Bagi Akhmad Nasor, kepala SDN Baujeng I, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, pendidikan di era digital seharusnya tidak lagi membebani guru, dengan urusan birokrasi kertas yang melelahkan.
Keresahan itulah, yang memicu lahirnya Be Innovative School Management (BISMA), sebuah aplikasi berbasis web dan Android yang mengantarkannya menyabet gelar juara INOPAMAS 2026 untuk kategori Teknologi/Non-Teknologi.
-------------------------
RIZAL FAHMI SYATORI, Beji, Radar Bromo
--------------------------
Langkah besar Nasor dimulai, tak lama setelah ia dilantik menjadi Kepala Sekolah pada 19 Mei 2025.
Alumnus Magister Pendidikan Sains Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ini, langsung memutar otak untuk menciptakan ekosistem sekolah yang lebih efisien.
Prosesnya tidak instan. Selama empat bulan penuh—dari Mei hingga September 2025—ia menghabiskan waktu di depan layar komputer.
Merancang kode demi kode, demi memindahkan kerumitan manajemen sekolah ke dalam genggaman gawai.
"Inovasi BISMA ini dibuat, untuk memudahkan manajemen sekolah dan pembelajaran. Pemakaiannya bisa melalui komputer maupun Android," ujar bapak dua anak ini.
BISMA bukan sekadar aplikasi absensi atau nilai digital biasa. Nasor menyuntikkan tiga pilar inovasi yang responsive, terhadap perkembangan zaman. Yakni AI Power, Ecopreneur, serta Character Building (Kasih Ibu).
Ia menjelaskan, AI Power merupakan fitur yang menjadi penyelamat waktu bagi para guru.
Menggunakan kecerdasan buatan, sistem dapat menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), modul ajar, hingga membuat permainan edukatif secara otomatis.
Guru kini punya lebih banyak waktu untuk fokus mengajar, bukan mengetik administrasi.
Sementara Ecopreneur berfungsi untuk mengajak siswa peduli lingkungan sejak dini.
Sekolah mengintegrasikan konsep bank sampah digital, di mana setiap kontribusi lingkungan siswa tercatat secara transparan dan bernilai ekonomi.
Terakhir adalah Character Building (Kasih Ibu). Yakni jembatan penghubung antara sekolah dan rumah.
Fitur ini merekam tujuh kebiasaan baik anak di rumah, yang dipantau langsung oleh orang tua.
Setiap pencapaian positif, akan mendapatkan penghargaan (gift) digital yang memotivasi anak.
Kemudahan menjadi kunci utama mengapa BISMA cepat diterima. Guru cukup masuk menggunakan Nomor Induk Pegawai (NIP), sementara orang tua menggunakan Nomor Induk Siswa (NIS) anak mereka.
Integrasi ini membuat pengawasan tumbuh kembang anak menjadi sangat transparan.
Keberhasilan BISMA tidak berhenti di dinding SDN Baujeng I. Saat ini, seluruh Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Beji telah mereplikasi sistem ini.
Bahkan, gaungnya telah meluas hingga ke beberapa jenjang SMP, SMA, dan SMK di wilayah Kabupaten Pasuruan.
Sebagai Sekretaris Himpunan Penggiat Adiwiyata sekaligus Fasilitator Digitalisasi Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan, lelaki 39 ini mengaku belum puas.
Di sela-sela kesibukannya, ia kini tengah sibuk menyempurnakan tampilan dan menambah fitur baru pada BISMA, agar tetap relevan menembus masa depan pendidikan digital Indonesia. (one/*)
Baca Juga: Inovator Inopamas Harus Terus Lahirkan Terobosan, Ini Daftar Lengkap Peraih Terbaik
Editor : Moch Vikry Romadhoni