PASURUAN, Radar Bromo-Sejak ada pengalihan arus lalu lintas imbas perbaikan jembatan Bok Wedi, Jalur Lingkar Selatan (JLS) Pasuruan kini kian padat. Truk-truk besar memenuhi ruas jalan jadi pemandangan sehari-hari.
Kondisi itu pun membuat warga di sekitar ruas jalan kian khawatir. Terlebih bagi mereka yang memiliki anak kecil.
Deru dan getaran mesin truk besar yang melintas hampir setiap menit menjadi teror psikologis tersendiri bagi warga.
Tak heran, warga mendukung penuh demo menutup ruas JLS, Rabu pagi (17/6).
Khusnul Khotimah (60), warga Kelurahan Bukir, Kecamatan Gadingrejo, tidak mampu menyembunyikan rasa cemasnya.
Rumahnya berdiri tak jauh dari tepi jalan raya yang kini mendadak super sibuk dan berbahaya itu.
Sambil menahan haru, ia menceritakan betapa takutnya ia melepas anak dan cucunya beraktivitas di luar rumah.
"Setiap hari saya waswas. Truknya besar-besar sekali dan jalannya kencang. Kami hanya ingin lingkungan kami aman, tidak ada tetangga atau anak cucu kami yang menjadi korban berikutnya di jalan ini," keluh Khusnul dengan mata berkaca-kaca.
Warga menilai, pemerintah daerah dan aparat terkait kurang tegas dalam mengawal pengalihan arus lalu lintas ini.
JLS dianggap tidak ideal dan terlalu berisiko untuk menampung beban kendaraan bertonase berat secara terus-menerus dua arah sekaligus.
Melalui aksi ini, warga menuntut regulasi yang lebih ketat. Truk-truk besar itu wajib lewat jalan tol.
Kendaraan berat dari arah timur harus dipaksa masuk melalui Tol Grati, sedangkan dari arah barat dimasukkan lewat Tol PIER Rembang.
Jalur dua arah di JLS Gatot Subroto hanya boleh dilintasi oleh kendaraan kecil seperti mobil pribadi, pikap, dan truk-truk kecil angkutan lokal.
Aksi blokade jalan itu menyebabkan antrean panjang kendaraan. Truk-truk terpantau mengular di sepanjang jalan. Sebagian para sopir terpaksa keluar sembari menunggu jalan bisa dilewati kembali.
Jazuli (35), salah satu sopir dalam deretan truk itu mengungkapkan bahwa saat itu ia dalam perjalanan mengirim bahan bangunan ke wilayah Tongas, Probolinggo. Sejak pengalihan dampak proyek jembatan Bokwedi ia mengaku beberapa kali lewat JLS ini.
Dengan lewat jalur non tol baginya dirasa lebih ekonomis. Mengingat beban tol cukup menguras isi dompet. Apalagi di tengah kondisi ekonomi makin sulit ini.
"Ya kadang-kadang lewat tol juga. Tapi lebih sering lewat bawah. Sopir seperti kami ini umumnya kan sistem borongan. Jadi methit hasilnya," ungkapnya.
Meskipun sempat memicu ketegangan dan antrean kendaraan, aksi yang dikawal petugas gabungan ini berjalan relatif tertib. Warga menegaskan, mereka akan terus bersuara hingga ada komitmen nyata dari pemangku kebijakan karena keselamatan nyawa manusia harus jauh lebih diprioritaskan. (ube/mie)
Editor : Muhammad Fahmi