Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pemadaman Listrik Bergilir Bikin Waswas Pengusaha di Pasuruan-Probolinggo, PLN Utamakan Industri dan Layanan Publik

Fahrizal Firmani • Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:30 WIB
DIUTAMAKAN: Industri di kawasan Kabupaten Pasuruan. Meski ada pemadaman bergilir, PLN tetap memprioritaskan industri dan pelayanan terhadap publik. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
DIUTAMAKAN: Industri di kawasan Kabupaten Pasuruan. Meski ada pemadaman bergilir, PLN tetap memprioritaskan industri dan pelayanan terhadap publik. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

PASURUAN, Radar Bromo - Masyarakat Pasuruan dan Probolinggo harus lebih bersabar. Sebabnya, akan ada pemadaman listrik bergilir dan bakal sering terjadi. Pemadaman ini tentu saja meresahkan pengusaha terutama yang memerlukan listrik untuk produksi. 

Di Pasuruan dan Probolinggo beberapa hari ini, pemadaman listrik ini sudah mulai dirasakan para pelaku usaha.

Dari sentra industri rumahan hingga pelaku usaha daring, pemadaman listrik berdampak langsung pada proses produksi dan pelayanan kepada konsumen.

Salah satu yang terdampak adalah sentra industri keset di Desa Karangrejo, Kecamatan Purwosari. Di desa yang dikenal sebagai sentra produksi keset tersebut, aktivitas usaha sempat berhenti total saat listrik padam dalam waktu cukup lama beberapa hari lalu.

Rini Setya, salah satu pengusaha keset di sana, mengatakan hampir semua proses produksinya bergantung pada mesin jahit listrik. "Kalau listrik padam ya produksi berhenti total," katanya.

Sebagian mesin bahkan butuh waktu untuk dipanaskan ulang. Begitu listrik kembali menyala, produksi tidak bisa langsung jalan. "Jadi ketika listrik nyala kembali tidak bisa langsung digunakan," ujarnya.

Keluhan serupa juga dirasakan warga Purwosari yang menjalankan usaha berbasis daring. Ely, ibu rumah tangga yang aktif berjualan melalui marketplace, mengaku aktivitas usahanya ikut terganggu saat listrik padam.

PLN memang sudah memberi pemberitahuan sehari sebelumnya. Tapi durasi pemadaman sekitar tiga jam tetap memukul operasionalnya. Printer untuk mencetak resi tidak bisa menyala. Pengemasan dan pengiriman pesanan pelanggan ikut tertunda.

“Kami memang sudah dapat pemberitahuan sebelumnya. Tapi karena listrik padam cukup lama, sekitar tiga jam, aktivitas jualan ikut terganggu,” tuturnya.

Di wilayah Bangil, dampaknya tidak jauh berbeda. Bahroji, perajin kopiah di Bangil, mengatakan mesin yang berhenti mendadak membuat pengerjaan pesanan ikut mundur.

“Kalau mesin berhenti mendadak, pekerjaan otomatis tertunda. Produksi jadi molor dan penyelesaian pesanan ikut mundur,” ujarnya.

Begitu juga dengan di Kota Pasuruan. Yuni Arwulan, 41, asal Purutrejo, Purworejo. Pelaku UMKM yang berjualan jus mengatakan, pelaku usaha seperti dirinya jelas mengandalkan listrik untuk produksi. Jika padam, praktis dia harus menggunakan genset.

“Bila memakai genset, ongkos produksi pasti lebih mahal. Di tengah kondisi seperti ini, kami tidak mungkin juga menaikkan harga produk karena bisa ditinggal pelanggan. Sudah harga sayur  naik terus, ada pemadaman bergilir ini jelas merepotkan kami,” beber ibu dua anak ini.

Beralih ke Kota Probolinggo. Beberapa hari terakhir sejumlah wilayah di kota mengalami pemadaman listrik secara bergilir. Rata-rata berkisar sekitar 3 jam. Hal ini tentunya membawa sejumlah dampak pada para pengusaha di Kota Probolinggo.

Seperti yang dirasakan Salim, 41, warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan yang mengaku mengalami kerugian dari harga jual ikan yang digelutinya. Saat listrik mati sampai 3 jam, membuat ikan yang ia bekukan di freezer menjadi lunak.

“Alhasil harganya jadi turun sekitar 10 persen dari harga jualnya. Ini karena ikan jadi lemas dan berpotensi kualits dagingnya menurun sehingga konsumen membelinya dengan harga yang relatif murah. Ini seharusnya ada kompensasi dari pihak PLN mengenai kerugian tersebut,” ungkapnya.

SEMANGAT: Eni, warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan saat melayani pembelian es jus di warungnya, Jumat (19/6) siang. (Foto: Inneke Agustin/Jawa Pos Radar Bromo)
SEMANGAT: Eni, warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan saat melayani pembelian es jus di warungnya, Jumat (19/6) siang. (Foto: Inneke Agustin/Jawa Pos Radar Bromo)

Selain itu ada Eni, 49, warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan yang sehari-hari berjualan es jus. Ia mengaku bahwa Kamis (18/6) tempat usahanya terdampak mati lampu. Alhasil ia tak dapat memblender jus.

“Itu padamnya dari pukul 15.00 hingga 18.00. Karena padam, kami akhirnya tutup lebih awal dari yang seharusnya baru tutup pukul 17.00,” katanya.

Sejumlah pelanggan harus ia tolak karena tak dapat melayani pembelian. Eni memperkirakan bahwa pada hari itu ia merugi. “Harusnya dengan 1,5 jam tersebut kemungkinan bisa mendapatkan Rp 100 ribu,” sebutnya.

Hal senada juga dirasakan oleh bisnis laundry di Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Salah satu pegawai di binatu tersebut menyebutkan bahwa adanya padam listrik membuat beberapa pekerjaan jadi terbengkalai. Mulai dari mencuci hingga menyeterika baju laundry milik para pelanggan.

“Memang masih bisa terima dan pengambilan barang. Tapi seluruh kegiatan kerja berhenti total dan harus dikerjakan keesokan harinya. Ini jadi makan waktu dan tidak efisien akhirnya,” kata Reni, 32, warga Kecamatan Kanigaran.

Reni berharap pemadaman semacam ini tak berjalan cukup lama dan sering. “Jangan lama-lama kalau padam, jangan sering-sering juga. Sebab kami tidak bisa melakukan pekerjaan kalau padam. Bisa-bisa nantinya kami dikomplain pelanggan,” terangnya.

Adanya pemadaman bergilir ini diakui manajer PLN UP3 Pasuruan Agus Susanto. Pemadaman bergilir terjadi sejak Senin pekan lalu. Sebab ada kendala dalam operasional pembangkitannya. Kondisi ini berimbas pada suplai yang diterima oleh PLN.

Dia menjelaskan pemadaman ini dipicu kendala teknis di pembangkit yang menyebabkan kapasitas pasokan menurun.

“Sehubungan dengan adanya kendala teknis operasional pada pembangkit yang menyebabkan penurunan kapasitas suplai listrik, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas di beberapa lokasi,” jelasnya.

Langkah itu, kata Agus, terpaksa diambil agar gangguan tidak melebar ke wilayah yang lebih luas. “PLN terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait guna memastikan proses penanganan berjalan optimal,” katanya.

PLN UP 3 Pasuruan menyebut kondisi ini dilakukan untuk menjamin suplai yang diterima.  Namun fasilitas publik dan industri tetap menjadi prioritas.

Agar kelistrikan tetap handal, PLN melakukan manajemen beban dengan pemadaman secara bergilirian. Proses pemadaman ini bervariasi. Bisa dilakukan pada pagi, siang atau malam hari. Dan bisa berlangsung selama tiga jam.

"Kami belum bisa memastikan pemadaman bergilir ini bisa terjadi sampai kapan. Yang pasti ini dilakukan untuk memastikan listrik tetap handal," katanya.

Agus menuturkan pemadaman bergilir tetap memperhatikan kondisi riil di masyarakat. Ada skala prioritas seperti dunia industri maupun pelayanan publik. Sebab jika sampai dilakukan pemadaman dalam jangka lama tentu dampaknya akan luar biasa. Ekonomi bisa lumpuh.

"Bisa dibayangkan jika industri atau sekolah yang ada kegiatan dipadamkan jangka lama. Tentu imbasnya tidak kecil," jelas.

Karena itu, PLN selalu berkoordinasi dahulu dengan pelayanan publik atau dunia usaha sebelum dilakukan pemadaman. Karena itu, waktu pemadaman bisa berbeda. Saat ada sekolah yang melaksanakan kegiatan ujian, tentu tidak dilakukan pemadsman.

"Kami pasti berkoordinasi dahulu. Dengan memperhitungkan keberlangsungan kegiatan dan usaha yang berlangsung di masyararakat," tutur Agus.

Sementara manajer PLN ULP Probolinggo, Ocgik Wahyu Dewanto menyampaikan permohonan maaf atas pemadaman bergilir yang terjadi di wilayah Probolinggo. Hal ini dikarenakan adanya kendala teknis operasional pada pembangkit yang menyebabkan penurunan kapasitas suplai listrik sehingga dilakukan managemen beban.

“Terkait kendala detail di sisi pembangkitnya kami kurang tahu, karena kami di sisi distribusi,” ujarnya.

Di sisi lain, Hubungan Pelanggan PLN ULP Probolinggo, Carolina Siregar menambahkan bahwa pihaknya belum dapat memastikan hingga kapan kondisi ini bertahan.

“Kami mohon maaf atas kondisi yang mengganggu pelayanan ini. Perkembangan proses penanganan dan pemulihan akan terus kami informasikan,” jelasnya.

Jawa Pos Radar Bromo berupaya mencari tahu soal pemadaman bergilir ini ke Asman SDM PLN Nusantara Power UP Paiton, Arif Dwijayanto. Namun dia tak banyak memberikan komentar terkait masalah ini. Meskipun di luaran banyak isu yang menyebutkan bahwa persediaan batu bara di PLTU kian menipis. Hal inilah yang diduga menjadi pemicu pemadaman listrik secara bergiliran.

“Untuk penyebab pastinya sementara ini bisa melihat kembali statement Kementerian ESDM,” tulisnya singkat melalui WhatsApp.

Namun di sejumlah media, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pasokan listrik nasional tetap aman dan tidak akan terjadi pemadaman meskipun PT PLN masih kekurangan sekitar 18-20 juta ton batu bara dari total kebutuhan 154 juta ton pada tahun 2026. (gus/riz/tom/fun)

Editor : Abdul Wahid
#pemadaman bergilir #pln #listrik padam #batu bara