PRIGEN, Radar Bromo - Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo melalui jalur udara, kini sepenuhnya dipusatkan di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Pada hari keenam pemadaman, Senin (24/8), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur memaksimalkan dan memfokuskan penerbangan helikopter water bombing via Kaliandra.
Satu unit helikopter jenis Airbus dikerahkan, untuk menggempur titik api yang masih berkobar di blok Watu Gede lereng Gunung Arjuno (sisi barat dan timur), serta di atas Lembah Kijang lereng Gunung Welirang.
Petugas memanfaatkan kolam di kawasan Kaliandra, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, sebagai titik pengambilan air.
Dalam sekali sortie atau penyiraman, helikopter mampu mengangkut kapasitas air hingga 1.000 liter.
"Hari ini (kemarin, 24/8), untuk water bombing-nya dimaksimalkan dan fokus via Kaliandra, karena jaraknya lebih dekat dengan titik api yang ada saat ini," ujar Tenaga Ahli BPBD Provinsi Jatim, Bagio.
Selain memangkas jarak tempuh ke lokasi kebakaran, posisi Kaliandra juga dinilai lebih dekat dengan Pangkalan Udara (Lanud) Abdurrachman Saleh, Malang, serta mempermudah proses pengisian air.
"Di hari sebelumnya, water bombing dilakukan via Sumber Brantas Batu dan Kaliandra. Namun, khusus hari ini, seluruhnya dipusatkan via Kaliandra," imbuhnya.
Sepanjang hari kemarin, helikopter tercatat berhasil melakukan pengeboman air sebanyak 10 kali.
Aksi penyelamatan hutan tersebut terbagi dalam dua sesi, yakni enam kali penyiraman pada pagi hingga siang hari, dan empat kali penyiraman pada siang hari.
Operasi udara terpaksa dihentikan menjelang sore, karena terkendala faktor cuaca, dan helikopter langsung bertolak kembali ke Lanud Abdurrachman Saleh.
"Pagi sampai dengan siang, cuacanya cerah dan anginnya lumayan kencang, helikopter masih bisa menembus dan melakukan water bombing. Jelang sore, pergerakan terkendala cuaca dan harus dihentikan," tukas Bagio.
Upaya pengeboman air, dijadwalkan akan kembali berlanjut Selasa (25/8) hari ini, dengan tetap memprioritaskan faktor keselamatan dan pemantauan kondisi cuaca ekstrem di atas gunung. (zal/one)
Editor : Jawanto Arifin