PASURUAN, Radar Bromo - Penyerapan pupuk organik bersubsidi di Kota Pasuruan sepanjang triwulan pertama tahun ini, berjalan lambat.
Selama periode Januari hingga Maret, para petani setempat tercatat baru memanfaatkan sekitar 25,660 ton pupuk organik.
Angka tersebut baru mencapai 6,55 persen dari total kuota yang dialokasikan oleh pemerintah pusat.
Pada tahun ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan mendapatkan total alokasi pupuk bersubsidi sebanyak 1.498 ton.
Jumlah tersebut terbagi menjadi tiga jenis. Pupuk Urea sebesar 565 ton, NPK Phonska sebanyak 508 ton, dan pupuk organik sebanyak 392 ton.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan, Muallif Arif, mengungkapkan total serapan seluruh jenis pupuk subsidi pada triwulan pertama, baru menyentuh 163,484 ton.
Dari jumlah itu, pupuk organik menjadi varian yang paling minim terserap oleh petani.
"Petani di lapangan jauh lebih meminati jenis Phonska dan Urea. Sementara untuk pupuk organik, baru terpakai 6,55 persen dari total alokasi yang ada," ujar pria yang akrab disapa Ayik tersebut.
Berdasarkan data dinas terkait, serapan untuk pupuk Urea telah mencapai 65,936 ton dengan menyisakan kuota sebanyak 526,11 ton.
Sedangkan untuk NPK Phonska, telah terserap sebanyak 71,888 ton, dan menyisakan kuota 442,064 ton.
Di sisi lain, stok pupuk organik masih melimpah, karena menyisakan 366,34 ton yang belum disalurkan.
Ayik menjelaskan, rendahnya serapan pupuk organik ini, dipicu oleh pola pikir petani yang mengejar hasil panen instan.
Banyak petani enggan beralih ke pupuk organic, karena proses penguraian unsur hara di dalam tanah, membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan pupuk kimia.
"Kami sebenarnya terus menyosialisasikan keunggulan jangka panjang pupuk organik, untuk menjaga struktur dan kesuburan tanah. Namun, sebagian besar petani masih terbiasa dan bergantung pada hasil cepat dari pupuk kimia," imbuhnya.
Padahal, ketergantungan yang berlebihan pada pupuk kimia dalam jangka Panjang, berisiko merusak ekosistem tanah dan menurunkan produktivitas lahan pertanian secara permanen.
Pihak dinas berharap, para petani mulai mengombinasikan penggunaan pupuk kimia dengan pupuk organik demi keberlanjutan sektor pertanian di Kota Pasuruan. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin