Program Corporate Social Responsibility (CSR) kini tidak lagi terbatas pada isu lingkungan, kesehatan, atau pendidikan. Seiring pesatnya transformasi digital, semakin banyak perusahaan yang berkontribusi dengan membuka akses teknologi bagi masyarakat. Salah satunya dilakukan JTI Indonesia melalui program Internet Desa, yang menghadirkan konektivitas digital sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
TUJUAN JTI menyediakan jaringan internet desa yang terjangkau adalah untuk meningkatkan akses masyarakat desa Bakalan, Purwosari, terhadap informasi dan layanan digital.
Dengan adanya internet, masyarakat desa dapat mengakses informasi terkini mengenai metode pertanian dan perikanan yang lebih modern, yang menjadi mata pencaharian utama mereka, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pemasaran dan penjualan produk di ranah digital,’’ kata Didik Suharsono, Corporate Affairs Manager JTI Indonesia.
Progam Internet Desa dimulai sejak tahun 2021 ketika pandemi Covid-19 tengah melanda. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka perlahan bergeser ke ruang digital. Bekerja, belajar, berkomunikasi, mencari informasi, hingga berdagang semakin bergantung pada koneksi internet.
Bagi mereka yang hidup di kota besar, peralihan offline ke online ini cenderung lebih mudah terjadi berkat dukungan infrastruktur yang memadai. Namun di desa, hal ini menghadapi tantangan tertentu. Padahal, informasi dan komunikasi yang cepat menjadi semakin penting, termasuk bagi warga yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perikanan, dan usaha kecil.
Situasi inilah yang menjadi salah satu perhatian JTI Indonesia terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. Melalui pemetaan kebutuhan dan dialog dengan perangkat desa serta tokoh masyarakat, JTI Indonesia melihat adanya kebutuhan mendesak akan akses internet yang cepat, mudah, dan terjangkau bagi warga Desa Bakalan, Purwosari.
Selangkah kemudian perusahaan menggulirkan program CSR ‘’Internet Desa’’ dengan membangun infrastruktur jaringan internet berbiaya terjangkau. Selain memperluas akses informasi, jaringan internet juga sangat bermanfaat bagi aktivitas perekonomian desa. Dalam perjalanannya, layanan internet desa dikelola oleh Bumdes “Bangkit Bersama” Desa Bakalan.
Tak hanya sekedar membangun jaringan infrastruktur, JTI juga memberikan dukungan melalui Bumdes dengan mengadakan sejumlah pelatihan dan pendampingan, baik teknis maupun non teknis, yang bertujuan untuk mengoptimalisasi pelayanan internet desa tersebut. Diantaranya, pelatihan pengelolaan kualitas jaringan, manajemen bisnis, hingga penanganan keluhan konsumen.
“Pelatihan ini sangat penting bagi kami penyedia layanan, agar bisa optimal dalam melayani warganya selaku pelanggan utama. Tak hanya kualitas jaringan yang bagus, pelayanan pun prima, karena respon cepat dan efisien melalui teknisi lokal dari warga desa sendiri.” terang Sugiharto, Direktur Bumdes ‘Bangkit Bersama’ Desa Bakalan.
Sebagai pengelola, Bumdes Bangkit Bersama mematok harga langganan yang terjangkau bagi warga desa Bakalan. Dalam 5 tahun perkembangannya, jumlah pelanggan rumah tangga yang menikmati akses internet cepat dan murah semakin bertambah.
Kehadiran Internet Desa tidak hanya meningkatkan konektivitas, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Pelaku UMKM dapat memasarkan produk lokal secara daring kepada pasar yang lebih luas, sehingga memperkuat daya saing usaha sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa.
Sementara bagi Pemerintah Desa, kehadiran internet desa bisa menambah Pendapatan Asli Desa (PAdes) yang dikelola oleh Bumdes setempat. Lebih dari itu, internet juga mendukung peningkatan kinerja aparatur desa dan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kehadiran jaringan internet turut mendorong/ partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa.
‘’Kami melihat internet desa bukan hanya sebagai penyedia layanan, tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan desa. Ketika masyarakat semakin terhubung, peluang untuk belajar, berusaha, dan mengembangkan potensi desa pun akan terus bertumbuh.’’ ujar Didik.
Dampak Program Internet Desa
- Memperluas Akses Digital Masyarakat
- Menggerakan Ekonomi Desa
- Memperkuat Kapasitas Bumdes dan Pelayanan Desa
Sirkular Ekonomi Melalui Program Ketahanan Pangan Terpadu
JAPAN Tobacco International (JTI) Indonesia juga menunjukkan komitmennya untuk tumbuh bersama masyarakat melalui Program Ketahanan Pangan Terpadu yang dijalankan bersama kelompok warga Desa Bakalan.
Program ini berangkat dari tantangan yang dihadapi petani dan peternak, yaitu tingginya biaya produksi akibat mahalnya harga pupuk kimia dan pakan ternak.
“Program ketahanan pangan warga yang dimulai sejak 2022 lalu, tujuan utama awalnya adalah mengurangi beban petani dan peternak atas mahalnya harga pupuk dan pakan ternak,” ungkap Didik.
Untuk menjawab tantangan tersebut, JTI bersama mitra pendamping dan peneliti memberikan pelatihan praktik pertanian regeneratif dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia dan mulai memanfaatkan pupuk organik.
Pendekatan yang sama juga diterapkan pada budidaya perikanan darat berbasis kolam bioflok dan peternakan kambing.
Seiring perkembangannya, ketiga sektor tersebut tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Petani dan peternak mulai mengintegrasikan pertanian, perikanan, dan peternakan dalam satu sistem budi daya semiorganik.
Limbah dari satu aktivitas dimanfaatkan kembali sebagai sumber daya bagi aktivitas lainnya, sehingga terbentuk praktik ekonomi sirkular yang mampu menekan biaya produksi sekaligus mengurangi limbah.
Melalui pendekatan tersebut, program Ketahanan Pangan Terpadu tidak hanya meningkatkan efisiensi usaha masyarakat. Tetapi juga mendorong praktik budidaya yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi warga Desa Bakalan.
Bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan Japan Tobacco International benar-benar membantu masyarakat desa. Sehingga Japan Tobacco International layak untuk menerima Radar Bromo Award tahun 2026. (unt/fun/*)
Editor : Fandi Armanto