Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perluasan Pasar Desa di Mlaten Nguling Pasuruan Semakin Tumbuhkan Ekonomi

Fahrizal Firmani • Senin, 27 April 2026 | 07:46 WIB
KIOS LEBIH BANYAK: Pasar Desa Mlaten yang direhab tahun lalu dan setelah itu jumlah pedagang yang berjualan makin banyak. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
KIOS LEBIH BANYAK: Pasar Desa Mlaten yang direhab tahun lalu dan setelah itu jumlah pedagang yang berjualan makin banyak. (Fahrizal Firmani/Radar Bromo)

BERBAGAI upaya dilakukan Pemerintah Desa (pemdes) Mlaten, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satunya dengan memperluas askes pasar desa bagi masyarakat. Pemdes menambah jumlah bedak di pasar desa.

Sebelumnya, bedak di pasar desa ini hanya berjumlah 30 unit. Usai direhab tahun lalu, jumlahnya menjadi 45 bedak. Bertambah 15 bedak.

Seluruh bedak difunsgikan untuk pedagang sayur mayur dan ikan. Sehingga aktivitas jual beli di pasar setempat bisa semakin maksimal.

Kades Mlaten, Muhammad Abdillah menuturkan, rehab pasar desa yang terletak di Dusun Pesisir ini atas permintaan masyarakat. Sebab jumlah bedak dinilai terbatas. Banyak pedagang yang tidak memiliki tempat, memilih berjualan di luar bedak. Memanfaatkan areal depan pasar.

Kondisi ini mengganggu aktivitas jual beli. Sebab areal ini dimanfaatkan untuk lalu lintas kendaraan yang mengangkut hasil perikanan. Dengan penambahan bedak ini maka mereka bisa berjualan di dalam areal pasar.

"Pasar desa ini pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Jika perekonomian masyarakat kuat, maka kesejahteraan juga meningkat," kata kades.

Abdillah menyebut, tahun 2025, pemdes juga membangun tempat pembuangan sementara (TPS) di Dusun Pesisir.

Tujuannya untuk memudahkan masyarakat dalam membuang sampah sebelum sampah mereka diangkut ke tempat pembuangan milik BUMDes Bersama (Bumdesa) di Desa Kedawang, Nguling.

Sebelum ada TPS ini, pengangkutan dilakukan  langsung oleh petugas Bumdesa. Namun seringkali terjadi salam paham dengan masyarakat. Karena masyarakat enggan membayar iuran sampah. Akibatnya banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

"Sebagai solusi, iuran sampah dibayarkan oleh pemdes. Jadi masyarakat tidak perlu membayar lagi," katanya.

Masyarakat hanya perlu meletakkan sampah mereka di TPS itu. Dan setiap harinya petugas Bumdesa akan mengambil sampah dari TPS itu untuk dikumpulkan di Bumdesa Kedawang. Sehingga terjadi solusi antara dua pihak.

"Bagi yang keberatan bayar langsung saja diletakkan di TPS. Biar kami yang membayar iuarannya," sebut Abdillah.

MELAYANI MASYARAKAT: Jajaran Pemerintah Desa Mlaten. Nampak Kades Muhammad Abdillah (tengah duduk depan bersama perangkat desa). (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
BANTUAN PUSAT: Kades Mlaten Abdillah menunjukkan program ketahanan pangan berupa budi daya ayam petelur. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
 

Tingkatkan Ketahanan Pangan Melalui Ayam Petelur 

Tidak hanya perekonomian masyarakat yang ditingkatkan di Desa Mlaten. Ketahanan pangan di desa juga tidak luput dari perhatian pemdes yang menyediakan program ketahanan pangan melalui ayam petelur. Program yang dikelola BUMDes yang bertujuan agar masyarakat bisa memperoleh telur dengan harga lebih terjangkau.

Kades Mlaten, Muhammad Abdillah menyebut, program ketahanan pangan ini berasal dari pusat. Desa diminta membuat program yang bisa meningkatkan ketahanan pangan. Tentunya disesuaikan dengan potensi masing masing desa. Desa mlaten memilih ayam petelur.

"Alasannya pengembangan ayam itu tidak terlalu rumit. Dan telur itu kebutuhan sehari hari masyarakat," jelasnya.

Saat ini ada 600 ekor ayam petelur yang dipelihara pemdes melalui BUMDes. Ratusan ekor ayam ini dipelihara dalam kandang di atas lahan milik warga yang disewa. Hasilnya cukup banyak. Setiap hari bisa memperoleh antara 30 sampai 31 kilogram telur.

Agar kualitas telur yang diperoleh baik, pihak nya menjaga asupan makanan bagi ayam. Sedikitnya ratusan ayam itu menghabiskan sekitar 25 kilogram makanan per hari. Dan diberikan dua kali pada pagi dan sore.

BANTUAN PUSAT: Kades Mlaten Abdillah menunjukkan program ketahanan pangan berupa budi daya ayam petelur. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
MELAYANI MASYARAKAT: Jajaran Pemerintah Desa Mlaten. Nampak Kades Muhammad Abdillah (tengah duduk depan bersama perangkat desa). (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

"Kalau makanannya terjaga, maka jumlah telur yang dihasilkan juga semakin banyak," sebut Kades.

Hasil telur ini dijual ke toko sekitar. Tentunya dengan harga yang lebih murah dari harga pasaran. Jika harga satu kilo mencapai Rp 25 ribu, maka masyarakat yang membeli dalam jumlah besar, bisa memperoleh dengan harga Rp 24 ribu per kilonya.

"Imbal hasilnya bukan hanya untuk meningkatkan pad desa tapi menjamin ketersediaan telur yang terjangkau," sebut Abdillah. (riz/fun/*) 

Program di Tahun 2026

- Pembangunan pagar teralis di 3 jembatan
- Pengembangan ayam petelur
- BLT untuk warga tidak mampu
- Program stunting posyandu

Editor : Abdul Wahid
#pasar desa #desa mlaten #transparansi desa #kecamatan nguling