PASURUAN, Radar Bromo - Jumlah tenaga pustakawan di Kota Pasuruan, dinilai belum memenuhi angka ideal.
Fasilitas literasi daerah tersebut, saat ini masih kekurangan dua orang pustakawan dari total kebutuhan yang dipersyaratkan.
Kendati demikian, Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disperpusip) Kota Pasuruan memastikan, roda pelayanan di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Sekargadung tetap berjalan dengan optimal.
Berdasarkan status kelembagaannya, Perpusda Sekargadung Kota Pasuruan masuk dalam kategori perpustakaan tipe B.
Sesuai dengan regulasi Peraturan Perpustakaan Nasional RI Nomor 2 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Umum, instansi dengan tipe B, idealnya harus diperkuat oleh delapan orang tenaga pustakawan.
Kepala Disperpusip Kota Pasuruan, Mahbub Effendi membenarkan kondisi tersebut.
Saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan tercatat, baru memiliki enam orang pustakawan aktif yang bertugas melayani pemustaka.
"Idealnya untuk perpustakaan tipe B, adalah delapan orang. Namun, jumlah pustakawan yang kami miliki saat ini, baru enam orang. Artinya, kami masih kekurangan dua personel pustakawan," ungkap Mahbub.
Meski menghadapi keterbatasan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM), Mahbub menegaskan, pelayanan publik sama sekali tidak terganggu.
Perpusda Sekargadung tetap berkomitmen membuka pelayanan penuh, selama hari kerja dan akhir pekan. Agar mengakomodasi kebutuhan literasi masyarakat.
Untuk jadwal operasional, Perpusda Sekargadung melayani pengunjung setiap Senin hingga Jumat, mulai pukul 08.00 sampai 16.00.
Sementara pada hari Sabtu, jam layanan dibuka terbatas, mulai pukul 08.00 hingga 12.00.
Pihak dinas mengundang seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum, untuk memanfaatkan seluruh fasilitas yang tersedia di perpusda secara gratis.
Pengunjung diperbolehkan membaca langsung di lokasi maupun meminjam buku, untuk dibawa pulang tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Koleksi literatur yang disediakan pun tergolong lengkap. Mencakup buku fiksi, referensi umum, ensiklopedia, buku keagamaan, hingga buku biografi.
"Masyarakat silakan datang dan membaca buku, tanpa dipungut biaya. Fasilitas ini terbuka lebar, baik untuk dibaca di tempat maupun untuk dipinjam," beber Mahbub. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin