BAHASA Indonesia memiliki berbagai aturan ejaan yang perlu dipahami agar penulisan menjadi benar dan mudah dipahami.
Salah satu hal yang paling sering menimbulkan kebingungan adalah penggunaan kata “di” — apakah ditulis serangkai atau terpisah.
Banyak orang sering keliru menuliskan kata ini, terutama dalam konteks formal seperti surat, karya tulis ilmiah, atau artikel.
Padahal, aturan mengenai penulisan kata awalan di- sudah dijelaskan secara tegas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
Artikel ini akan membahas secara rinci perbedaan antara di- sebagai awalan dan di sebagai kata depan, lengkap dengan contoh dan penjelasan praktis agar tidak salah lagi dalam penggunaannya.
1. Penjelasan Umum tentang “di”
Dalam bahasa Indonesia, kata “di” bisa berfungsi sebagai dua hal berbeda:
- Sebagai awalan (prefiks)
Awalan di- digunakan untuk membentuk kata kerja pasif, dan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
- Sebagai kata depan (preposisi)
Kata depan di digunakan untuk menunjukkan tempat atau arah, dan ditulis terpisah dari kata berikutnya.
Kedua fungsi ini tampak mirip, tetapi maknanya sangat berbeda. Kesalahan menuliskannya bisa mengubah arti kalimat secara keseluruhan.
2. “di” Sebagai Awalan: Ditulis Serangkai
Menurut KBBI dan PUEBI, jika di- berfungsi sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif, maka penulisannya harus serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Contoh:
Dibawa
Dikerjakan
Ditulis
Dibersihkan
Dibuka
Contoh kalimat:
Buku itu dibaca oleh Andi setiap pagi.
Surat ini ditulis oleh kepala sekolah.
Makanan sudah disiapkan oleh ibu.
Rumah itu dibersihkan setiap hari.
Soal ujian dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Pada contoh di atas, awalan di- melekat pada kata kerja dasar seperti baca, tulis, siap, bersih, dan kerja. Hal ini menunjukkan bentuk kalimat pasif, yaitu subjek menerima tindakan, bukan melakukan tindakan.
Ciri-ciri “di” sebagai awalan:
Dapat diubah menjadi bentuk aktif dengan awalan me- pada kata kerja dasarnya.
Contoh:
Dibawa ↔ membawa
Ditulis ↔ menulis
Dikerjakan ↔ mengerjakan
Dibersihkan ↔ membersihkan
Jika bisa diubah menjadi bentuk aktif dengan me-, maka di- dalam kata tersebut pasti awalan, dan harus ditulis serangkai.
3. “di” Sebagai Kata Depan: Ditulis Terpisah
Berbeda dengan awalan, kata depan di digunakan untuk menunjukkan tempat, arah, atau posisi. Dalam hal ini, penulisannya harus dipisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh:
di atas
di taman
di jalan
di meja
di antara
Contoh kalimat:
Buku itu ada di atas lemari.
Anak-anak bermain di taman.
Ayah sedang ada di jalan.
Buku itu ada di meja.
Rumah nenek berada di antara tanah kosong.
Ciri-ciri “di” sebagai kata depan:
Menunjukkan tempat, arah, atau posisi.
Tidak bisa diubah menjadi bentuk aktif.
Dapat digantikan dengan kata depan lain seperti ke atau dari dalam konteks tertentu.
Contoh:
Ayah bekerja di kantor.
→ Menunjukkan tempat (kata depan).
→ Tidak bisa diubah menjadi “Ayah bekerja mengantor”.
Karena itu, penulisannya harus terpisah: di kantor, bukan dikantor.
4. Cara Mudah Membedakan “di-” dan “di”
Banyak orang masih bingung membedakan kedua bentuk tersebut. Berikut beberapa cara praktis agar tidak salah menulis:
Langkah 1: Ubah ke Bentuk Aktif
Coba ubah kalimat menjadi bentuk aktif dengan awalan me-:
- Jika bisa → berarti “di-” adalah awalan, tulis serangkai.
- Jika tidak bisa → berarti “di” adalah kata depan, tulis terpisah.
Contoh:
- Dibaca oleh ibu → (aktif: Ibu membaca) → benar: dibaca (serangkai).
- Di rumah ada tamu → (aktif: merumah ❌ tidak bisa) → benar: di rumah (terpisah).
Langkah 2: Lihat Maknanya
Jika menunjukkan tempat → tulis terpisah.
Jika menunjukkan tindakan pasif → tulis serangkai.
Contoh:
Buku itu dibaca oleh Sinta. (tindakan) → dibaca
Buku itu ada di meja. (tempat) → di meja
5. Kesalahan Umum dalam Penggunaan “di”
Banyak penulis, terutama di media sosial, masih sering keliru menulis “di” sebagai awalan atau kata depan.
Kesalahan seperti “dirumah”, “disekolah”, atau “dikantor” sering dianggap sepele, tetapi dalam konteks resmi seperti ujian, surat, atau artikel ilmiah, hal ini termasuk kesalahan ejaan yang fatal.
6. Aturan Resmi Menurut KBBI dan PUEBI
Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) Bab III tentang Penulisan Kata, dijelaskan: Pasal 17: Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali jika digunakan sebagai awalan dalam pembentukan kata kerja pasif.
Dengan kata lain:
di, ke, dari sebagai kata depan → ditulis terpisah
di- sebagai awalan pasif → ditulis serangkai
KBBI juga konsisten menggunakan aturan ini dalam semua entri katanya. Misalnya:
dikerjakan (ada dalam KBBI, berarti benar)
dikantor (tidak ada dalam KBBI, berarti salah)
Dengan demikian, acuan resmi untuk menentukan benar-salahnya penulisan kata berawalan di- tetap berpegang pada KBBI dan PUEBI sebagai sumber rujukan utama bahasa Indonesia.
7. Mengapa Penting Menulis “di” dengan Benar
Menulis dengan ejaan yang benar bukan sekadar soal kebiasaan, tetapi mencerminkan ketepatan berpikir dan ketertiban berbahasa.
Kesalahan dalam menulis “di” bisa mengubah makna kalimat, menyebabkan kebingungan pembaca, dan menurunkan kredibilitas penulis.
Contoh:
“Dokumen disimpan di lemari.”
→ Artinya: dokumen itu telah disimpan (benar).
“Dokumen di simpan di lemari.”
→ Kesannya rancu dan tidak sesuai kaidah.
Dalam dunia pendidikan, administrasi, dan jurnalistik, kesalahan seperti ini bisa dianggap pelanggaran ejaan dasar.
Karena itu, memahami dan menerapkan aturan ini adalah bentuk tanggung jawab sebagai pengguna bahasa Indonesia yang baik.
Dengan memahami aturan ini, kita dapat menulis dengan lebih benar, jelas, dan sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik.
Jadi, mulai sekarang, mari biasakan menulis sesuai pedoman: “di-” untuk awalan (serangkai), dan “di” untuk kata depan (terpisah). Semoga bermanfaat. (*/wt)
Editor : Jawanto Arifin