Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Peternak di Purwodadi Pasuruan Pilih Buang Telur Puyuh, Imbas Permintaan MBG dan Serapan Pasar Anjlok

Muhamad Busthomi • Minggu, 10 Mei 2026 | 09:31 WIB
DIBUANG: Mahrus, salah satu peternak burung puyuh yang memilih untuk membuang telur-telur produksi ternaknya, lantaran tak terserap pasar. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)
DIBUANG: Mahrus, salah satu peternak burung puyuh yang memilih untuk membuang telur-telur produksi ternaknya, lantaran tak terserap pasar. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

PASURUAN, Radar Bromo - Lesunya permintaan dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), berdampak langsung ke peternak telur puyuh.

Setelah Ramadan, komoditas ini nyaris tak lagi terserap. Akibatnya, peternak kelimpungan hingga terpaksa membuang telur yang tak laku.

Kondisi itu dialami Mahrus, peternak telur puyuh asal Desa Gajahrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Ia mengaku, harus membuang telur ke sungai karena sudah busuk dan tidak terserap pasar.

“Terpaksa dibuang karena sudah tidak laku. Biasanya masih bisa terserap, tapi sekarang benar-benar turun,” ujarnya.

Menurut Mahrus, penurunan permintaan tidak hanya terjadi di pasar umum akibat melemahnya daya beli masyarakat. Tetapi juga, dari dapur MBG yang sebelumnya menjadi penopang utama.

“Waktu Ramadan, telur puyuh banyak dipakai untuk menu kering. Saya pegang pasokan ke puluhan dapur MBG. Tapi setelah Lebaran, hampir tidak dipakai lagi,” ungkapnya.

Padahal, ia tidak hanya mengandalkan produksi sendiri. Mahrus juga menampung hasil peternak lokal lain.

Di samping ia sendiri juga bermitra dengan 17 BUMDes, mulai dari penyediaan bibit, pakan, hingga kandang.

“Peternak kecil yang pinjam ke bank jelas terpukul. Saya tampung telur mereka, tapi karena tidak terserap, akhirnya ikut busuk,” jelasnya.

Saat ini, kapasitas produksinya mencapai sekitar 2 ton telur puyuh per hari, termasuk dari peternak lokal.

Dari kandang sendiri, ia memelihara sekitar 30 ribu ekor burung puyuh, dengan kebutuhan pakan mencapai 1 ton per hari senilai Rp 7,25 juta.

Di sisi lain, harga jual terus tertekan. Harga Pokok Produksi (HPP) disebut berada di atas Rp 24 ribu per kilogram. Sementara harga jual, hanya berkisar Rp 16 ribu hingga Rp 21 ribu per kilogram.

“Terakhir sempat Rp 21 ribu, tapi masih minus Rp 3 ribu per kilo. Sekarang rata-rata lebih rendah lagi,” keluhnya.

Dengan selisih kerugian mencapai Rp 4 ribu per kilogram dan produksi sekitar 2 ton per hari, Mahrus memperkirakan kerugian bisa menembus Rp 16 juta per hari. Angka itu belum termasuk biaya operasional dan tenaga kerja.

Untuk bertahan, ia bahkan mengaku telah menjual aset pribadi. “Kendaraan sudah saya jual untuk beli pakan. Karena kalau pakan berhenti, semua habis,” katanya.

Meski terpukul, Mahrus menegaskan tidak ingin memonopoli pasokan ke program MBG.

Ia justru mendorong agar pengelola dapur bisa menyerap langsung dari peternak lokal. “Tidak harus lewat saya. Yang penting peternak lokal bisa hidup,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah dapat mendorong dapur-dapur MBG kembali menyerap telur puyuh. Minimal satu hingga dua kali dalam sepekan, terutama dari wilayah setempat.

“Kalau bisa ada kebijakan, seminggu dua kali saja pakai telur puyuh. Itu sudah sangat membantu,” tandasnya. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#puyuh #telur #peternak #Mbg #Purwodadi