PASURUAN, Radar Bromo-Saat warga memblokade jalan nasional Kamis (23/7), praktis arus lalu lintas di jalur pantura Pasuruan. Sejak ditutup mulai pukul 10.30, jalan nasional lumpuh sekitar 6,5 jam.
Ada aatusan warga yang mayoritas berasal dari Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok dan Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling, yang memblokade Jalan Raya Nguling. Aksi itu karena setelah ada peluru nyasar TNI AL.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, sebelum beraksi warga sudah berkumpul terlebih dahulu sejak sejak pagi. Hingga sekitar pukul 10.00, ratusan warga bergerak menuju simpang tiga di jalan nasional yang berlokasi di Dusun Sumurwaru, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling.
Aksi tersebut dilakukan spontan. Warga langsung menutup ruas jalan di depan Markas Komando Latihan Militer (Makolatmar) TNI AL. Blokade ini membuat arus lalu lintas (lalin) dari arah Surabaya yang hendak ke timur dan sebaliknya, terhenti sejak pukul 10.30. Akibatnya, sejumlah kendaraan yang melintas harus berhenti menunggu blokade dibuka.
Sejumlah kendaraan roda empat dan bus dialihkan melalui Tol Gempol-Pasuruan. Kendaraan diminta melintasi Exit Tol Grati. Beberapa kendaraan sempat putar balik saat mengetahui jalan depan Makolatmar TNI AL ditutup warga.
Selama menutup jalan, warga menyerukan meminta latihan yang dilakukan oleh personel TNI AL dihentikan dahulu. Warga meminta latihan dihentikan sampai ada kepastian rasa aman pada warga.
Koordinator aksi, Sugiyanto menuturkan aksi blokade ini dilakukan sebagai protes adanya peristiwa peluru nyasar di rumah warga karena latihan yang dilakukan TNI AL. Latihan ini dilakukan sejak Rabu (22/7). Sayangnya, kata Sigiyanto, tidak ada pemberitahuan pada warga atas latihan tersebut.
Katanya, dalam latihan Rabu (22/7), ada empat peluru nyasar yang ditemukan warga Alastlogo. Desa ini memang dekat dengan Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur).
Kejadian ini kembali terulang pada Kamis (23/7). Ada tiga peluru nyasar yang ditemukan di sekitar rumah warga. Pihaknya pun melaporkan hal ini pada Kecamatan Lekok dan Polsek Lekok. Camat dan kapolsek sempat mendatangi lokasi peluru nyasar.
"Tidak ada pemberitahuan ke warga. Setelah kami tanyakan ke TNI AL, latihan dilakukan beberapa hari sampai 2 Agustus. Ini yang kami persoalkan," katanya.
Pria yang juga Sekretaris Desa Alastologo ini menuturkan, tim Inafis Polres Pasuruan Kota sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Peluru yang ditemukan di TKP sudah diamankan. Ia meminta agar latihan yang dilakukan TNI AL tetap memperhatikan keselamatan masyarakat.
Pihaknya mendorong agar latihan dihentikan dahulu. Sampai ada kesepakatan yang menjamin peristiwa ini tidak terulang lagi. Warga juga meminta jaminan dapat hidup dengan aman dan nyaman di rumah masing masing. Latihan militer harus mengutamakan radius aman.
"Jangan sampai ada peluru nyasar lagi yang membahayakan warga setempat. Pastikan latihan militer tidak membahayakan warga setempat," tutur Sugiyanto.
Aksi blokade berjalan lama karena perundingan untuk memenuhi tuntutan masyarakat cukup alot. Masyarakat ingin permintaan agar pelatihan tak digelar lagi dan ditulis di atas materai.
Aksi blokade jalan itu ikut mendapat atensi dari Pemkab dan DPRD Kabupaten Pasuruan. Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Pasuruan, Eko Suryono dan Sugiyanto datang ke lokasi sekitar pukul 13.30. Sekda Kabupaten Pasuruan, Yuda Tri Widya Sasongko turut hadir selama blockade, sekitar pukul 14.30.
Eko Suryono meminta agar pihak TNI AL mematuhi komitmen yang telah disampaikan oleh pemerintah pusat. Yakni menyelesaikan sengketa agraria di 10 desa termasuk Alastlogo. Pihaknya berharap agar tidak ada lagi insiden serupa berupa peluru nyasar dengan menghentikan pelatihan di lokasi.
"Seluruh rakyat Alastlogo ini membayar pajak ke negara yang digunakan untuk membiayai APBN termasuk kebutuhan militer. Kami minta agar tidak ada lagi pelatihan ke depannya," jelas Eko.
Di sisi lain, Komandan Latihan Korps Bintara Lantamal Letkol Marinir Bangkit Setiawan menyebut, dia memohon maaf atas adanya peluru nyasar saat pelatihan berlangsung. Pihaknya setuju untuk menghentikan pelatihan di Alastlogo demi kenyamanan masyarakat.
Ke depannya pihaknya tidak bisa memastikan sebab itu bukan kewenangan darinya untuk memastikan.
"Saya bisa membuat surat pernyataan untuk menghentikan pelatihan menembak. Namun saya bukan pengambil keputusan. Sebab saya punya atasan," jelas Bangkit saat menemui aksi massa di depan Kolatmar.
Aksi massa memblokade jalan baru berakhir sekitar pukul 17.10. Kendaraan akhirnya bisa melintas lagi di jalur pantura setelah blockade dibuka. (riz/fun)
Editor : Fandi Armanto