DALAM beberapa waktu terakhir Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya, ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan pernyataan menarik dalam sambutannya. Konteks ketika itu Gus Yahya sedang memberikan sambutan dalam salah satu acara NU dan objek dari pernyataan beliau adalah Fatayat dan Muslimat, salah satu banom perempuan dalam tubuh NU.
Mengapa menarik? sependek pengamatan penulis pernyataan Gus Yahya dikatakan menarik atau kalau boleh disebut kontroversial, meskipun nanti penyematan kontroversial ini perlu ditinjau kembali. Tapi, setidaknya pernyataan itu menarik karena mengubah mindset atau pandangan orang banyak terhadap NU. Yang semula publik melihat NU demikian, namun ternyata kok tidak demikian. Bagaimana maksudnya, berikut penulis paparkan.
Pertama, sebelumnya penulis hendak mengatakan bahwa NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Oleh karena terbesar, maka setiap hal yang berkaitan dengan NU pasti menjadi perbincangan banyak orang. Apalagi yang berbicara dalam hal ini adalah Gus Yahya yang saat ini menjabat Ketua Umum PBNU.
Maka sudah menjadi hal yang lumrah bila setiap pernyataan Gus Yahya menjadi perhatian publik. Untuk lebih jelasnya, akan saya kutip pernyataan beliau secara tekstual, agar tidak terjadi penambahan, pengurangan, atau sejenisnya yang mengakibatkan keburaman makna.
Ada sebuah pandangan dari sebagian kalangan, atau yang saya sebut mindset di awal tadi, yang mengatakan bahwa NU dalam kepemimpinan Gus Yahya lebih dekat pada aliran liberal. Meski tidak dikatakan, tapi pandangan ini ada dalam pikiran publik.
NU dalam kepemimpinan Gus Yahya dipahami oleh sebagian kalangan akan menjadi organisasi yang lebih terbuka dalam isu kemanusian, keagamaan, sosial, dan lainnya, termasuk isu gender. Namun ternyata, mindset publik tersebut terpatahkan oleh pernyataan Gus Yahya tadi.
Secara terang-terangan dan tegas Gus Yahya melarang Fatayat dan Muslimat sebagai perwakilan kaum perempuan dalam tubuh NU untuk tidak mengikuti paham ideologi gender. Dari pernyataan tersebut publik seketika shock, seakan ragu akan keterbukaan cara berpikir dan gaya beragama NU. Kok NU jadi begini? Setidaknya pertanyaan seperti itu yang muncul dalam benak publik.
Katanya Gus Yahya murid ideologis Gus Dur, katanya Gus Yahya akan meneruskan perjuangan Gus Dur, menghidupkan kembali Gus Dur. Tapi, mengapa justru mundur ke belakang seakan kembali pada paham yang tertutup. Bukannya Gus Dur menaruh perhatian dan keberpihakan pada perempuan. Akankah Gus Yahya menolak feminisme dan mendukung sistem patriarki? Berbagai macam keresahan muncul seketika.
Tapi pemahaman atau tafsir lainnya juga mungkin dihadirkan, semisal begini, justru itulah yang Gus Yahya warisi dari seorang Gus Dur. Itulah yang dimaksud Gus Dur sebagai wujud keberpihakan terhadap perempuan.
Dengan kata lain, sikap seperti itulah yang seharusnya NU lakukan. Yaitu, sikap yang Gus Yahya serukan pada Fatayat dan Muslimat dalam sambutan tadi. Itulah wasatiyya NU, kira-kira begitu.
Lalu bagaimana yang benar? Apa sebenarnya yang dimaksud oleh Gus Yahya? Bagaimana sebenarnya NU menyikapi isu gender dan paham feminisme? Gus Yahya hendak menolak paham feminism atau bagaimana?
Alhasil, beragam tafsir muncul karena pernyataan Gus Yahya. Dari sinilah penulis memberanikan diri mengatakan bahwa pernyataan Gus Yahya itu kontroversial. Tapi itulah NU, bukan NU namanya kalau tidak kontroversial. Nukan ketua NU namanya kalau pernyataannya tidak mengundang banyak komentar.
Dan Gus Dur dahulu pun demikian, sebelum pemahaman Gus Dur diterima banyak orang, Gus Dur menerima banyak kritikan. Baik dari internal NU, ataupun luar NU. Tujuan tulisan ini adalah untuk memahami pernyataan Gus Yahya secara objektif (diusahakan), melalui dua pendekatan.
Pendekatan pertama adalah pembacaan utuh terhadap paham feminisme, baik sejarah dan macam-macamnya. Pendekatan kedua adalah cara berpikir kaum NU atau epistemologi apa yang NU gunakan dalam merespon setiap persoalan.
Dari dua pendekatan itu setidaknya tulisan ini hendak menjawab dua hal. Satu, apa saja dan bagaimana itu paham feminisme? Kedua, bagaimana alur berpikir kaum nahdliyyin (sebutan bagi kaum NU) dalam menyikapi setiap persoalan, termasuk paham feminisme. Mari kita bahas satu-satu secara perlahan.
Paham Feminisme dalam Sejarah
Dalam salah satu pengertian dijelaskan bahwa Feminisme adalah ideologi yang dikampanyekan oleh Barat untuk memperjuangkan persamaan antara dua jenis manusia yaitu laki-laki dan perempuan. Tujuan mereka adalah untuk membebaskan perempuan dari genggaman agama, budaya, dan struktur kehidupan sosial.
Namun pengertian ini masih belum utuh. Selanjutnya ada banyak sekali macam paham feminisme dengan masing-masing karakter dan latar belakang kejadiannya. Masing-masing aliran memiliki asbabun nuzul-nya sendiri. Secara umum dapat dijelaskan pertama adalah aliran feminisme liberal, yaitu pandangan yang menempatkan perempuan dalam kekuatan penuh dan individual.
Feminisme liberal hendak mengatakan bahwa perempuan haruslah kuat dan mempersiapkan diri dalam persaingan bebas dan setara dengan laki-laki. Paham feminis liberal ini lahir dalam konteks budaya Amerika yang materialistis, segala sesuatu diukur berdasarkan materi. Jadi lewat paham ini perempuan digiring untuk keluar rumah, berkarier bebas, dan sama sekali tidak bergantung pada laki-laki.
Kedua adalah feminisme radikal, paham ini muncul pada pertengahan tahun 70-an ketika ideologi perjuangan separatism perempuan gencar digalakkan. Secara historis aliran ini muncul sebagai reaksi atas dominasi sosial yang berdasarkan pada jenis kelamin di Barat sana.
Pada saat itu ramai terjadi kekerasan seksual terhadap perempuan dan industri pornografi ramai diperdagangkan. Karena latar belakang itu, maka perempuan lewat paham ini digerakkan untuk melawan secara radikal. Oleh karenanya kemudian disebut dengan feminisme radikal.
Ketiga feminism post-modern, paham ini beranggapan bahwa gender tidak bermakna identitas dan struktur sosial. Aliran ini menganut paham antiabsolut dan antiotoritas.
Keempat adalah feminisme anarkis yang berangkat dari konteks politik dan melihat negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang secepatnya harus dilawan. Kelima adalah feminism sosialis, paham ini mengatakan bahwa tidak ada sosialisme tanpa kebebasan perempuan. Aliran ini menghapus kepemilikan laki-laki atas perempuan, terinspirasi ide Karl Marx aliran juga menginginkan terbentuknya masyarakat tanpa kelas.
Epistemologi Kaum Nahdliyyin
Lewat gambaran singkat di atas bisa dipahami apa dan bagaimana aliran feminisme Barat dengan berbagai latar belakang kejadiannya. Gus Yahya, dalam hal ini menurut penulis hendak mengatakan bahwa kita tidak sama dengan mereka.
Oleh karena kita tidak sama dengan mereka, maka tidak usah kita meniru cara berpikir mereka. Kita berbeda dan kita harus punya cara berpikir sendiri. Itulah yang hendak Gus Yahya katakan. Jadi tidak tepat mengatakan bahwa Gus Yahya adalah seorang yang misoginis dan terbelakang. Justru Gus Yahya sangat memperjuangkan hak-hak perempuan dengan menciptakan hal baru yang orisinil milik kita, tradisi kita.
Gus Yahya justru menaruh begitu banyak perempuan sebagai kaum perubahan dalam kepengurusan NU sekarang, yang tidak pernah sebanyak itu sebelumnya. Yang membedakan feminisme ala Gus Yahya adalah feminisme yang memperjuangkan hak perempuan dengan menaruh perhatian pada kemampuan dan kapasitas perempuan itu sendiri. Bukan dengan membenturkan dua identitas yang sejak awal memang berbeda dan tidak perlu disamakan, yaitu laki-laki dan perempuan.
Dalam hal ini bukanlah jenis kelamin yang dipermasalahkan sehingga harus dibenturkan. Tapi, penekananya adalah pada kapasitas dan kemampuan dari masing-masing laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain, meskipun laki-laki tapi kemampuan dan kapasitasnya kalah dengan perempuan, maka perempuan yang memiliki kemampuan lebihlah yang perlu digunakan, begitupun sebaliknya.
Dan begitulah seharusnya kaum nahdliyyin berpikir. Merespon problematika kekinian dengan tetap menggunakan tradisi klasik (turats) yang dimiliki. Namun, pada saat yang sama juga tidak menutup mata pada pemikiran yang berkembang. Semua itu digunakan untuk menjawab tantangan zaman.
Dari situlah kemudian kaum nahdliyyin dikenal sebagai kaum Post-Tradisonalisme Islam. Itulah yang penulis sebut sebagai Epistemologi kaum Nahdliyyin.
Bagi pribadi penulis, sikap Gus Yahya adalah sikap yang seharusnya dilakukan oleh kaum nahdliyyin. Bagi penulis pernyataan Gus Yahya adalah pernyataan yang elegan, berani, dan menggambarkan sosok ketua yang patut menjadi contoh bagi kaum nahdliyyin lainnya. Dalam pandangan penulis Gus Yahya hendak mengajak kaum nahdliyyin untuk menggunakan akar sendiri dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Nahdlatul Ulama memiliki warisan epistemologi yang telah menjadi warisan turun temurun yaitu ahlus sunnah wa al-jamaah al-nahdliyyah. Sekian. Wallahu a’lam bis shawab. (*)
*) Penulis adalah Warga NU yang saat ini menempuh pendidikan pascasarjana di UIII Depok Editor : Jawanto Arifin