PASURUAN, Radar Bromo – Musim kemarau di Jawa Timur semakin menguat. BMKG mencatat sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Pasuruan, kini mengalami hari tanpa hujan (HTH) kategori menengah hingga sangat panjang.
Bahkan, peluang hujan pada dasarian II Juli (11–20 Juli 2026) diprediksi tetap rendah dengan probabilitas lebih dari 90 persen.
Berdasarkan Informasi Iklim Dasarian Provinsi Jawa Timur yang diperbarui pada 10 Juli 2026, hasil analisis periode 1–10 Juli menunjukkan HTH berturut-turut di Jawa Timur umumnya berada pada kategori menengah (11–20 hari) hingga sangat panjang (31–60 hari).
Sementara itu, kondisi kekeringan ekstrem atau lebih dari 60 hari tanpa hujan hanya terpantau di sebagian kecil wilayah Blitar, Madiun, dan Magetan.
Di sisi lain, distribusi curah hujan pada dasarian I Juli 2026 secara umum berada dalam kategori rendah. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlanjut pada dasarian II Juli.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo, Rendy Irawadi, mengatakan wilayah Pasuruan memang telah memasuki musim kemarau.
Hingga pertengahan Juli belum ada gangguan atmosfer yang signifikan untuk memicu hujan secara merata.
"Curah hujan di wilayah Pasuruan diperkirakan masih rendah. Karena itu masyarakat perlu mewaspadai dampak musim kemarau seperti kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan maupun kebakaran lahan kering," ujarnya.
Dalam prediksi BMKG untuk 11–20 Juli 2026, hampir seluruh wilayah Jawa Timur diperkirakan mengalami curah hujan kategori rendah. Prediksi deterministik tersebut diperkuat dengan peluang (probabilistik) lebih dari 90 persen, sehingga potensi hujan lebat dalam waktu dekat masih sangat kecil.
Rendy mengimbau masyarakat Pasuruan agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. Petani juga diminta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca, sementara warga diimbau tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan yang dapat memicu kebakaran.
"Pantau terus informasi cuaca dan iklim terbaru dari BMKG agar masyarakat dapat mengantisipasi dampak musim kemarau sejak dini," pungkasnya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid