PASURUAN, Radar Bromo – Kelangkaan BBM bersubsidi jenis Bio Solar (solar) mulai melumpuhkan aktivitas angkutan barang di Pasuruan. Antrean kendaraan besar dan truk mengular hingga sekitar satu kilometer di sejumlah SPBU, Kamis (25/6) malam.
Banyak sopir rela menunggu berjam-jam. Bahkan, mereka memilih menginap di area SPBU demi mendapatkan solar untuk melanjutkan perjalanan.
Pantauan di SPBU Karangketug, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, antrean didominasi truk bermesin diesel. Kendaraan mulai berbaris sejak sore. Sejumlah sopir mengaku sudah antre sejak pukul 16.00, namun baru mendapat giliran mengisi solar sekitar pukul 19.30.
Kondisi serupa terjadi di SPBU Tambakrejo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Pada malam hari, stok solar dan Pertalite dilaporkan habis. Sehingga pengendara terpaksa menunggu kiriman BBM berikutnya. Sebagian sopir bahkan memarkir truk di sekitar SPBU dan bermalam sambil menunggu pasokan datang.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, antrean sebenarnya sudah terlihat dalam dua hingga tiga hari terakhir. Namun kepadatan mencapai puncaknya pada Kamis malam. Sejak pagi hingga siang, antrean juga terjadi di SPBU Raci, Kecamatan Bangil dan SPBU Warungdowo di jalur selatan Kabupaten Pasuruan.
Wawan, 40, sopir truk asal Gadingrejo mengaku kesulitan mendapatkan solar setelah mengantar barang ke Surabaya. Ia harus berkeliling ke sejumlah SPBU untuk mencari stok BBM.
Baca Juga: Konsumsi Bio Solar Hampir Separo Kuota Tahunan, di Probolinggo Pengendara Rela Antre Panjang
"Saya habis dari Surabaya. Cari solar di beberapa tempat, banyak yang kosong. Kalaupun ada, antreannya panjang sekali," ujarnya.
Menurut Wawan, kondisi tersebut baru dirasakan dalam tiga hari terakhir. Bahkan antrean yang sebelumnya hanya berada di depan SPBU, kini memanjang hingga deretan pertokoan di sekitarnya. Ia mengaku khawatir tidak bisa bekerja jika pasokan solar masih sulit diperoleh.
"Kalau dibanding kemarin (Rabu, Red), sekarang jauh lebih ramai. Antreannya makin panjang. Solar di tangki sudah hampir habis. Takutnya besok mau kerja malah kesulitan cari BBM," tuturnya.
Keluhan serupa disampaikan Yoyok, 28, sopir truk asal Kediri yang sedang dalam perjalanan dari Jombang menuju Puger, Kabupaten Jember. Ia mengaku mulai kesulitan memperoleh solar sejak melintas di Mojokerto. Sementara sisa BBM di tangki truk sudah berada di batas aman minimum.
"Kalau tidak dapat di sini, kemungkinan tidak cukup untuk sampai tujuan," katanya. Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar sepekan.
"Yang paling terasa itu waktu banyak terbuang. Perjalanan jadi tidak efektif karena harus mencari solar terus. Kalau tidak kebagian, ya terpaksa menunggu sampai ada pasokan lagi," tandasnya. (zen/hn)
Editor : Muhammad Fahmi