Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kekeringan Mulai Melanda Kabupaten Pasuruan, Satu Desa dengan 211 Warga Terdampak

Muhamad Busthomi • Rabu, 24 Juni 2026 | 14:33 WIB
AMBIL AIR: Seorang warga di wilayah Kabupaten Pasuruan, saat mengambil air untuk dikonsumsi. Di Desa Kedungrejo, Kecamatan Winongan, krisis air bersih mulai melanda. (Dokumen Radar Bromo)
AMBIL AIR: Seorang warga di wilayah Kabupaten Pasuruan, saat mengambil air untuk dikonsumsi. Di Desa Kedungrejo, Kecamatan Winongan, krisis air bersih mulai melanda. (Dokumen Radar Bromo)

BANGIL, Radar Bromo - Fenomena hari tanpa hujan (HTH), mulai berdampak di Kabupaten Pasuruan.

Namun hingga saat ini, dampaknya masih terkonsentrasi di satu wilayah, yakni Desa Kedungrejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, yang sejak lama dikenal sebagai daerah rawan kekeringan saat musim kemarau.

Sekitar 211 kepala keluarga (KK) di desa setempat, mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih, akibat menurunnya debit sumber air yang selama ini menjadi andalan warga.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi mengatakan, Kedungrejo menjadi satu-satunya wilayah, yang sejauh ini melaporkan dampak kekeringan akibat minimnya curah hujan.

"Untuk saat ini laporan kekeringan masih terkonsentrasi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Winongan, karena debit sumber air mengalami penurunan," katanya.

Menurut Sugeng, Kedungrejo merupakan wilayah hilir yang setiap tahun, masuk dalam peta daerah rawan kekeringan.

Ketika hujan tidak turun dalam waktu cukup lama, debit sumber air di kawasan tersebut cenderung cepat menyusut.

Kondisi itu terjadi di tengah fenomena cuaca yang kontras, di berbagai daerah.

Saat sejumlah wilayah Indonesia masih menghadapi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir, sebagian kawasan Pasuruan mulai merasakan dampak kekeringan meteorologis, akibat hari tanpa hujan yang berlangsung cukup panjang.

Merespons kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Pasuruan langsung menyalurkan bantuan air bersih kepada warga.

Distribusi dilakukan menggunakan armada truk tangki dan disalurkan secara berkala, ke titik-titik penampungan yang telah ditentukan.

"Kami sudah melakukan dropping air bersih dan akan terus memantau perkembangan di lapangan. Jika kebutuhan meningkat, distribusi akan ditambah sesuai kondisi," jelasnya.

Meski saat ini baru satu desa yang terdampak, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan.

Sebab, puncak musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga Agustus mendatang.

Karena itu, pemetaan daerah rawan kekeringan terus dilakukan, untuk mengantisipasi munculnya wilayah terdampak baru.

BPBD juga mengimbau masyarakat mulai menghemat penggunaan air, serta menjaga sumber-sumber air yang tersedia.

"Antisipasi harus dilakukan sejak dini. Kami mengajak masyarakat menggunakan air secara bijak, karena musim kemarau masih berlangsung beberapa bulan ke depan," tegas Sugeng. (tom/one)

 

Pasuruan Mulai Krisis Air Bersih

Wilayah Terdampak

·                    Desa Kedungrejo, Kecamatan Winongan (daerah hilir rawan tahunan).

 

Data Warga Terdampak

·                    211 Kepala Keluarga (KK) mulai kesulitan mendapat air bersih.

·                    Penyebab: Debit sumber air menyusut drastis akibat Hari Tanpa Hujan (HTH).

 

Aksi Tanggap BPBD

·                    Dropping Air Bersih: Truk tangki rutin dikerahkan ke titik penampungan warga.

·                    Siaga Puncak Kemarau: Pemetaan wilayah rawan terus diperketat hingga Agustus 2026.

Editor : Jawanto Arifin
#krisis air #bpbd #kabupaten pasuruan #kekeringan #bencana