Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Strategi Perbankan BUMN terhadap Ancaman Resesi

Muhammad Fahmi • Senin, 26 Desember 2022 | 21:32 WIB
Photo
Photo
Oleh: Aulinda Dwi Wahyuningsih
Mahasiswi Akuntansi/ Ekonomi dan Bisnis UMM

Pandemi covid-19 masih memiliki dampak yang dirasakan semua warga global. Kebijakan restriksi aktivitas warga selama 2 tahun lebih yang bertujuan untuk meredam penyebaran covid-19 sangat men-sugesti roda perekonomian. Terjadinya stagflasi ekonomi menciptakan banyak pengusaha mengalami kebangkrutan.

Beruntung, pemerintah Indonesia cepat memutuskan tindakan antisipasi penyebaran covid-19. Sebagai akibatnya, pemulihan kesehatan warga terhadap agresi bahaya covid-19 cepat teratasi.

Kebijakan pemerintah melindungi kesehatan warga berupa vaksinasi, porto perawatan pasien covid, peningkatan tenaga kesehatan, pembangunan fasilitas kesehatan dan lainnya secara masif, meningkatkan kecepatan pemulihan covid. Selain di bidang kesehatan, pemulihan perekonomian pun tidak luput berdasarkan perhatian. Melalui Belanja Negara, APBN menjadi shock absorber berupaya menjangkau dan melindungi semua warga dan mendorong pemulihan ekonomi.

Perekonomian dan stabilitas perdagangan pada global belum balik normal pasca-pandemi covid-19, diperparah terjadi perang Rusia menggunakan Ukraina. Kedua negara dengan komoditas krusial pada global, misalnya migas, gandum, kedelai, pupuk dan lainnya. Pasokan komoditas tersebut sebagaian terhambat ke beberapa negara pada eropa sebagai akibatnya menyebabkan krisis tenaga dan pangan. Akibatnya, harga-harga komoditas semakin tinggi tajam. Inflasi pun tidak terhindari dampak menurunnya pasokan migas dan pangan.

Mencermati uraian pada atas, bagaimana syarat perekonomian Indonesia menghadapi tekanan ekonomi dunia dampak pandemi dan perang Rusia-Ukraina? Berdasarkan data yang penulis dapatkan berdasarkan Siaran Pers APBN Kita bulan Oktober 2022, bisa digambarkan menjadi berikut [1] :

  1. Pemulihan ekonomi domestik terus berlanjut pada tengah perlambatan pada banyak negara. Pertumbuhan ekonomi Kuartal III diperkirakan masih relatif bertenaga, didukung konsumsi tempat tinggal tangga dan ekspor yang diperkirakan sebagai penopang utama. Purchasing Manufactur Index (PMI) Indonesia meneruskan percepatan pada tengah kontraksi dan pelemahan manufaktur pada negara-negara besar, misalnya Eropa, Tiongkok, dan Korea Selatan. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih akan tumbuh lebih baik pada tahun 2022, sejalan menggunakan proyeksi yang dilakukan oleh forum internasional terkemuka misalnya ADB (5,4 %), IMF (5,3 %), Bloomberg (5,2%), Bank Dunia (5,1 %). Selain itu kinerja APBN September 2022 permanen positif dan terkendali, ditopang pendapatan yang sangat baik.


Belanja negara tumbuh, tetapi perlu permanen terus diakselerasi. Pengelolaan fiskal yang inklusif dan pruden pada tengah syarat kenaikan suku bunga dan pelemahan nilai tukar, mendorong penurunan kebutuhan pembiayaan.  APBN 2022 berkinerja baik, tetapi macam macam ketidakpastian dan risiko dampak tekanan dunia wajib diwaspadai

  1. Kinerja Ekonomi Indonesia Masih Tumbuh Kuat Pemulihan ekonomi Indonesia diperkirakan berpengaruh pada tengah pelemahan prospek ekonomi dunia. Dari sisi eksternal, kinerja Neraca Perdagangan terus melanjutkan surplus, yaitu dalam bulan September surplus sebanyak USD4,99 miliar, didukung peningkatan ekspor komoditas khususnya batu bara dan CPO. Ekspor dan impor bulan September 2022 tumbuh positif ditentukan menguatnya harga komoditas dunia dibandingkan tahun sebelumnya, pada mana ekspor tumbuh 20,28 % (yoy) dan impor tumbuh 22,02 % (yoy).

  2. Pendapatan Negara Melanjutkan Kinerja yang Baik, Pertumbuhan pendapatan masih tinggi menjadi bukti pemulihan ekonomi yang terus terjaga, sokongan harga komoditas yang masih pada level tinggi, dan impak aneka macam kebijakan. Hingga September 2022, Pendapatan Negara tercapai sebanyak Rp1.974,7 triliun atau 107,0 % berdasarkan Pagu, tumbuh 45,7 % (yoy). Secara nominal, realisasi komponen Pendapatan Negara yang bersumber berdasarkan penerimaan Pajak mencapai Rp1.310,5 triliun, penerimaan Bea dan Cukai sebanyak Rp232,1 triliun, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebanyak Rp431,5 triliun.

  3. Kinerja PNBP hingga menggunakan akhir September 2022 mencapai Rp431,5 triliun (89,6persen berdasarkan Pagu). apabila dibandingkan menggunakan tahun lalu, realisasi PNBP tumbuh 34,4 % (yoy) yang terutama didorong berdasarkan Pendapatan SDA, KND, dan PNBP Lainnya. Realisasi PNBP SDA migas tumbuh 76,8 % (yoy), terutama didorong kenaikan homogen-homogen ICP selama delapan bulan terakhir. Selanjutnya, realisasi PNBP SDA non-migas tumbuh 100,7 % (yoy), terutama ditimbulkan kenaikan pendapatan pertambangan minerba. Selanjutnya, realisasi PNBP berdasarkan KND tumbuh 37,6 %, terutama dari berdasarkan dividen BUMN Perbankan yang tumbuh 80,9 %. Realisasi PNBP lainnya tumbuh 41,1 %, didorong Pendapatan Penjualan Hasil Tambang. Sementara itu, realisasi PNBP berdasarkan BLU terkontraksi 27,2 % dampak turunnya Pendapatan Pengelolaan Dana Perkebunan Kepala Sawit.


Pembiayaan APBN Terjaga tetapi Tetap Merespon Dinamika Pasar Keuangan yang Volatile Realisasi APBN hingga akhir September 2022 mencatat surplus 0,33 % terhadap PDB atau Rp60,9 triliun. Realisasi pembiayaan utang sampai September 2022 mencapai Rp478,9 triliun atau 50,7 % berdasarkan sasaran yang ditetapkan. Capaian ini jauh lebih rendah, atau turun 26,0 % (yoy) dibandingkan realisasi dalam periode yang sama tahun sebelumnya. Di tahun 2022, Pemerintah melanjutkan implementasi SKB I dan III, sekaligus menjadi tahun terakhir aplikasi SKB. Hingga 18 Oktober 2022, SKB I (BI menjadi standby buyer) sudah tercapai sebanyak Rp41,5 triliun, ad interim realisasi SKB III mencapai Rp95,4 triliun. Pembiayaan APBN permanen mengedepankan prinsip prudent, fleksibel, dan oportunistik pada tengah syarat pasar keuangan yang volatile. Indonesia masih permanen resilien didukung kinerja APBN yang baik dan langkah antisipatif pengadaan utang antara lain: (i) penyesuaian sasaran penerbitan utang tunai; (ii) penerbitan SBN Valas menyesuaikan syarat market yang volatile dan syarat kas yang masih relatif ample; (iii) optimalisasi SBN domestik melalui SKB III; (iv) penerbitan SBN Ritel menjadi upaya ekspansi basis investor domestik; dan (v) fleksibilitas Pinjaman Program.

Dapat  disimpulkan bahwa prospek perekonomian secara dunia terus menurun dampak eskalasi risiko dunia misalnya lonjakan inflasi, volatilitas harga komoditas, berita geopolitik, dan potensi resesi. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan masih relatif bertenaga, didukung konsumsi tempat tinggal tangga dan kinerja ekspor.

Selain itu,  secara holistik kinerja APBN relatif baik dan masih mencatatkan surplus ditopang kinerja fiskal secara holistik, baik berdasarkan pendapatan yang tumbuh bertenaga juga optimalisasi belanja yang permanen terjaga. Dengan dukungan kinerja APBN yang baik tadi, defisit bisa ditekan sebagai akibatnya pembiayaan utang jua bisa dikurangi.

Tetapi demikian, potensi risiko permanen perlu diwaspadai dan dimi3siuntukmenjaga kiprah APBN menjadi shock absorber supaya permanen sehat dan kokoh pada menghadapi ancaman dan risiko dunia yang berkepanjangan.Peran warga pada membantu penguatan perekonomian dan ketahanan ekonomi Indonesia sangat diharapkan. Inflasi diikuti oleh kebijakan pengetatan moneter oleh bank sentral pada negara Eropa dan Amerika menggunakan meningkatkan taraf bunga acuan yang akan berdampak jua dalam kebijakan yang diambil bank sentral pada negara lainnya. Berikut beberapa tips Menurut I Wayan Nuka Lantara Ph.D, pengamat Perbankan, Keuangan, dan Investasi berdasarkan Universitas Gadjah Mada (UGM) menaruh saran pada menghadapi peningkatan inflasi dan ancaman resesi pada tahun 2023[2] :

1.Cari Alternatif Tambahan Penghasilan Selain Gaji Tetap, Menurutnya, mempersiapkan dana darurat perlu dilakukan bersamaan menggunakan upaya dalam 2 hal lainnya. Upaya yang pertama yaitu mencari cara lain tambahan penghasilan selain berdasarkan honor permanen;

2.Investasi Jadi Cara Efektif Lawan Dampak Inflasi, Mengenai investasi yang dilakukan dalam waktu ini, pada mana situasi tidak menentu, Wayan membicarakan bahwa investasi selama ini terbukti jadi cara yang efektif melawan impak negatif inflasi. Pilihan investasi yang cocokuntukmengantisipasi terjadinya krisis ekonomi dunia merupakan menggeser bobot dana investasi kita lebih banyak dalam aset investasi yang tergolong kondusif. Dalam hal ini, Wayan mencontohkan jenis investasi yang kondusif dilakukan yaitu deposito, emas, dan surat berharga yang diterbitkan oleh negara.

3.Identifikasi Pos-pos Pengeluaran, warga wajib melakukan identifikasi ulang dalam pos-pos pengeluaran. Jangan hingga pengeluaran membengkak dan perlu mencari celah menggunakan melakukan penghematan dalam pos-pos pengeluaran yang dipercaya kurang krusial atau mampu ditunda.

Dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapinya harus dengan  optimis, menggunakan kerjasama yang baik antara Pemerintah Pusat, Daerah, pengusaha dan warga , syarat perekonomian Indonesia sanggup menunda laju inflasi dan melalui badai resesi pada tahun 2023. Masyarakat diharapkan tidak panikuntukmenarik dananya pada bank-bank, permanen melakukan investasi pada negeri guna menyokong produksi komoditas domestik dan ekspor. Selain itu, menahan membeli barang impor dan mengasihi produk domestik dan tidak membeli mata uang asing secara berlebihan  lantaran akan berdampak menaikkan inflasi. (*) Editor : Muhammad Fahmi
#opini