PASURUAN, Radar Bromo - Kasus kebakaran di Kota Pasuruan sepanjang semester pertama 2026 masih cukup tinggi. Ada 19 kasus. Didominasi insiden yang dipicu faktor kelalaian dan gangguan instalasi listrik.
Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pasuruan, mayoritas peristiwa menimpa bangunan. Baik rumah tinggal maupun bangunan dengan fungsi lainnya. Sementara, kebakaran yang dipicu kondisi kekeringan masih tergolong minim.
Personel Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Pasuruan Anang Sururin mengatakan, tren kebakaran selama enam bulan terakhir menunjukkan bahwa faktor manusia masih menjadi penyebab dominan.
Mulai dari kelalaian saat menggunakan peralatan yang menghasilkan api hingga kurangnya perhatian terhadap kondisi instalasi listrik di rumah maupun tempat usaha.
“Penyebabnya bervariasi, namun yang paling banyak masih karena faktor kelalaian dan gangguan listrik,” ujarnya.
Dibandingkan kebakaran akibat cuaca ekstrem atau musim kemarau, kata Anang, kasus yang dipicu kekeringan relatif sedikit. Berbeda dengan sejumlah daerah lain yang mulai menghadapi peningkatan kebakaran lahan maupun vegetasi saat memasuki musim kemarau.
“Kebanyakan justru kebakaran bangunan, baik rumah maupun bangunan yang memiliki fungsi lainnya,” katanya.
Kebakaran bangunan umumnya terjadi secara tiba-tiba dan berpotensi menimbulkan kerugian besar bila tidak segera ditangani. Karena itu, masyarakat diminta lebih rutin memeriksa kondisi instalasi listrik, terutama pada bangunan yang sudah berusia lama.
Selain itu, penggunaan stop kontak secara berlebihan juga perlu dihindari. Sebab, beban listrik yang melebihi kapasitas dapat memicu korsleting dan berujung kebakaran.
“Kami mengimbau masyarakat untuk rutin mengecek instalasi listrik di rumah. Jika ada kabel yang sudah rusak atau sambungan yang tidak standar, sebaiknya segera diperbaiki,” ujarnya.
Memasuki musim kemarau, BPBD juga mengingatkan warga agar tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan. Meski kasus kebakaran akibat kekeringan masih rendah, potensi tersebut tetap ada bila cuaca semakin panas dan kondisi lingkungan menjadi lebih kering.
“Kami berharap masyarakat semakin peduli terhadap aspek keselamatan di lingkungan masing-masing. Pencegahan merupakan langkah terbaik untuk mengurangi risiko terjadinya kebakaran,” kata Anang. (zen/rud)
Editor : Fahreza Nuraga