Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Desa Watestani di Nguling Pasuruan Sulap Lahan Kosong untuk Taman Bermain dan Banyak Digunakan sebagai Sarana Belajar

Fahrizal Firmani • Kamis, 30 April 2026 | 06:50 WIB
MENGHASILKAN: Budi daya lele yang dikembangkan oleh BUMDes di Desa Watestani sejak November lalu dan Mei nanti akan mulai panen. (Foto: Pemdes Watestani for Jawa Pos Radar Bromo)
MENGHASILKAN: Budi daya lele yang dikembangkan oleh BUMDes di Desa Watestani sejak November lalu dan Mei nanti akan mulai panen. (Pemdes Watestani for Radar Bromo)

LAHAN kosong di dekat TK PKK di Dusun Kramat disulap menjadi taman bermain oleh Pemerintah Desa Watestani, Kecamatan Nguling. Taman ini dibuka setiap hari. Tidak hanya untuk siswa TK, namun bisa digunakan oleh masyarakat untuk bermain atau berselancar di internet.

Desa yang dipimpin Kades Shofiyah memang sengaja membangun taman bermain di lahan yang tidak terpakai. Kebetulan ada lahan seluas 8x7 meter di dekat TK PKK yang bisa difungsikan. Taman bermain ini difungsikan tidak hanya di hari kerja namun juga hari libur.

"Kebetulan di TK PKK ini ada lahan tidak terpakai. Kami bangun untuk taman bermain agar bisa difungsikan warga sekitar," kata Kades Watestani Shofiyah.

BANYAK MANFAAT: taman bermain di dekat TK PKK di Dusun Kramat, Desa Watestani. Taman ini juga sering dimanfaatkan untuk sarana belajar. (Foto: Pemdes Watestani for Jawa Pos Radar Bromo)
BANYAK MANFAAT: taman bermain di dekat TK PKK di Dusun Kramat, Desa Watestani. Taman ini juga sering dimanfaatkan untuk sarana belajar. (Pemdes Watestani for Radar Bromo)

Saat hari aktif, taman bermain ini digunakan setiap jam istirahat atau jam pulang. Siswa bisa bermain di sana sembari menunggu jam masuk kelas atau menunggu orang tua menjemput. Juga dimanfaatkan untuk kegiatan posyandu saat pemeriksaan ibu dan anak. 

Saat hari libur, taman bermain juga tetap dibuka untuk umum. Anak-anak bisa menggunakannya untuk bermain dengan sesama kawannya atau dengan orang tua.

Selain itu masyarakat bisa juga menggunakan lokasi ini untuk berselancar di internet. Pemdes telah menyediakan WiFi gratis dengan sistem barcode.

"Hari libur juga bisa dipakai untuk anak sekitar. Mereka bisa menggunakan karena ada juga free WiFi," jelas Shofiyah.

Pemdes juga melakukan perbaikan paving menuju lahan kuburan di Dusun Polai. Sebelumnya jalan paving di lokasi tersebut sudah rusak. Terakhir dibangun 10 tahun silam. Karena membahayakan sehingga dilakukan perbaikan.

"Lama tidak diperbaiki. Karena itu kami perbaiki tahun lalu. Khawatir ada warga celaka kalau tidak diperbaiki," jelas Kades.

Pemdes juga membangun jalan paving yang menghubungkan Dusun Parseh dan Dusun Sekarputih. Jalan ini berasal dari hibah lahan oleh warga. Jalan kampung ini dibangun di  sepanjang 8,4 meter dan lebar 2,5 meter.

"Bisa menghemat waktu bagi warga yang mau menuju Dusun Parseh atau Dusun Sekarputih. Menghemat satu kilo," tutur Shofiyah.

 

Budi Daya Lele untuk Tambah Pemasukan Desa

Berbagai cara dilakukan Pemdes Watestani untuk menambah pemasukan desa. Sehingga berimbas pada kemajuan desa. Salah satunya dengan melakukan budi daya lele yang dikembangkan melalui badan usaha milik desa (BUMDes).

Kades Watestani, Shofiyah menyebut, sesuai aturan desa harus memiliki program ketahanan pangan untuk meningkatkan perekonomian desa. Pihaknya memilih budi daya lele karena ada masyarakat yang juga beternak lele. Sehingga memudahkan desa untuk mengembangkannya.

SELALU KOMPAK: Kades Watestani Shofiyah (duduk depan dua dari kanan) bersama jajaran perangkat desa. (Foto: Pemdes Watestani for Jawa Pos Radar Bromo)
SELALU KOMPAK: Kades Watestani Shofiyah (duduk depan dua dari kanan) bersama jajaran perangkat desa. (Pemdes Watestani for Radar Bromo)

"Jadi bisa dibantu oleh warga desa. Peternak itu membantu kami dalam memberikan masukan agar budi daya lele bisa baik," jelas kades.

Pemilihan lele juga karena budi daya ini lebih ramah lingkungan. Jika budi daya lain seperti ayam dikhawatirkan mengganggu masyarakat karena baunya.

Ada 1.500 ekor lele yang dibudi dayakan dalam 32 kolam. Dengan 15 kolam diisi lele, sementara sisanya dimanfaatkan sebagai tempat untuk sortir saat panen.

Sejauh ini belum ada lele yang dipanen karena memang baru dibudi dayakan pada November lalu. Kemungkinan baru Mei nanti, lele bisa dipanen. Hasil panen ini akan dijual dan pemasukan yang diperoleh oleh BUMDes, sebagian masuk ke dalam pendapatan desa.

"Duapuluh persen dari pendapatan penjualan lele, dimasukkan ke dalam BUMDes. Sisanya masuk ke pendapatan asli desa," tutur Kades Shofiyah. (riz/fun/*) 

Program Desa Watestani Tahun 2026

·         Pavingisasi di Dusun Kramat untuk jalan usaha tani

·         Pemberian BLT DD

·         Penyaluran untuk posyandu

Editor : Abdul Wahid
#desa watestani #Membangun desa #kecamatan nguling