
SUKAPURA, Radar Bromo-Kebakaran hebat yang melanda kawasan Bromo Sabtu malam (8/8) berujung penutupan segala aktivitas wisata Gunung Bromo.
Minggu siang (9/8), Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni datang memantau penanganan kebakaran di sejumlah titik.
Pemadaman dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai unsur. Mulai BPBD dari empat wilayah, BNPB, BB TNBTS, TNI/Polri, hingga petugas pemadam kebakaran (damkar).
Sedikitnya, tujuh unit fire truck dikerahkan untuk mendukung pemadaman dari darat. Dua unit di antaranya didatangkan dari Mojokerto dan Surabaya. Selain itu, sejumlah mobil tangki juga disiagakan untuk menyuplai kebutuhan air selama proses pemadaman.
“Ada tujuh fire truck yang kami turunkan. Dua di antaranya dari Mojokerto dan Surabaya, serta mobil tangki suplai air yang melakukan penanganan darat,” terang Emil.
Baca Juga: Kebakaran Bromo di Bukit Dingklik dan Penanjakan Tosari Pasuruan Membesar, Api Merembet ke Atas
Penanganan juga dilakukan dari udara. Tim mengerahkan drone sprayer serta tiga helikopter water bombing yang mengambil air dari Ranu Pani dan Ranu Regulo.
Emil menjelaskan, fokus pemadaman darat dan udara dilakukan di kawasan Pundak Lembu hingga Puncak P30, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.
Namun petugas juga menemukan titik api baru di kawasan Pananjakan dan Dingklik yang berada di luar perimeter kebakaran sebelumnya.
Temuan tersebut langsung ditangani agar api tidak kembali meluas. Pemadaman dilakukan menggunakan kombinasi metode darat dan udara sesuai kondisi medan.
“Di Pundak Lembu dan puncak P30 kami lakukan pemadaman. Tapi ternyata di Pananjakan dan Dingklik juga ada titik api yang berada di luar perimeter api. Ini segera kami padamkan juga melalui darat dan udara agar api tak menyebar lagi,” jelasnya.
Untuk pemadaman manual, petugas menghadapi kendala karena sejumlah gebyok rusak. Petugas lantas menggunakan ranting untuk pendinginan atau menangani titik-titik api berukuran kecil.
“Sementara untuk memadamkan api yang besar memang harus pakai water bombing, terutama titik yang tidak bisa dijangkau secara manual,” jelasnya.
Mobil damkar juga dimaksimalkan melalui jalur darat yang masih memungkinkan untuk dilalui.
Salah satunya kawasan Pananjakan. Namun kendaraan damkar tidak dapat mendekati titik api secara langsung di Watangan karena medan yang sulit.
Meski sebagian besar kobaran api telah berhasil dipadamkan, Emil menegaskan bahwa kondisi tersebut belum membuat petugas lengah.
Potensi munculnya kembali titik api masih tinggi karena angin kencang dapat membawa bara ke lokasi lain. Sementara vegetasi kering menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.
Untuk mengantisipasi api kembali meluas, sekat bakar sepanjang sekitar enam kilometer di sisi selatan Lembah Watangan kini dijaga personel TNBTS.
“Ada sekitar enam kilometer sekat bakar yang kini dijaga oleh personel TNBTS. Ada 10 orang dan akan kami tambah 10 orang lain untuk melakukan patroli. Jangan sampai api melompati sekat tersebut,” tegasnya.
Emil menjelaskan, kawasan yang terbakar merupakan sabana. Bukan lahan pertanian yang biasa terdapat aktivitas manusia.
Karena itulah, penyebab kebakaran diduga karena aktivitas manusia. Salah satunya kemungkinan berasal dari penggunaan api unggun yang tidak sepenuhnya dipadamkan.
“Lokasi yang terbakar bukan ladang, jadi tidak mungkin sengaja dibakar. Tapi mungkin tidak sengaja. Kalau warga sekitar pun tidak mungkin. Oleh karena itu, kami lakukan pembatasan kunjungan,” katanya.
Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menerangkan, pemerintah berupaya memadamkan api di kawasan Bromo dengan sejumlah cara.
Salah satunya, dengan mengoptimalkan pemadaman menggunakan helikopter water bombing.
Menurut Raja Juli, pemadaman oleh tiga helikopter water bombing akan dilakukan sebanyak 30 sortie atau penerbangan untuk penyiraman dari udara. Hingga saat ini, menurutnya, sudah mencapai 17 sortie.
“Semoga cuaca juga mendukung hari ini (Minggu, Red) agar titik api yang ada di kelerengan yang sulit dijangkau, dapat segera padam,” tuturnya.
Menurutnya, upaya modifikasi cuaca untuk penanganan kebakaran Bromo belum dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, disebutkannya, modifikasi cuaca belum memungkinkan dilakukan hingga sekitar 10 hari ke depan.
“Tadi kami sudah koordinasi dengan BMKG. Secara matematis tidak dimungkinkan operasi tersebut. Jadi kami memaksimalkan water bombing dan pasukan darat,” katanya.
Untuk memastikan penanganan lebih terkoordinasi, pemerintah juga menyusun action command sebagai upaya pusat kendali operasi.
Dengan sistem tersebut, pembagian tugas dan pemantauan di lapangan diharapkan dapat dilakukan lebih terstruktur.
“Karena itu, kami sudah membuat action command agar pekerjaan ini lebih terstruktur dan teratur sehingga pemadaman lebih maksimal,” ujarnya. (gus/mie)
Editor : Muhammad Fahmi