Tahura Perkuat Patroli Hutan usai Jalur Pendakian Arjuno-Welirang Dibuka

Rizal Syatori • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 10:10 WIB
MENAWAN: Pemandangan Gunung Arjuno-Welirang yang tampak dari jauh. Kawasan setempat, menjadi jujukan para pendaki. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
MENAWAN: Pemandangan Gunung Arjuno-Welirang yang tampak dari jauh. Kawasan setempat, menjadi jujukan para pendaki. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

PRIGEN, Radar Bromo - Setelah sempat ditutup total akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), jalur pendakian ke Gunung Arjuno dan Gunung Welirang kini resmi dibuka kembali bagi para pencinta alam.

Kendati situasi di kawasan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo dinyatakan sudah aman dan api telah padam sepenuhnya, pihak pengelola menegaskan akan tetap menggencarkan patroli hutan secara intensif.

Pembukaan kembali akses wisata minat khusus ini, berlaku secara serentak di seluruh pos perizinan resmi pendakian yang tersebar di beberapa pintu masuk.

Langkah ini diambil, setelah petugas memastikan tidak ada lagi titik api aktif, yang membahayakan keselamatan publik.

PATROLI: Sejumlah petugas Tahura R Soerjo saat melakukan patroli di wilayah hutan Gunung Arjuno-Welirang. (Tahura R Soerjo for Radar Bromo)

PATROLI: Sejumlah petugas Tahura R Soerjo saat melakukan patroli di wilayah hutan Gunung Arjuno-Welirang. (Tahura R Soerjo for Radar Bromo)

Kepala UPT Tahura R. Soerjo, Agustiningtyas Marini, membenarkan kebijakan pembukaan akses tersebut.

Namun, ia mengingatkan para pendaki, bahwa status pembukaan jalur ini, tetap bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada situasi kebencanaan dan faktor alam.

"Jalur pendakian Arjuno dan Welirang sudah dibuka kembali sejak Sabtu lalu di semua pos izin pendakian yang ada. Kendati demikian, operasional pendakian dapat kami tutup sewaktu-waktu, apabila terjadi cuaca ekstrem atau kondisi darurat lainnya," tegas Tyas-sapaan akrabnya.

Seiring dengan kembalinya aktivitas pendakian, pihak pengelola tidak mau kecolongan.

Instansi pengawas kawasan konservasi ini, langsung menginstruksikan seluruh jajaran di lapangan, untuk meningkatkan kewaspadaan guna mencegah terjadinya kebakaran susulan yang kerap dipicu oleh kelalaian manusia.

"Teman-teman di lapangan sudah kami instruksikan, untuk melakukan peningkatan patroli secara rutin. Pengawasan ketat ini dilakukan langsung oleh personel dari Polisi Hutan (Polhut)," imbuhnya.

Berdasarkan data rekapitulasi resmi dari UPT Tahura R. Soerjo, musibah kebakaran hebat yang melanda kawasan tersebut, berlangsung cukup lama. Yakni mulai 18 Agustus hingga 14 September.

Dampak dari amukan si jago merah tersebut, menghanguskan vegetasi hutan alam dengan estimasi total luas lahan, mencapai kurang lebih 548 hektare.

Dari total luasan dampak karhutla tersebut, wilayah administratif Kabupaten Pasuruan, menjadi area yang paling parah terdampak kerusakan ekologis.

"Sebagian besar area yang terbakar, yakni seluas 487,19 hektare, masuk ke dalam wilayah Kabupaten Pasuruan. Kerusakan lahan ini terkonsentrasi di kawasan Pecalukan, Kecamatan Prigen, serta kawasan Cendono, Kecamatan Purwosari," tukas Tyas. (zal/one)

 

Data Kerusakan Akibat Kebakaran (Karhutla)

·        Periode Kebakaran: 18 Agustus – 14 September

·        Total Lahan Terbakar: 548 Hektare

·        Dampak Terparah (Kabupaten Pasuruan): 487,19 Hektare

·        Sebaran Wilayah: Pecalukan (Kecamatan Prigen) dan Cendono (Kecamatan Purwosari).

 

Status Operasional Jalur Pendakian

·        RESMI DIBUKA KEMBALI (Berlaku di semua pos izin pendakian resmi).

·        Catatan Penting: Jalur dapat ditutup sewaktu-waktu jika terjadi cuaca ekstrem atau kondisi darurat lainnya.

 

Langkah Antisipasi dan Mitigasi

·        Patroli Hutan Rutin: Tetap berjalan terus dan intensitasnya ditingkatkan.

·        Pelaksana Lapangan: Personel Polisi Hutan (Polhut) UPT Tahura R. Soerjo.

Editor : Jawanto Arifin
arjuno kebakaran tahura welirang pendaki