Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Harmoni Terjaga, Kota Pasuruan Berhasil Ukir Capaian Nasional, DIganjar Penghargaan Kementerian Dalam Negeri

Fahrizal Firmani • Selasa, 30 Juni 2026 | 08:13 WIB
TINGKAT NASIONAL: Kepala Diskominfotik Kota Pasuruan yang mewakili Pemkot Pasuruan saat menerima penghargaan Keberhasilan Pengukuran Indeks Harmoni Indonesia (IHaI) Tahun 2025 dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (Foto: Diskominfotik Kota Pauruan for Jawa Pos Radar Bromo)
TINGKAT NASIONAL: Kepala Diskominfotik Kota Pasuruan yang mewakili Pemkot Pasuruan saat menerima penghargaan Keberhasilan Pengukuran Indeks Harmoni Indonesia (IHaI) Tahun 2025 dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (Foto: Diskominfotik Kota Pauruan for Jawa Pos Radar Bromo)

 

Kota Pasuruan menorehkan prestasi nasional dengan menerima Piagam Penghargaan Keberhasilan Pengukuran Indeks Harmoni Indonesia (IHaI) Tahun 2025 dari Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diterima dalam acara resmi di Kantor Kemendagri, Jakarta.

 IHAI merupakan instrumen nasional yang mengukur kondisi harmoni sosial, tingkat toleransi, partisipasi masyarakat, dan penerimaan terhadap keberagaman di seluruh daerah. Pada tahun 2025, pengukuran dilakukan menggunakan metodologi Wellbeing yang mencakup empat dimensi utama: ekonomi, sosial, budaya, dan keberagamaan melalui 40 indikator.

Kota Pasuruan dinilai berhasil menjalankan proses pengukuran secara lengkap, akuntabel, dan konsisten, serta menunjukkan kualitas data yang menggambarkan kohesi sosial masyarakat. Selain itu, Kota Pasuruan dipandang mampu menjaga suasana yang stabil, rukun, dan mendukung interaksi antarwarga yang harmonis.

Kepala Diskominfotik Kota Pasuruan, Imam Subekti, menegaskan bahwa capaian ini merupakan buah dari kondusivitas daerah serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kerukunan.

Penghargaan ini mencerminkan masyarakat Kota Pasuruan bisa ikut menjaga suasana yang kondusif, toleran, dan saling menghargai.

"Harmoni sosial tidak lahir begitu saja, tetapi merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen,” ujar Imam.

Ia menjelaskan bahwa IHaI memberikan gambaran objektif mengenai hubungan antarwarga melalui survei independen yang dilakukan secara nasional. Indeks Harmoni Indonesia menilai seberapa kuat harmonisasi kehidupan masyarakat di setiap daerah.

"Kota Pasuruan dinilai mampu menjaga stabilitas sosial, keteraturan, dan toleransi antarwarga. Ini menjadi modal penting bagi keberlanjutan pembangunan daerah,” jelasnya.

Imam Subekti juga menyoroti bahwa harmoni sosial yang kuat memberikan efek berantai bagi sektor ekonomi dan dunia usaha. Saat harmoni sosial terjaga, rasa aman masyarakat meningkat.

"Ini juga memberi sinyal positif bagi dunia usaha bahwa Kota Pasuruan adalah daerah yang stabil dan nyaman untuk investasi. Semakin harmonis masyarakatnya, semakin besar peluang pertumbuhan ekonomi dan minat investor,” tambahnya.

Pemerintah Kota Pasuruan berharap penghargaan ini menjadi motivasi bagi seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk terus menjaga toleransi, memperkuat persatuan, serta berperan aktif dalam upaya meningkatkan kondisi sosial yang harmonis.

Pemerintah juga berkomitmen untuk melanjutkan program pembinaan harmoni hingga tingkat kelurahan dan komunitas.

 

PRESENTASI: Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo saat memaparkan desertasi tentang masyarakat berimbang. Adi Wibowo mengangkat studi kesalehan individu dan kesalehan sosial masyarakat perkotaan. (Foto: Diskominfotik Kota Pauruan for Jawa Pos Radar Bromo)
PRESENTASI: Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo saat memaparkan desertasi tentang masyarakat berimbang. Adi Wibowo mengangkat studi kesalehan individu dan kesalehan sosial masyarakat perkotaan. (Foto: Diskominfotik Kota Pauruan for Jawa Pos Radar Bromo)

 Budaya Ngopi dan Tradisi Keagamaan Bentuk Harmoni Kota

 PENDUDUK kota Pasuruan beraneka suku dan latar belakang. Namun perbedaan budaya tidak membuat penduduk saling terpecah belah. Justru keberagaman ini membentuk harmoni yang kuat.

Hal ini diungkapkan oleh Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo. Ia menuturkan dalam desertasinya, ia meneliti tentang masyarakat perkotaan. Dengan judul model masyarakat berimbang: studi kesalehan individu dan kesalehan sosial.

Mas Adi, panggilan akrabnya menyebut, secara sosiologis, penduduk di Kota Pasuruan memang heterogen. Memiliki latar belakang, agama dan budaya yang berbeda. Namun mereka mampu hidup berdampingan. Semua aktivitas masyarakat bisa berjalan baik.

"Di kota, pertumbuhan itu tidak hanya terjadi pada sisi fisik, tapi juga sosial. Masyarakatnya cenderung heterogen, tapi di kota Pasuruan tetap guyub rukun," katanya.

Inipula yang membuat Adi Wibowo menulis desertasi doktoralnya. Orang nomor satu di Kota Pasuruan tersebut mengangkat studi kesalehan individu dan kesalehan sosial masyarakat perkotaan.

Mas Adi menyebut, Kota Pasuruan tentu berbeda dengan kota kota besar seperti Jakarta dan Surabaya di mana penduduknya cenderung individu. Namun Kota Pasuruan menunjukkan karakter yang harmonis. Budaya ngopi dan tradisi keagamaan membentuk harmoni di tengah individualisme kota. Kesadaran saling menghargai lebih tinggi.

Katanya, di kafe dan warung ngopi, semua individu bertemu tanpa memandang latar belakang. Di tempat ini, mereka membicarakan banyak hal tanpa ada yang merasa lebih hebat atau pintar. Di ruang agama, masyarakat beriteraksi dan membentuk kebersamaan.

"Budaya ngopi, budaya keagamaan seperti tahlil atau maulid membuat masyarakat harmonis. Mereka menjadi saling menghargai," jelas Mas Adi.

Namun kondisi ini bukannya tanpa tantangan. Saat ini, semua orang semakin mudah terhubung karena kekuatan teknologi melalui media sosial. Untuk itu, masyarakat harus pandai mengelolanya untuk menjadi alat perekat.

MENATA KOTA: Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo saat mendapat gelar doktoral. (Foto: Diskominfotik Kota Pauruan for Jawa Pos Radar Bromo)
MENATA KOTA: Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo saat mendapat gelar doktoral. (Foto: Diskominfotik Kota Pauruan for Jawa Pos Radar Bromo)

 

Hindari budaya luar yang bukan karakter pancasila. Sikap merasa paling benar, paling unggul dan paham radikalisme. Banyak perselisihan terjadi karena masalah agama. Penganut keyakinan tertentu merasa agamanya paling benar dibanding lainnya.

"Wajar merasa agama yang dianutnya itu paling benar tapi tidak perlu disampaikan pada orang yang berbeda," jelas Mas Adi. (riz/fun/*)

Editor : Fandi Armanto
#Radar Bromo Award 2026 #mas adi #harmoni #pemkot pasuruan