PASURUAN, Radar Bromo-Hasil panen padi di Kota Pasuruan di triwulan pertama tahun ini terbilang positif. Dari target sebanyak 1.788 ton, panen padi di triwulan pertama sudah tembus 580 ton.
Namun petani diingatkan tantangan di sisa bulan karena dampak cuaca ekstrem mengancam ketahanan pangan di Kota Pasuruan. Ada hujan berkepanjangan membuat hama dan tikus menyerang.
Belum lagi ancaman kemarau panjang mendatang yang diprediksi akan mengurangi hasil panen para petani.Pemerintah Kota Pasuruan mengimbau para petani untuk lebih bijak dalam mengolah penanaman.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kota Pasuruan Zahra Hayati mengatakan, Badan riset dan Inovasi nasional memprediksi Indonesia akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat. Fenomena ini kerap disebut sebagai El Nino Godzilla.
Fenomena ini diprediksi memicu musim kemarau yang jauh lebih panjang dan kering. Terutama untuk wilayah barat dan selatan Indonesia. “Dampaknya bukan hanya ke cuaca. Tapi ke kehidupan sehari-hari,” kata Zahra.
Sebagai antisipasi dampak kemarau, DPPKP sudah menyiapkan langkah. Mulai melakukan mapping wilayah kekeringan, optimalisasi pengelolaan air irigasi, percepatan tanam serempak di wilayah potensial dengan varietas padi tahan kekeringan, pengaturan pola tanam sesuai kondisi iklim dan ketersediaan air. Selain itu, DPPKP mengusulkan kebutuhan pompa air ke pemerintah pusat.
Termasuk merubah pola tanam lahan. Misalnya lahan yang sebelumnya ditanam padi kering, bisa diganti dengan palawija seperti menanam jagung.
“Petani di Kota Pasuruan yang lahannya kekurangan air banyak yang menanam padi varietas Situ Bagendit karena tahan terhadap kekeringan,” ujarnya.
Di sisa waktu yang ada tahun ini, DPPKP mengupayakan hasil panen padi di Kota Pasuruan tetap aman. Jumlah 581 ton di triwulan pertama, disebut Zahra, sudah masuk kategori aman.
“Kami akan terus optimalkan mengingat kondisi cuaca, hujan maupun panas ekstrem,” katanya. (zen/fun)
Editor : Abdul Wahid