PASURUAN, Radar Bromo–Musim kemarau di Jawa Timur semakin menguat. Berdasarkan pembaruan Informasi Iklim Dasarian BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur per 20 Juli 2026, sebagian besar wilayah provinsi ini mengalami hari tanpa hujan (HTH) berturut-turut dengan kategori panjang hingga kekeringan ekstrem.
Kondisi tersebut diperkirakan masih berlanjut hingga akhir Juli dan berdampak pada meningkatnya risiko kebakaran.
Dalam analisis HTH dasarian II atau periode 11–20 Juli 2026, BMKG mencatat mayoritas wilayah Jawa Timur berada pada kategori panjang (21–30 hari) hingga kekeringan ekstrem (lebih dari 60 hari).
Meski demikian, masih terdapat sejumlah titik yang masuk kategori sangat pendek (1–5 hari), pendek (6–10 hari), menengah (11–20 hari), sangat panjang (31–60 hari), maupun lokasi yang masih mengalami hujan atau datanya masih diperbarui.
Selain itu, distribusi curah hujan pada dasarian II Juli 2026 secara umum berada dalam kategori rendah. Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut pada dasarian III atau periode 21–31 Juli 2026. BMKG memprediksi curah hujan di Jawa Timur masih berada pada kategori rendah dengan peluang (probabilistik) lebih dari 90 persen.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo Rendy Irawadi mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan musim kemarau masih mendominasi Jawa Timur. Sehingga peluang hujan dalam beberapa hari ke depan relatif kecil.
"Curah hujan pada Dasarian III Juli 2026 secara umum masih diprediksi berada pada kategori rendah dengan peluang lebih dari 90 persen. Masyarakat perlu mengantisipasi dampak musim kemarau, terutama di wilayah yang sudah mengalami hari tanpa hujan cukup panjang," ujarnya.
Rendy mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air. Masyarakat juga harus serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran lahan maupun permukiman selama musim kemarau berlangsung.
Dampak kemarau mulai dirasakan di Kota Pasuruan. Personel Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Pasuruan Anang Sururin menyebut, suhu udara pada siang hari saat musim kemarau dapat mencapai 32 hingga 35 derajat Celsius. Tingginya suhu dipengaruhi karakteristik Kota Pasuruan yang berada di kawasan pesisir dan dataran rendah.
"Pasuruan termasuk wilayah pesisir dan dataran rendah. Saat musim kemarau suhu udara pada siang hari bisa mencapai 32 hingga 35 derajat Celsius," katanya.
Menurut Anang, angin timur yang identik dengan musim kemarau membuat udara semakin kering dan gerah. Kondisi itu diperparah dominasi permukaan aspal dan beton serta berkurangnya ruang terbuka hijau yang memunculkan efek pulau panas (urban heat island). Akibatnya, udara tetap terasa panas bahkan hingga malam hari.
"Angin timur membuat udara semakin kering. Ditambah dominasi aspal, beton, serta berkurangnya pepohonan di kota menimbulkan efek pulau panas, sehingga bahkan pada malam hari udara masih terasa panas," jelasnya.
Ia mengingatkan cuaca panas dan kering meningkatkan potensi kebakaran rumah, lahan hingga pasar. Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati terhadap sumber api, terutama dengan rutin memeriksa instalasi listrik agar terhindar dari korsleting.
"Kami mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran rumah, lahan, maupun pasar. Lakukan pengecekan instalasi listrik secara berkala agar terhindar dari korsleting," ujarnya.
BPBD di Kota maupun Kabupaten Pasuruan juga menyiagakan personel beserta seluruh sarana dan prasarana pendukung menghadapi potensi kebakaran. Semua personel harus siaga karena kebakaran bisa terjadi kapanpun.
"Kami juga telah menyiapkan personel dan seluruh sarana prasarana. Ketersediaan air maupun perlengkapan lainnya dipastikan siap digunakan apabila sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat," beber Anang. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid