Nelayan Nguling yang Hilang Karena Diterjang Ombak Ditemukan Meninggal, Jenazahnya Nyangkut di Jaring di Perairan Kapasan

Fuad Alyzen • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 17:17 WIB
DUKA: Warga dan petugas mengevakuasi jenazah Sugianti, nelayan asal Desa Penunggul, Minggu (2/8) pagi. Sugianto sempat hilang usai perahu yang digunakannya dihantam ombak besar, Sabtu (1/8). (Foto : Screenshot)
DUKA: Warga dan petugas mengevakuasi jenazah Sugianti, nelayan asal Desa Penunggul, Minggu (2/8) pagi. Sugianto sempat hilang usai perahu yang digunakannya dihantam ombak besar, Sabtu (1/8). (Foto : Screenshot)

 

NGULING, Radar Bromo – Pencarian terhadap nelayan yang hilang setelah diterjang ombak di Perairan Penunggul, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, akhirnya membuahkan hasil.

Sugianto, 44, ditemukan dalam kondisi tak bernyata atau meninggal dunia pada Minggu pagi (2/8), tidak jauh dari lokasi awal dilaporkan hilang.

Korban yang merupakan seorang nelayan asal Dusun Sawahan, Desa Penunggul, Kecamatan Nguling, sebelumnya ia dilaporkan hilang setelah terjatuh ke laut saat perahu kecil yang ditumpanginya dihantam ombak besar, Sabtu malam (1/8).

Berdasarkan laporan kepolisian, korban berangkat melaut sekitar pukul 16.30 bersama mertuanya, Misnajin, 76, dan rekannya, Saiful Bahri, 37, menggunakan perahu nelayan kecil berukuran sekitar tiga meter.

Sekitar pukul 20.00, ketiganya hendak kembali ke daratan. Namun saat berada sekitar 1,5 kilometer dari bibir Pantai Penunggul, angin kencang disertai ombak besar menghantam perahu.

Baca Juga: Diterjang Ombak Besar, Nelayan Nguling Pasuruan Hilang di Laut Saat Pulang Melaut

Dalam kondisi tersebut, Sugianto diketahui melompat ke laut. Saiful Bahri sempat melempar ban pelampung sebagai upaya penyelamatan.

Namun sebelum sempat diraih korban, ombak kembali menerjang hingga korban hilang dari pandangan.

Kedua saksi sempat menunggu sekitar 10 menit di lokasi kejadian. Karena korban tak kunjung muncul, mereka kembali ke daratan untuk meminta bantuan warga. Informasi itu kemudian diteruskan kepada Satpolairud Polres Pasuruan pada Sabtu (1/8) pukul 22.30.

Polisi kemudian berkoordinasi dengan BPBD dan Kantor SAR Surabaya untuk melakukan operasi pencarian.

Selain tim SAR dan aparat kepolisian, proses pencarian juga melibatkan puluhan nelayan setempat yang sejak Sabtu malam menyisir perairan menggunakan perahu masing-masing.

Warga Desa Penunggul, Suparman, mengatakan korban baru ditemukan, Minggu (2/8) pagi. Menurutnya, jasad korban ditemukan setelah tersangkut pada jaring payang milik nelayan di kawasan perairan antara Desa Kapasan.

"Korban ditemukan sekitar jam delapan pagi. Awalnya tersangkut di jaring payang atau troll milik nelayan," ujarnya.

Suparman mengaku mengetahui kronologi kejadian dari para nelayan yang berada satu rombongan dengan korban. Saat itu, tiga nelayan berangkat melaut dan hendak pulang selepas waktu Isya. Namun kondisi laut berubah drastis dengan ombak yang cukup besar.

"Perahunya bukan terbalik, tapi kemasukan air. Ombaknya besar. Korban akhirnya melompat ke laut, sedangkan dua nelayan lainnya berhasil selamat," tuturnya.

Menurut Suparman, pencarian dilakukan sepanjang malam oleh kelompok nelayan Desa Penunggul hingga akhirnya korban ditemukan pada Minggu pagi. Penemuan itu sekaligus mengakhiri operasi pencarian yang melibatkan nelayan, aparat kepolisian, BPBD, Babinsa, serta Tim SAR gabungan.

Keterangan sejalan dengan penjelasan Kepala Desa Penunggul, E. S. Irwandi, yang menyebut jasad korban pertama kali ditemukan oleh Rohim, nelayan asal Dusun Wates, Desa Kedawang, Kecamatan Nguling, di sekitar perairan wilayah laut Desa Kapasan.

"Pak Rohim saat itu sedang sendirian di laut. Setelah menemukan korban, beliau menunggu bantuan dan kemudian bertemu kelompok nelayan Desa Penunggul yang sejak malam sebelumnya memang melakukan pencarian secara berkelompok," jelas Irwandi.

Menurut Irwandi, setelah penemuan tersebut, informasi langsung diteruskan kepada kelompok nelayan Desa Penunggul dan tim SAR gabungan sehingga proses evakuasi dapat segera dilakukan menggunakan perahu.

Sementara itu, Koordinator Tim SAR Candra Krustyawan mengatakan tim menerima informasi penemuan korban pada pukul 07.50. Korban ditemukan pada koordinat 7°41'23.66" LS dan 113°05'37.40" BT, tidak jauh dari lokasi awal korban dilaporkan hilang. Setelah dievakuasi ke dermaga nelayan, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga dan operasi SAR resmi ditutup.

Koordinator Tim SAR, Candra Krustyawan, mengatakan Tim Rescue Kantor SAR Surabaya tiba di lokasi pada Minggu (2/8) pukul 07.45 dan langsung berkoordinasi dengan keluarga korban serta unsur SAR gabungan.

"Sekitar pukul 07.50 kami menerima informasi dari nelayan bahwa korban telah ditemukan dan dievakuasi ke atas perahu dalam keadaan meninggal dunia. Lokasi penemuan berada pada koordinat 7°41'23.66'' LS dan 113°05'37.40'' BT, tidak jauh dari lokasi kejadian awal," ujarnya.

Jenazah kemudian dibawa ke dermaga nelayan sekitar pukul 08.15 sebelum diserahkan kepada pihak keluarga. Setelah itu, seluruh unsur SAR melaksanakan debriefing dan pada pukul 08.30 WIB operasi SAR dinyatakan selesai serta resmi ditutup.

Dalam operasi pencarian tersebut, unsur SAR yang terlibat terdiri atas enam personel Kantor SAR Surabaya, lima personel BPBD Kabupaten Pasuruan, dua personel Polsek Nguling, dua personel Babinsa Penunggul, serta dibantu warga setempat.

Tim mengerahkan satu unit Rescue Car Type II, satu unit perahu karet beserta mesin tempel, tiga unit alat komunikasi, peralatan water rescue, dan perlengkapan medis. Selama proses pencarian, kondisi cuaca dilaporkan cerah.

Sementara itu, Plt Kasi Humas Polres Pasuruan Kota Aipda Junaidi membenarkan korban telah ditemukan setelah dilakukan pencarian oleh tim gabungan bersama nelayan.

"Korban telah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia pada Minggu pagi. Selanjutnya korban dievakuasi ke darat dan diserahkan kepada pihak keluarga. Kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta mengapresiasi seluruh unsur SAR, para nelayan, dan masyarakat yang terlibat dalam proses pencarian," katanya.

Junaidi juga mengimbau para nelayan agar selalu memperhatikan prakiraan cuaca sebelum melaut serta tidak memaksakan diri beraktivitas di laut apabila kondisi gelombang dan angin berpotensi membahayakan keselamatan.

Diketahui, korban merupakan menantu dari Misnajin, salah seorang saksi yang turut melaut bersama korban saat kejadian.

Insiden ini menjadi pengingat bagi para nelayan untuk selalu mengutamakan keselamatan saat beraktivitas di laut, terutama ketika cuaca sedang tidak bersahabat. (zen/fun)

Editor : Fandi Armanto
nelayan hilang pasuruan satpolairud polres pasuruan kota nguling