus dada lagi. Seorang pelajar SMP dikeroyok empat orang. Dihajar ala smack down dalam pertarungan bebas. Videonya menyebar liar. Dari sebuah warung kopi di Desa Lumbangrejo, Kecamatan Prigen. Si korban, bocah 15 tahun itu, tampak tidak melawan sama sekali.
Dia sendirian. Dihajar habis. Sebaliknya, pelaku terlihat brutal. Memukul, menendang, membanting. Hingga sekujur tubuh korban luka-luka. Adegan kekerasan itu sengaja direkam. Dan, tersebar luas sore harinya.
Mengapa sampai dihajar sesadis itu? Ternyata korban tidak mau masuk grup WA para pelaku. Grup sejenis gang remaja. Sebelum ”dihakimi” ala gerombolan jalanan, korban mengalami perundungan (bullying). Diancam, ditakut-takuti, diintimidasi.
Ya. Bullying ini telah menjadi ombak besar. Menelan banyak korban. Perundungan subur terjadi di dunia nyata maupun dunia maya (bullying dan cyberbullying). Yang awalnya terjadi di media sosial bisa berlanjut dalam interaksi keseharian.
Beragam pula bentuknya. Ada bullying fisik. Seperti meludahi, menampar, memukul, menendang, memalak. Bullying juga sering dilakukan secara verbal. Mengumpat, mengejek, mengancam, mempermalukan, bahkan mengucapkan kata-kata hinaan terhadap pribadi, suku, maupun keluarga. Bullying bisa pula diwujudkan dalam ”serangan diam-diam”. Misalnya, mengucilkan, mendiskriminasi, memandang hina korban.
Bayangkan dampaknya jika ketiga-tiganya dilakukan! Betapa korban terluka. Secara fisik, psikis, maupun kehormatannya. Seorang bocah SD di Banyuwangi sampai gantung diri di dapur. Gegara sering dihina tidak punya ayah. Anak yatim yang butuh kasih sayang justru menjadi bahan cemoohan. Dia di-bully hingga depresi.
Perlu diingat. Bullying bukanlah candaan. Perundungan merupakan candaan yang tidak lucu, tidak keren, tidak kekinian, dan tidak smart. Remaja yang keren pasti punya gaya bercanda yang beretika. Humor yang cerdas.
Fenomena bullying ini sudah harus diseriusi. Tindakan perundungan ini menyimpan bahayanya sendiri. Para pelaku sering tidak sadar. Mereka telah melakukan tindakan yang antisosial. Kenakalan remaja (juvenile delinquency) sampai pelanggaran norma-norma hukum (misconduct behaviour). Perilaku ini diulang-ulang. Baik secara individu maupun berkelompok. Menindas dengan perasaan memiliki kekuatan.
Di pihak korban, luka yang ditimbulkan bisa berdampak jangka panjang. Jiwanya terkoyak. Anak menjadi pendiam. Malu. Menutup diri. Stress. Depresi. Bahkan, sampai nekat mengakhiri hidup. Atau, pada suatu saat, dia akan membalas perilaku bullying itu terhadap orang lain yang dianggapnya lebih lemah.
Seorang pemerhati perkembangan anak di Amerika Serikat, Duane Alexander, berpendapat bahwa pelaku dan korban bullying sejatinya sama-sama korban. Keduanya terdampak persoalan psikologis. Jadi, sama-sama harus ditangani.
Besar kemungkinan korban bullying semasa kecil menderita depresi. Kurang percaya diri saat dewasa. Pelaku bullying juga sangat mungkin akan terlibat dalam tindakan kriminal di kemudian hari. Konseling dari psikiater dan perhatian orang-orang terdekat sangat mereka perlukan.
Buat mereka bahagia. Pertama, menumbuhkan kesadaran remaja untuk menjadi pribadi yang baik. Dengan memiliki kematangan karakter (maturity of character). Kedua, menciptakan hubungan saling cinta (loving relationship) di antara keluarga. Ketiga, menghargai beragam perbedaan. Hidup berdampingan dengan yang lain tanpa diskriminasi dan intoleransi. Dengan ketiga nilai-nilai tersebut, para remaja akan merasa bermanfaat bagi lingkungan.
Peristiwa di Jakarta pantas menjadi pelajaran. Seorang putra pejabat pajak menganiaya remaja lain. Semena-mena. Korban menderita pendarahan otak. Koma berhari-hari. Pelakunya berkendaraan mewah. Pamer mobil dan motor gede.
Anak dimanja cuma dengan kemewahan. Mencari pengakuan sosial tidak lewat raihan prestasi, tapi dengan harta keluarga. Suatu saat anak-anak seperti itu bisa menjelma menjadi sumber malapetaka. Merusak diri sendiri. Menghancurkan karir serta martabat orang tua. (*)
*Jurnalis tinggal di Pasuruan Editor : Jawanto Arifin