PASURUAN, Radar Bromo - Tingkat okupansi atau hunian hotel di Kota Pasuruan, cukup tinggi. Jika di rata-rata, tingkat keterisian mencapai lebih dari 30 persen. Namun, rata-rata lama menginap wisatawan masih stagnan. Hanya satu hari.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pasuruan, tingkat okupansi hotel fluktuatif. Sempat menurun ke angka 30,64 persen pada Maret setelah sebelumnya sempat mencapai 33,40 persen pada Februari. Pada April, tingkat hunian hotel kembali naik ke angka 33,62 persen.
Namun, kembali turun pada Mei di angka 29,27 persen. Sebelum meningkat lagi pada Juni menjadi 35,42 persen. Tetapi, rata-rata lama wisatawan menginap tetap satu hari. Baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Angka ini tidak berubah sejak tahun lalu.
Kepala BPS Kota Pasuruan Noyo Purwoko mengatakan, pada Mei, dari setiap 100 kamar di hotel, ada 29 sampai 30 kamar yang terisi. Sementara, pada periode Juni, dari 100 kamar di hotel, ada 5 sampai 36 kamar yang dihuni. Namun, tingginya hunian tidak berbanding lurus dengan lama menginap.
“Tingkat hunian hotel ada kenaikan meski fluktuatif. Tapi, rata-rata lama menginap masih stagnan. Seperti tahun lalu, hanya satu hari," katanya.
Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Pasuruan Kokoh Arie Hidayat mengatakan, rata-rata lama menginap wisatawan yang masih satu hari menjadi bahan evaluasi penting bagi Pemkot. Kondisi ini menunjukkan Kota Pasuruan masih menjadi transit city.
Ke depan, ia mengaku akan terus memperkuat ekosistem heritage, mendorong kolaborasi paket wisata dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta mengembangkan sektor meetings, intensive, conferences dan exhibition (MICE). Agar wisatawan memperpanjang masa tinggal.
“Mengintegrasikan kawasan Kota Pusaka, wisata religi, dan ruang publik agar memiliki daya tarik malam hari (night economy) yang mendorong wisatawan untuk bertahan lebih lama," ujar Kokoh. (riz/rud)
Editor : Fahreza Nuraga