Loket Bromo di Wonokitri Pasuruan Sempat Disegel, Wisata Bromo Akhirnya Dibuka Sabtu 19 September

Mokhamad Zubaidillah • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 17:11 WIB
PROTES: Sejumlah pelaku usaha wisata Bromo saat melakukan aksi terkait penutupan Bromo usai karhutla tertangani, Jumat (18/9). TNBTS akhirnya memutuskan Bromo kembali dibuka untuk wisatawan, Sabtu (19/9).
PROTES: Sejumlah pelaku usaha wisata Bromo saat melakukan aksi terkait penutupan Bromo usai karhutla tertangani, Jumat (18/9). TNBTS akhirnya memutuskan Bromo kembali dibuka untuk wisatawan, Sabtu (19/9).

 

TOSARI, Radar Bromo–Kebakaran hutan di kawasan Gunung Bromo telah padam. Namun, pintu masuk wisata tak kunjung dibuka oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, membuat pelaku usaha wisata kecewa.

Jumat (18/9), sejumlah pelaku usaha pun menggelar aksi unjuk rasa di depan pos loket pintu masuk via Wonokitri, Tosari. 

Aksi yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut berlangsung panas. Lebih dari 200 warga yang terdiri dari sopir jip, tukang ojek, hingga pedagang lokal memblokir dan menyegel pos loket tiket menggunakan papan seng.

Tak hanya itu, warga juga menempelkan sejumlah pamflet berisi tuntutan pembukaan Bromo serta menempelkan tulisan yang menegaskan klaim bahwa lahan tempat berdiri pos loket tersebut merupakan tanah milik desa setempat.

Jalan aksi unjuk rasa tersebut mendapat pengamanan ketat dari petugas gabungan, baik dari jajaran Polsek Tosari maupun jajaran TNI setempat guna memastikan kondisi tetap kondusif.

Ketua Paguyuban Jip Tosari, Heri Nurdi (55), menyayangkan sikap pengelola kawasan yang terkesan berjalan sendiri tanpa memikirkan nasib para pelaku usaha.

"Kami kecewa kebijakan penutupan ini. Kami di lapangan sama sekali tidak pernah diajak koordinasi oleh pihak TNBTS terkait kebijakan penutupan maupun hal-hal yang berkaitan dengan kebencanaan," ungkapnya dengan penuh kecewa. 

Aksi itu juga mendapat pendampingan langsung dari sejumlah tokoh Tengger setempat. Mulai dari para kades desa penyangga wisata hingga tokoh masyarakat lainnya.

Termasuk diantaranya Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan dari Fraksi Gerindra, Agus Setiya Wardana. Tokoh Tengger asal Desa Wonokitri ini menyampaikan garis besar tuntutan masyarakat.

Dijelaskan olehnya ada beberapa tuntutan yang disampaikan. Mulai dari desakan warga terkait kebijakan penutupan yang dirasa tidak adil. Saat penutupan dampak kebakaran hutan (karhutla)  yang terjadi di wilayah TNBTS Malang beberapa hari terakhir itu, wisata Bromo di Seruni Poin ternyata masih dibuka. Sementara akses masuk wisata lainnya ditutup total.

"Kami menerima keluhan masyarakat ini sejak tiga hari lalu. Namun, tak ada respon dari pihak TNBTS. Warga merasa kebijakan penutupan kemarin ini tidak adil. Apalagi terkait urusan sandang pangan seperti ini. Kan kasihan," ungkap Agus.

Tak hanya itu, warga juga menuntut penerapan sistem berbasis zonasi risiko, evaluasi cepat pada jalur aman seperti Tosari-Wonokitri-Penanjakan, serta keterlibatan aktif delapan desa penyangga dalam tata kelola pariwisata yang terintegrasi.

Selain itu, masyarakat mendesak evaluasi kepemimpinan Kepala Balai Besar TNBTS jika terus mengabaikan komunikasi dengan warga lokal.

"Jadi dibutuhkan kordinasi yang baik antara pihak TNBTS dengan masyarakat lokal sekitar," imbuhnya.

Suasana ketegangan itu akhirnya melunak setelah warga menerima kabar bahwa pintu akses wisata Bromo resmi dibuka kembali pada hari itu juga.

Mendengar kepastian tersebut, ratusan warga dan pelaku usaha menyambut lega dan sepakat mengakhiri aksi unjuk rasa secara tertib.

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, BB TNBTS telah mengeluarkan pengumuman tentang pembukaan kembali kawasan wisata Bromo pada Sabtu (19/9) dinihari mulai pukul 00.01.

“Kawasan wisata Gunung Bromo dinyatakan dapat dibuka kembali untuk kunjungan wisatawan mulai Sabtu 19 September pukul 00.01,” begitu bunyi dalam surat pengumuman yang dikeluarkan TNBTS.

Meski begitu, TNBTS meminta masyarakat, pengunjung dan pelaku usaha wisata untuk memamatuhi seluruh ketentuan kunjungan serta arahan dan petunjuk petugas di lapangan.

Lalu, tidak melakukan akvitas yang dapat memicu atau menjadi sumber kebakaran. Termasuk membuat api unggun atau perapian, membakar sesuatu, serta membuang punting rokok, korek api atau benda lain yang berpotensi menjadi sumber api.

Menjaga kebersihan, ketertiban, keamanan. Selanjutnya, melaporkan pada petugas bila mengetahui ada bara asap.

“Pengunjung yang telah memiliki tiket kunjungan Bromo untuk tanggal 19-30 September 2026 dapat menggunakan tiket tersebut untuk melakukan kunjungan sesuai tanggal yang tercantum pada tiket tanpa perlu melakukan pembelian tiket kembali,” begitu bunyi poin terakhir dari pengumuman itu. (ube/mie)

Editor : Muhammad Fahmi
karhutla bromo ditutup wonokitri wisata bromo tnbts