PASURUAN, Radar Bromo - Cuaca panas mulai menyelimuti Kota Pasuruan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut tidak hanya membuat aktivitas warga terasa lebih berat, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran, baik di permukiman, lahan, maupun pasar.
Personel Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Pasuruan Anang Sururin menjelaskan, suhu udara di Kota Pasuruan saat musim kemarau, memang cenderung lebih tinggi.
Hal itu dipengaruhi karakteristik wilayah yang berada di kawasan pesisir dan dataran rendah.
"Pasuruan termasuk wilayah pesisir dan dataran rendah. Saat musim kemarau, suhu udara pada siang hari bisa mencapai 32 hingga 35 derajat Celsius," ujarnya.
Selain suhu yang meningkat, angin timur yang identik dengan musim kemarau, juga membuat udara terasa lebih kering dan gerah.
Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya permukaan aspal dan beton, serta berkurangnya ruang hijau di kawasan perkotaan.
Menurut Anang, kondisi cuaca seperti saat ini, perlu diwaspadai. Karena dapat memicu meningkatnya potensi kebakaran.
Oleh sebab itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati, terutama terhadap sumber-sumber api di lingkungan rumah.
BPBD Kota Pasuruan mengimbau warga, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran rumah, lahan maupun pasar.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan, adalah memeriksa instalasi listrik secara berkala guna menghindari korsleting yang berpotensi memicu kebakaran.
"Kami mengimbau masyarakat, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran rumah, lahan, maupun pasar. Lakukan pengecekan instalasi listrik secara berkala agar terhindar dari korsleting," katanya.
Di sisi lain, BPBD Kota Pasuruan juga telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi.
Personel disiagakan beserta sarana dan prasarana pendukung, untuk menghadapi kemungkinan terjadinya kebakaran selama musim kemarau berlangsung.
"Kami juga telah menyiapkan personel dan seluruh sarana prasarana. Ketersediaan air maupun perlengkapan lainnya dipastikan siap digunakan, apabila sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat," tukasnya. (zen/one)
Editor : Jawanto Arifin