PASURUAN, Radar Bromo- Tim Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menggelar program transfer teknologi.
Kali ini yang jadi sasaran yakni kelompok peternak sapi perah di Dusun Banyusari, Desa Blarang, Kecamatan Tutur/ Nongkojajar, Kabupaten Pasuruan.
Tim ini terdiri dari beberapa dosen dan mahasiswa dari Departemen Teknik Fisika, Departemen Sistem Informasi dan Departemen Manajemen Bisnis mengembangkan teknologi monitoring biogas cerdas dengan dilengkapi perangkat IoT (Internet of Thing) untuk mendorong modernisasi sektor pertanian dan peternakan sapi perah yang dikelola oleh mitra kelompok petani dan peternak Banyusari Sejahtera.
Potensi Besar yang Belum Termanfaatkan secara Optimal
Kemitraan yang telah dibina antara ITS dengan kelompok petani Banyusari Sejahtera selama 4 tahun terakhir ternyata masih menyisakan permasalahan sekaligus potensi yang ditimbulkan dari kotoran ternak sapi perah.
Berlokasi di kawasan dengan populasi ternak sapi perah yang cukup padat, wilayah program pengabdian kepada masyarakat ini masih memiliki permasalahan penanganan kotoran sapi perah.
Kotoran ternak ini secara praktis masih dibuang ke parit dan berpotensi mencemari sumber air dan sungai. Padahal, pemanfaatan kotoran ternak sapi perah sebagai bahan baku reaktor biogas penghasil sumber energi pengganti bahan bakar elpiji sudah dipraktikkan di wilayah Tutur sejak 2015.
Adapun slurry buangan reaktor biogas juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku produksi pupuk organik padat dan cair.
Pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber energi sekaligus sumber pupuk organik ini berpotensi untuk mendukung pengembangan aktivitas ekonomi sirkular.
Untuk mendukung pengembangan percontohan peternakan dan pertanian terintegrasi dengan memanfaatkan besarnya peluang peningkatan aktivitas ekonomi, tim pengabdi yang diketuai oleh Dr. rer. nat. Ruri Agung Wahyuono (Teknik Fisika) bersama mitra kelompok petani Banyusari Sejahtera yang dikelola oleh Harnoko dan Gianto telah merevitalisasi kembali reaktor biogas yang dilengkapi dengan sistem monitoring tekanan dan aliran biogas.
Sistem monitoring yang dikembangkan ditujukan untuk mempermudah pemilik peternakan mengatur kecepatan pemrosesan kotoran ternak di dalam reaktor biogas sekaligus menjaga tekanan dalam reaktor dalam keadaan aman agar tidak menyebabkan kerusakan struktur sipil reaktor biogas.
Digitalisasi Peternakan melalui Smart Farming Berbasis Internet of Things (IoT)
Tak hanya menyasar isu energi dan pengolahan limbah saja, program ini juga mendorong digitalisasi sektor pertanian melalui implementasi integrated smart farming berbasis Internet of Things (IoT) yang digagas oleh tim.
Sistem monitoring tekanan dan aliran biogas yang dibangun tidak hanya memanfaatkan sensor analog melainkan juga sensor digital untuk memantau kondisi reaktor biogas secara real-time, mengingat produksi gas metana (CH4) sangat dipengaruhi oleh suhu dan tingkat keasaman (pH) di dalam reaktor yang harus dijaga pada rentang tertentu agar prosesnya berjalan optimal.
Secara teknis, data yang berasal dari lapangan diambil melalui sensor tekanan dan aliran yang dipasang pada saluran keluaran reaktor biogas diproses secara digital dan data pengukuran disimpan dalam cloud yang terhubung jaringan internet yang selanjutnya sistem pengelola data menampilkan hasil pengukuran di komputer yang ada di kantor pengurus.
Dengan sistem ini, peternak maupun petani tidak perlu lagi memeriksa kondisi reaktor secara manual setiap saat, cukup memantau melalui dashboard komputer kapan pun.
Dengan diterapkannya teknologi ini, mitra program dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas usahanya.
Potensi Ekonomi Bioslurry Reaktor Biogas
Tidak hanya sebatas pada produksi biogas, sisa hasil fermentasi atau yang dikenal sebagai slurry juga diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik, baik dalam bentuk padat ataupun cair.
Tim pengabdi bersama dengan mitra program juga kelompok petani Banyusari Sejahtera memproduksi pupuk organik padat dan cair yang telah memenuhi kandungan unsur hara nitrogen, fosfor, dan kalium (NPK) minimum sesuai standar kementerian pertanian.
Keberhasilan produksi pupuk ini menjadikannya sebagai alternatif sumber pupuk organik yang berpotensi diperbesar skala produksinya untuk pemenuhan kebutuhan pupuk desa.
Pelaksanaan program yang didanai melalui skema progam kemitraan masyarakat, direktorat riset, teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, diharapkan memberikan dampak signifikan pada aktivitas produksi dan pengelolaan peternakan serta pertanian yang terintegrasi (integrated smart farming) yang dilakukan bersama mitra program.
Keberhasilan implementasi program ini juga diharapkan dapat menjadi peternakan/pertanian percontohan dalam menjawab tantagan isu lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyarakat sekitar secara bersamaan.
Editor : Moch Vikry Romadhoni