
Hampir setiap musim hujan, Kali Petung selalu meluap. Sedimen yang tinggi di bawah aliran sungai menjadi penyebabnya. Kondisi ini membuat sungai meluap dan meluber ke Jembatan Bokwedi di jalan Ir Juanda, Blandongan, Kota Pasuruan. Akibatnya jembatan terendam dan arus lalu lintas lumpuh.
JALAN Ir Juanda yang lebih rendah dari jembatan di sisi barat dan timur kebanjiran. Sebagai solusi, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII Jatim Bali meninggikan jembatan nasional itu.
Pengerjaan jembatan sudah dilakukan sejak April lalu dengan melakukan pembongkaran jembatan lama dan diganti dengan jembatan baru. Selama pengerjaan berlangsung, jalan nasional Ir Juanda ditutup total. Pengalihan lalu lintas harus dilakukan, meskipun ada konsekuensinya.
Kendaraan dari arah Surabaya yang hendak ke Probolinggo atau sebaliknya dan kendaraan dari arah Probolinggo yang hendak ke Malang atau sebaliknya, harus melewati jalur lingkar selatan (JLS) Pasuruan. Penutupan berlangsung sampai jembatan rampung pada November mendatang.
PT Pesona Sakti Indonesia (PSI), Kontraktor asal Surabaya yang menggarap peninggian jembatan Bokwedi optimistis, jembatan baru bisa menjadi solusi warga tidak kebanjiran.
Sebab tidak hanya lebih tinggi dari jembatan lama, PT PSI juga harus membangun drainase di ruas jalan Ir Juanda di sisi barat dan timur jembatan itu. Sehingga aliran air hujan tidak sampai menggenangi jalan.
Ismail, pelaksana dari PT PSI menuturkan, jembatan baru memiliki spesifikasi yang berbeda dengan jembatan lama.
Memiliki ketinggian tiga meter dari eksisting jalan aspal, jembatan ini juga memiliki panjang oprit di sisi barat dan timur masing masing 120 meter. Tentu berbeda dengan jembatan lama yang tingginya hanya 0 meter dari eksisting jalan aspal.
Namun untuk lebar jembatan, kata Ismail, sama dengan yang lama. Jembatan baru nanti lebarnya tetap 9,15 meter. Jembatan baru tidak dilebarkan.
Meski hanya peninggian, Ismail menyebut, ini sudah cukup menghindari meluapnya air ke permukaan jalan. "Aliran Sungai Petung di bawah jembatan sudah dikeruk melalui normalisasi. Jembatan juga sudah ditinggikan, Insyaallah tidak lagi banjir," katanya.
Ismail optimistis, sebab tidak hanya jembatan yang ditinggikan, pihaknya juga melakukan pengerjaan pada drainase di kedua sisi jalan Ir Juanda.
Sebelumnya memang sudah ada drainase di sisi barat jembatan, namun drainase di lokasi ini sempit dan dipenuhi sedimen sehingga saat terjadi banjir, air tidak bisa mengalir maksimal.
Sementara di sisi timur jalan, tidak ada drainase. Drainase di sisi barat ini dibangun dari eksisting jembatan sepanjang 114 meter. Sementara di sisi timur di garap sepanjang 353 meter. Pengerjaan drainase ini bisa menjadi solusi saat terjadi hujan lebat. Sehingga jalan tidak terendam.
"Tidak hanya jembatan yang ditinggikan, ruas jalan nasional Ir juanda juga dibangun drainase. Agar jalan tidak terendam saat hujan," sebut Ismail.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pasuruan, Gustap Purwoko menyebut, banjir yang terjadi di Blandongan tidak selalu karena hujan deras. Seringkali karena luapan Sungai Petung akibat kiriman dari hulu.
Sedimen yang tinggi membuat sungai tidak bisa menampung debit air sshingga meluap dan meluber ke jembatan dan jalan nasional. Selama ini PUPR rutin berkoordinasi dengan UPT SDA Gembong Pekalen agar Kali Petung dinormalisasi.
Setiap tahunnya saat ada keluhan dari masyatakat karena Kali Petung meluap, wali kota berkirim surat ke gubernur agar di lakukan normalisasi. Upaya normalisasi menjadi kewenangan Pemprov Jatim.
"Insyaallah peninggian jembatan dan normalisasi Sungai Petung bisa menjadi solusi banjir. Normalisasi kewenangan pemprov," tutur Gustap. (riz/fun)
Editor : Muhammad Fahmi