”Lha nggih, Pak. Biasane bayar Rp 30 ribu sebulan. Saiki Rp 81 ribu. Apa nggak bingung,” ungkapnya. Pasar sedang sepi. Lebih-lebih tarif baru terasa mendadak. Tahu-tahu berlaku mulai Januari.
Selasa sore (3/1), bertemulah saya dengan komunitas penghobi sepak bola. Keluhan sama terdengar di Stadion Untung Suropati. Biaya sewa lapangan naik dari Rp 200 ribu menjadi Rp 300 ribu per jam. Kamis (5/1), juga muncul kabar tentang kenaikan tarif sewa Lapangan Petahunan, Lapangan Krapyak, Lapangan Wijaya, maupun Lapangan Krampyangan.
Sepekan terakhir, topik tentang kenaikan tarif stan pasar dan lapangan sepak bola itu menjadi bahan bicaraan. Banyak yang nggereneng (nggremeng). Mau protes tidak berani. Ingin mengadu, tapi tidak tahu harus wadul ke siapa. Wong rata-rata juga barusan ngerti. Belum dapat sosialisasi.
Fenomena grenengan seperti itu pernah diangkat oleh (alm) sastrawan Budi Darma. Bukunya berjudul Solilokui. Dalam karya sastra, solilokui diartikan sebagai bentuk wacana seorang tokoh dengan dirinya sendiri. Isinya firasat, ungkapan perasaan, atau konflik batin dalam diri si tokoh. Juga, informasi dan nilai-nilai yang diperlukan pembaca atau penikmat sastra.
Isi buku berjudul Solilokui itu, antara lain, menekankan satu hal. Sebuah karya sastra tidak lahir terlepas dari kondisi masyarakatnya. Ibaratnya, pembangunan sebuah kota juga tidak boleh tercerabut dari lingkungannya. Masyarakat harus terlibat. Berpartisipasi dengan hati.
Ketahui, pahami, dalami, dan rangkul warga kota. Jangan sampai solilokui ini justru menjadi tunggangan kepentingan. Jangan-jangan pula para politikus diam-diam juga solilokui di gedung parlemen?
Marilah sedikit menengok perjalanan Kota Surabaya. Tentu perbandingannya tidak apple to apple. Namun, setidaknya ada langkah demi langkah yang bisa dirunut sebagai sebuah romance story pembangunan kota.
Wali Kota Surabaya (2002--2010) Bambang D.H. punya prinsip unik dalam memimpin Metropolis. ”Jika ingin paham mesin kendaraan, bongkar dan pelajari mesinnya. Bila mau mengalahkan kolam yang airnya dingin, terjunlah (ambyurr o) ke dalamnya.” Dia mengatasi persoalan Kota Pahlawan dengan masuk ke jantung masalah.
Pemimpin berlatar belakang pendidik itu membuka gerbang era baru Kota Surabaya. Salah satu kota terbaik di dunia kini. Dicintai oleh 3 juta lebih warganya. Apalagi, penerusnya juga hebat, Wali Kota Tri Rismaharini.
Bambang D.H. setidaknya punya empat kunci fondasi pembangunan kota. Akuntabilitas salah satunya. Penyelenggaraan pemerintahan dipastikan dapat dipertanggungjawabkan. Anggaran, kinerja, etika dan moralitas, serta politik. Keempatnya harus terbuka.
Akuntabilitas menguatkan keberanian untuk bersikap transparan. Pengisian pejabat sedapatnya berasas the right man and the right place. Lelang proyek pemerintah berlangsung online (e-procurement). E-budgeting dilaksanakan serius. Kebijakan pemerintah dibahas terbuka oleh eksekutif maupun legislatif.
Akuntabilitas dan transparansi itu melahirkan kepercayaan (trust). Kepercayaan di internal birokrasi menguat. Respons masyarakat untuk setiap gagasan dan program pemerintah kian positif. Warga kota percaya.
Akuntabilitas, transparansi, dan trust itu akhirnya melahirkan partisipasi. Masyarakat terlibat aktif dalam pembangunan kota. Gotong royong marak di kampung-kampung. Komunitas-komunitas pegiat kebersihan menjamur.
Program Green and Clean bertahun-tahun booming. Birokrasi, DPRD, dunia usaha, media massa, lembaga pendidikan, pengurus RT-RW, aparat keamanan, dan stakeholders lain mendukung. Saling menyukseskan. Pembudayaan (enkulturasi) tentang pentingnya bersama-sama menjaga kebersihan kota berhasil. Sukses.
Bersama Polrestabes Surabaya (saat itu masih polwiltabes), digeber kampanye berupa program Smart Riding dan Responsible Riding. Kampanye tertib lalu lintas bernuansa kompetisi itu bergelimang hadiah. Semarak. Prestise. Enkulturasi berlangsung efektif. Masyarakat bangga bila tertib. Taat aturan. Tindakan represif tidak menjadi pilihan di depan.
Era Wali Kota Bambang D.H. meletakkan fondasi kuat. Bagi era yang lebih dahsyat. Era mayor perempuan pertama di Metropolis Surabaya, Wali Kota Tri Rismaharini (Bu Risma). Surabaya kemudian melesat dan Bu Risma dinobatkan sebagai wali kota terbaik ketiga di dunia versi The City Mayors Foundation.
Wali Kota Tri Rismaharini menjadikan Kota Surabaya sebagai smart city. Ada gebrakan setidaknya dalam enam dimensi. Smart government, smart economy, smart environment, smart living, smart people, dan smart mobility.
Pembenahan birokrasi sudah berjalan sejak masa Bambang D.H. Aparat pemerintah tidak hanya melaksanakan tugas. Menggunakan anggaran untuk program-program yang hasilnya standar. Mereka didorong menjadi pelayan masyarakat. Bekerja keras dan cerdas untuk hasil maksimal. Smart government. Ada yang bisa sampai nangis kalau disidak wali kota.
Di era Bu Risma pula bermunculan pahlawan-pahlawan ekonomi. Pejuang-pejuang muda ikut terjun untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Smart economy. Mereka diapresiasi tinggi-tinggi. Bisnis-bisnis kreatif skala UMKM digalakkan. Emak-emak tidak ketinggalan. Mereka didampingi dengan pelatihan yang komprehensif. Serius, intensif, tidak artifisial.
Untuk smart environment, terlalu banyak cerita heroik Bu Risma. Misalnya, yang ”disulap” tidak hanya lokasi ruang terbuka hijau (RTH). Bekas pembuangan sampah juga menjelma menjadi taman-taman kota nan indah.
Penghuni tempat-tempat kumuh diboyong ke rusunawa. Warga sekitar lokalisasi disadarkan dan didampingi untuk hidup lebih baik dan bermartabat. Lokalisasi Dolly, Kremil, Moroseneng, Kembang Kuning, ditutup. Di sana kemudian ditumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru. Smart living.
Warga Surabaya juga dipintarkan. Mereka dilatih menjadi guide pariwisata kota. Belajar bahasa asing secara gratis di Rumah Bahasa. Pemerintah menyisir sudut-sudut kota untuk memastikan tidak ada anak yang putus sekolah. Para difabel dibekali beragam keterampilan.
Satu ”kunci emas” dari seorang Bu Risma adalah kehadiran sosoknya sebagai leader. Diam di kantor bukanlah gayanya. Selalu tanggap dan gesit. Smart mobility. Di taman kota, di jalan raya, bahkan di dalam got. Saat kebakaran, saat pohon tumbang, saat banjir. Bu Risma selalu hadir. Di mana saja,
Jangankan pejabat dan stafnya. Wartawan saja sering kalah cepet tiba di lokasi peristiwa. Bu Risma seakan ada di mana-mana. (*) Editor : Ronald Fernando