Begini Upaya Pemadaman di Bromo di Wilayah Pasuruan, Pemkab Sampai Sewa Armada Tangki karena Unit Damkar Dikerahkan

Fuad Alyzen • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 07:11 WIB

 

BANYAK KENDALA: Personel dan relawan memadamkan api  yang mengamuk di area Bukit Pusung Atas, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Selasa (11/8) siang. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
BANYAK KENDALA: Personel dan relawan memadamkan api  yang mengamuk di area Bukit Pusung Atas, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Selasa (11/8) siang. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

TOSARI, Radar BromoBelum sepenuhnya kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) padam total. Sempat padam pada Senin (10/8) malam, kobaran api kembali muncul kemarin (11/8).

Api yang sejak pagi menyala di kawasan Dingklik, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, bahkan meloncat menyeberangi jalur utama wisatawan menuju kawasan Pusung Atas.

Kondisi tersebut membuat akses jalan di kawasan Dingklik tertutup kobaran api dan asap pekat. Api sulit dikendalikan karena medan yang terjal, vegetasi yang mengering, serta hembusan angin yang cukup kencang.

Berdasarkan pantauan di lapangan sekitar pukul 10.00, api yang sebelumnya berkobar di sisi timur jalan mulai merambat ke sisi barat. Kobaran api terlihat menjalar dari kawasan lembah menuju perbukitan. Embusan angin membuat api dengan cepat membesar.

Kobaran api semakin meluas. Camat Tosari Bachtiar Prihatin Bachri menyebutkan, hingga Selasa (11/8) siang, kobaran api sudah merambah kawasan di sekitar Pusung Atas atau Nduwur dan mendekati pertigaan Dingklik yang mengarah ke Penanjakan.

Kondisi di lapangan juga menunjukkan asap tebal mulai menutup badan jalan. Sejumlah petugas BPBD dan BNPB terlihat berada di tepi jalan beraspal yang diselimuti asap.

Seorang petugas tampak menyemprotkan air menggunakan selang dari truk tangki untuk membasahi dan memadamkan sisa-sisa api di lereng maupun semak-semak di pinggir jalan. Petugas lainnya terlihat berkoordinasi di sekitar truk tangki sembari mengamati pergerakan asap dan kondisi di sekitar lokasi.

Asap putih pekat terlihat membumbung tinggi dari kawasan perbukitan. Kepulan asap bahkan melintas di atas badan jalan dan membuat jarak pandang semakin terbatas.

Sejumlah petugas kemudian bergerak berpindah posisi untuk menangani titik api maupun asap lainnya. Truk tangki air juga perlahan diarahkan maju menyusuri jalan, diikuti sejumlah petugas yang berjalan kaki di belakang dan di sisi kendaraan.

Petugas TNI berseragam loreng juga terlihat mendampingi proses penanganan. Truk tangki kemudian terus bergerak memasuki kawasan yang dipenuhi asap tebal, sementara personel berjalan menyusuri jalan untuk memastikan proses pemadaman sekaligus menjaga keamanan area.

Tak lama kemudian, mobil pemadam kebakaran berupa truk tangki air berwarna merah serta mobil operasional BPBD Kabupaten Pasuruan dengan sirene menyala melintas dan mendahului kendaraan. Kendaraan kemudian tiba di titik penanganan. Puluhan petugas gabungan dari BPBD, relawan, TNI/Polri terlihat berkumpul dengan mengenakan seragam oranye dan perlengkapan keselamatan. Sebuah penampung air darurat berwarna oranye juga tampak disiapkan di tepi jalan.

Situasi itu membuat petugas gabungan harus bekerja ekstra keras. Dari udara, helikopter water bombing terus melakukan penyiraman secara berkala. Sementara dari darat, personel TNBTS, TNI, Polri, BNPB, BPBD Jatim, BPBD dari Kabupaten dan Kota Pasuruan, berupaya memadamkan kobaran api yang masih menjalar.

Personel Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Pasuruan Anang Sururin mengatakan, api memang kembali menyala sejak Selasa (11/8) pagi. Titik api kemudian membesar di kawasan Dingklik dan menyebar ke area sekitarnya.

"Sejak pagi memang api menyala kembali. Dan membesar di satu lokasi, yakni di area Dingklik, Desa Wonokiti, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Itu menyebar luas di sekitarnya," kata Anang.

Menurut dia, petugas di lapangan saat ini tidak ingin terlalu fokus menghitung luasan lahan yang terbakar. Sebab, kondisi kebakaran yang masih berlangsung membuat prioritas utama adalah memadamkan setiap titik api yang muncul.

Sementara itu, kobaran api yang terus meluas membuat petugas juga harus memperhatikan sejumlah akses vital di kawasan tersebut. Salah satunya jalur Dingklik yang menjadi salah satu akses wisatawan menuju kawasan Penanjakan.

Dari pantauan di lapangan, api bahkan telah menjalar hingga menutup jalan di kawasan Dingklik. Asap hitam pekat membumbung tinggi dan mengganggu jarak pandang. Akses menuju kawasan Bromo dari jalur tersebut pun tidak memungkinkan untuk dilalui demi keselamatan wisatawan maupun pengguna jalan.

Kondisi ini sekaligus membuat jalur wisata yang biasanya ramai dilalui kendaraan wisatawan berubah menjadi kawasan yang harus diwaspadai. Petugas gabungan disiagakan untuk memastikan tidak ada warga maupun wisatawan yang nekat melintas mendekati titik kebakaran.

Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pusung Dhuwur, wilayah TNBTS, Kecamatan Tosari, makin berat. Gumpalan kabut tebal menyelimuti area yang terbakar dan melumpuhkan pandangan petugas di lapangan.

​Pantauan di lokasi sekitar pukul 13.00, pekatnya kabut asap dan kabut pegunungan menyapu hamparan hutan yang hangus. Jarak pandang merosot tajam. Hanya dalam jangkauan sekitar 50 meter ke depan, pandangan mata sudah buntu.

​Kondisi ini praktis membuat tim gabungan yang berada di darat ekstra waspada.

Bara api yang tersembunyi di balik semak dan vegetasi kering sama sekali tak kasat mata. Petugas hanya bisa mendeteksi pergerakan api lewat derak nyala api yang terus melalap pepohonan serta ranting-ranting kering.

​Situasi serba terbatas ini juga menghambat operasi pemadaman dari udara. Sejak pagi, helikopter water bombing sejatinya sudah dikerahkan dan berulang kali mondar-mandir mengangkut air di atas langit Pusung Dhuwur. Namun, titik api yang tertutup rapat oleh kabut tebal membuat penyiraman kurang presisi dan hasilnya belum signifikan.

Api juga merembet cepat.  Petugas gabungan dari TNBTS, BPBD, TNI, Polri, serta relawan terus berjibaku memadamkan api secara manual menggunakan gepyok dan jet shooter.

Pembuatan sekat bakar juga terus dikejar untuk menghadang rembetan api agar tidak kian meluas ke kawasan hutan konservasi lainnya, meski harus berpacu dengan jarak pandang yang makin terbatas.

Kebakaran hutan dan lahan di Bromo membuat banyak pihak mengerahkan tenaga. Tak terkecuali Pemkab Pasuruan. Bahkan, mereka harus menyewa armada khusus agar suplai air bersih di wilayah kekeringan, tidak berhenti.

Sebab tiga unit tangki air yang biasanya bertugas menyuplai kebutuhan warga di 12 desa kekeringan kini dikerahkan ke Bromo untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo mengatakan pihaknya menerjunkan dua unit mobil damkar berukuran kecil yang mampu menembus jalur terjal menuju Tosari. Armada besar tidak bisa dipakai, medannya terlalu berbahaya.

"Untuk memudahkan koordinasi, ada dua mobil pemadam kebakaran yang bisa naik ke ketinggian Tosari kami turunkan. Kalau mobil pemadam yang besar sulit karena medan dan tantangannya sangat berbahaya untuk sopir kita," tegasnya. (ube/zen/tom/fun)

Editor : Abdul Wahid
pasuruan kebakaran bromo wonokitri tnbts