PASURUAN, Radar Bromo - Penantian panjang masyarakat Kecamatan Puspo selama lebih dari satu dekade, akhirnya membuahkan hasil.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) kini tengah gencar melakukan rehabilitasi besar-besaran pada ruas Jalan Puspo–Jimbaran, yang telah mengalami kerusakan parah selama lebih dari 10 tahun.
Selama sekian lama, jalan berlubang dan bergelombang menjadi momok utama, yang menghambat aktivitas sehari-hari warga.
Kerusakan kronis ini tidak hanya memperlambat perjalanan, tetapi juga merugikan para peternak sapi perah setempat.
Karena susu segar yang diangkut, sering kali tumpah akibat guncangan hebat di sepanjang jalur yang rusak.
Menyikapi hal itulah, Pemkab Pasuruan mengucurkan anggaran sebesar Rp 4,6 miliar, untuk memulihkan total ruas jalan sepanjang 3.600 meter.
Kepala Dinas SDABMBK Kabupaten Pasuruan, Sarinah Rostief, menegaskan perbaikan infrastruktur ini, merupakan solusi mendesak untuk memulihkan urat nadi perekonomian warga.
"Perbaikan jalan ini ditujukan, untuk memangkas biaya operasional kendaraan yang selama ini membengkak, akibat kondisi jalan yang rusak parah. Akses yang mulus kini disiapkan, untuk menopang kembali aktivitas ekonomi dan menjaga kualitas hasil produksi peternakan warga," jelas Sarinah.
Saat ini, proyek yang dikerjakan oleh CV Rizka Abadi tersebut, telah menunjukkan progres signifikan di atas 50 persen.
Pekerjaan fisik di lapangan meliputi pembangunan tembok penahan tanah (TPT), sistem drainase untuk mencegah kerusakan jalan berulang, serta pengaspalan yang kini sudah rampung sepanjang 800 meter.
Warga setempat, termasuk Khotib, peternak asal Dusun Setro, mengaku sangat lega karena penderitaan melewati jalan rusak selama 10 tahun terakhir, kini mulai berakhir.
Warga berharap, pemerintah daerah terus menuntaskan sisa pengaspalan jalur Puspo–Jimbaran, hingga sepenuhnya mulus tanpa ada titik rusak yang tersisa.
“Alhamdulillah, sekarang jalannya sudah bagus. Mengangkut susu jadi lebih mudah dan tidak banyak guncangan. Dulu kalau jalannya rusak, susu sering tumpah sehingga volume yang sampai ke tempat penampungan bisa berkurang,” ungkapnya. (one)
Editor : Jawanto Arifin