Bromo Dinilai Sudah Aman, Satu Titik Asap di Pusung Dhuwur Tosari Masih Mengancam

Inneke Agustin • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:51 WIB

MEMANTAU: Petugas gabungan dari BPBD Jatim memantau kondisi wisata Bromo dari Bukit KIngkong, Kecamatan Tosari,
Kabupaten Pasuruan. Sejauh ini, Bromo dinyatakan aman. (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)

MEMANTAU: Petugas gabungan dari BPBD Jatim memantau kondisi wisata Bromo dari Bukit KIngkong, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Sejauh ini, Bromo dinyatakan aman. (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)

SUKAPURA, Radar Bromo– Gunung Bromo dinyatakan telah aman dan kondusif setelah kebakaran yang melanda sabana selama berhari-hari.

Namun, satu titik asap di Pusung Duwur, Tosari, Kabupaten Pasuruan, masih menjadi perhatian. Sebab, api diduga berada di bawah tanah dan berpotensi kembali muncul.

Kondisi tersebut terungkap saat Staf Lapangan Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Indra Sutanto, memantau sejumlah lokasi terdampak kebakaran pada Minggu (16/8).

Titik yang dikunjungi meliputi tebing dekat Seruni Point dan Pusung Jantur di Ngadisari, Kabupaten Probolinggo. Juga Bukit Dingklik, Kedaluh atau Bukit Kingkong, dan Bukit Cinta di Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Indra mengatakan, hasil pemantauan lapangan akan disampaikan kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana. Laporan itu juga mencakup total luas sabana yang terdampak kebakaran.

“Semoga ada follow up agar wisata cepat dibuka. Sebab bagaimanapun warga banyak yang menggantungkan perekonomiannya di sini,” ungkapnya.

Indra juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh relawan yang berjibaku memadamkan api. Ia meminta wisatawan lebih bijak saat berkunjung dan ikut menjaga kelestarian serta keamanan kawasan.

Baca Juga: Kebakaran Bromo Padam, Puncak Seruni Point dan Jembatan Kaca Bromo Dibuka Lagi

“Bukan hanya menikmati keindahan Bromo, namun juga turut menjaga kelestarian dan keamanannya. Contohnya tidak merokok. Karena kalau sudah seperti ini, yang rugi juga semuanya,” tegasnya.

Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menambahkan, kawasan kaldera Bromo hingga Minggu (16/8) masih ditutup untuk kegiatan wisata.

Hanya boleh untuk pemadaman karhutla. Menurut dia, kondisi Bromo secara umum sudah aman dan terkendali.

“Tetapi tidak menutup kemungkinan masih adanya bara api di bawah permukaan yang tertiup angin dan dapat berpotensi menimbulkan api. Oleh sebab itu dalam dua hari ini kami terus melakukan pendinginan untuk memastikan kondisi benar-benar kondusif,” ujarnya.

Pendinginan dilakukan sebelum kawasan kembali dibuka untuk wisata. Seluruh tim satgas gabungan masih berjaga dan melakukan pemadaman di lokasi terdampak.

“Sementara untuk rencana pembukaan, kami menunggu rekomendasi dari satgas pengendalian. Kalau sudah kondusif tentunya akan kami informasikan dan akan dibuka oleh Kementerian Kehutanan nantinya,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga harus memastikan apakah sarana prasarana yang ada siap untuk mendukung pembukaan lagi Bromo. Karenanya, pihaknya perlu mengecek dan melakukan persiapan khusus.

Saat ini menurutnya, sekitar 3.000 wisatawan tercatat melakukan reschedule dan refund selama proses pemadaman berlangsung. Dua skema itu memang ditawarkan selama Bromo ditutup.

Sementara itu, kerugian akibat karhutla dan biaya penanganannya belum dapat diestimasi.

Menurutnya, seluruh pihak masih fokus pada pemadaman, sehingga perhitungan kerugian ekonomi, lingkungan, dan lainnya membutuhkan proses.

“Komponen kerugian yang harus dihitung banyak ya. Ada kerugian ekonomi, lingkungan, dan lain-lain yang tentunya tidak mudah dalam menghitungnya. Stakeholder yang terlibat juga banyak dan seluruhnya belum menyampaikan informasi biaya besarnya. Nanti jika sudah ada, tentu akan kami sampaikan,” tuturnya.

Danrem 083/Bdj sekaligus Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan mengatakan, situasi Bromo secara garis besar sudah lebih aman dan kondusif. Hingga Minggu (16/8), luas lahan terdampak tetap 1.120,3 hektare karena tidak ada sebaran api baru.

“Memang masih ada satu titik asap yang ada di Pusung Duwur, Kabupaten Pasuruan yang kami pantau dari foto udara. Ini karena api ada di bawah tanah. Kami akan memastikan api tersebut benar-benar mati dan tidak ada lagi asap yang mengepul. Namun tentu kami butuh waktu karena posisinya ada di atas tebing,” ujarnya.

Tim juga tetap melakukan penyisiran untuk memastikan seluruh wilayah aman. Hasil penyisiran akan menjadi dasar rekomendasi kepada BB TNBTS terkait pembukaan kembali kawasan bagi wisatawan.

Operasi darat pun tetap dilakukan. Sementara untuk water boombing masih bisa dikoordinasikan dengan BNBP, ketika ada titik api atau asap yang lokasinya sulit dijangkau dengan operasi darat.

“Tapi pada intinya semuanya sudah aman, namun kami meminta waktu untuk memastikan semuanya benar-benar paham. Kami harap masyarakat dapat memahami hal tersebut,” jelasnya. (gus/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
karhutla kebakaran bromo wisata bromo tnbts tosari