Gledekan Prigen-Pasuruan Berbahaya, namun Makin Seru-Ngetren

Rizal Syatori • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 15:04 WIB
Permainan Gledekan yang selama ini rutin digelar setiap Minggu pagi di Kelurahan/Kecamatan Prigen
Permainan Gledekan yang selama ini rutin digelar setiap Minggu pagi di Kelurahan/Kecamatan Prigen

PRIGEN, Radar Bromo- Permainan gledekan yang sering digelar di Jalan Raya Lingkungan Palembon, Kelurahan/Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, makin ngetren. Meski membahayakan, peminatnya malah makin membeludak.

Peminat permainan gledekan sejak 7-8 bulan terakhir makin ramai. Setiap Minggu pagi, Jalan Raya Lingkungan Palembon, Kelurahan/Kecamatan Prigen, bisa dipastikan ramai. Tanpa komando warga berdatangan untuk menyaksikan para pemain gledekan meluncur.

Bahkan, kini permainan ini menjadi fenomena sport tourism ekstrem serta tradisional berbasis kearifan lokal. Pesertanya bisa mencapai ratusan orang. Mulai anak-anak hingga orang dewasa. Mereka tak hanya warga Prigen, ada juga yang dari Pandaan, Gempol, Beji, Sukorejo, Bangil, dan Purwosari. Bahkan, dari luar daerah seperti Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, Malang, juga ada.

Kereta luncur ini sejatinya permainan tradisional yang sebelumnya terbuat dari bahan kayu. Namun, kini makin modern. Gledekan dimodifikasi dengan material besi, dilengkapi setir. Kemudian menggunakan roda bearing maupun skate board.

Keberadaanya terus bertransformasi dan menjadi trend yang banyak digandrungi generasi muda hingga orang dewasa. Serta, mampu menggerakkan perekonomian lokal.

“Gledekan permainan tradisional. Di tempat kami sudah ada sejak dulu. Tapi, dulu hanya ada saat Ramadan dan menggunakan gledekan kayu. Sekarang ada setiap Minggu pagi dan menggunakan gledekan modifikasi," ujar Ketua Komunitas Gledekan Prigen, Soleh Hadi, 48.

Beralihnya gledekan berbahan kayu atau tradisional menjadi berbahan metal, kata Soleh, menyesuaikan perkembangan zaman. Karena itu, gledekan dilengkapi setir sekaligus sebagai pegangan.  Juga ada rem injak atau rem manual menggunakan sepatu.

“Lebih ke menyesuaikan zaman serta lebih kekinian. Juga lebih kuat, fleksibel, praktis, dan trendi," katanya.

Ratusan peserta itu meluncur di Jalan Raya Jurusan Pandaan-Prigen di Lingkungan Palembon, Kelurahan/Kecamatan. Jarak tempunya sekitar 500 meter, melewati medan jalan turunan, ada trek lurus, serta tikungan.

Sebelum meluncur, jalanan dipastikan steril dari pengendara. Karena digunakan sistem buka tutup. Pengendara motor maupun mobil juga bisa melintasi jalan alternatif.

“Saat Ramadan sampai 2-3 bulan setelahnya peserta gledekan bisa tembus sekitar 250 orang. Sekarang berkurang, hanya sekitar 130 orang," katanya.

Meski tampak seru, bukan berarti tanpa ada bahaya yang mengintai. Sekitar Juli lalu, insiden terhajadi. Seorang pemain gledekan yang masih pelajar jatuh dan mengalami luka parah.

Pasca kejadian itu, keamanan dan keselamatan menjadi atensi. Juga dibuat Standar Operasional Prosedur (SOP) baru. Para peserta pun wajib mematuhinya.

“Pascainsiden kecelakaan, sudah ada SOP baru dan wajib dipatuhi semua peserta. Demi keamanan dan keselamatan bersama. Bersamaan diterapkannya SOP baru ini, peserta gledekan semakin berkurang jumlahnya," ujar warga Palembon, Kecamatan Prigen yang juga tergabung Komunitas Gledekan Prigen, Dani F, 40.

SOP baru ini sudah disepakati bersama. Di antaranya, pesertta wajib memakai helm semi full face maupun full face, mengenaka pelindung sikut dan lutut, serta bersepatu. Peserta yang masih anak-anak wajib didampingi orang tua. “Peserta gledekan jika didapati tidak sesuai SOP, harus menepi dan tidak diperbolehkan ikut bermain. Ini sudah disepakati bersama," ungkapnya.

Kemudian, untuk gledekannnya juga ada standarisasinya. Demi mengurangi risiko kecelakaan dan lebih aman. Di antaranya, setir harus dilengkapi hand grip serta ada pijakan kaki ujung kanan dan kiri dikasih karet.

“Juga dilengkapi rem. Ada yang melekat di gledekan dan tinggal menginjak. Selain itu, ada yang menggunakan sepatu bagian bawahnya ditambah karet," jelas Soleh Hadi.

Sedangkan dimensi ukurannya, menyesuaikan postur tubuh masing-masing peserta gledekan. Namun, panjang gledekan rata-rata 60-70 sentimeter dengan lebar 25-30 sentimeter.

Terkait keamanan dan keselamatan, Kapolsek Prigen AKP Mulyono selalu mengimbau peserta Gledekan Prigen harus mematuhi SOP. Keselamatan harus diutamakan. “Di lapangan saat ini kami perhatikan lebih tertib dan memperhatikan SOP," bebernya.

Karena sudah ada SOP-nya, Mulyono mengatakan, jika didapati peserta lalai dan tidak memperhatikan SOP, pihaknya tidak segan langsung memberi sanksi dengan langsung membubarkan acara. “Di lapangan terus kami pantau, demi kebaikan bersama. Jangan sampai ada kejadian kecelakaan lagi," ujar mantan Kapolsek Rembang ini.

Pascakejadian kecelakaan saat kegiatan gledekan, Mulyono mengatakan, koordinasi terus dilakukan dengan penyelenggara. Serta, melibatkan pemerintah kecamatan dan Koramil Prigen. “Supaya lebih tertib, aman, dan minimalisir insiden kecelakaan, SOP harus diperhatikan dan dijalankan," tegasnya.

Terkait penyelenggaraan acara gledekan yang selama ini digelar setiap Minggu pagi, Mulyono menegaskan, baik Polsek Prigen maupun Polres Pasuruan, selama ini tidak pernah mengeluarkan izin. Selama ini hanya mendapatkan pemberitahuan dari panitia atau penyelenggara setiap jelang ada acara gledekan.

“Kami dari Polsek tetap dan wajib mengamankan pelaksanaan di lapangan. Dengan menempatkan personel, sifatnya hanya pengamanan saja," katanya.

Seiring menggeliatnya gledekan di Prigen, kegiatan gledekan juga bermunculkan di daerah lain. Selain di Lingkungan Palembon, Kelurahan Prigen, juga muncul di Desa Ketanireng, Dayurejo, dan Kelurahan Ledug, Kecamatan Prigen. (zal/rud)

 

Editor : Moch Vikry Romadhoni
gledekan minimalisir insiden kecelakaan pasuruan prigen