Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Produksi Garam di Kota Pasuruan Berpotensi Lebih Tinggi, Ini Pemicunya

Fahrizal Firmani • Jumat, 10 April 2026 | 13:58 WIB
PERSIAPAN: Salah satu petani garam di Kota Pasuruan saat mempersiapkan lahan untuk produksi garam, beberapa waktu lalu. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
PERSIAPAN: Salah satu petani garam di Kota Pasuruan saat mempersiapkan lahan untuk produksi garam, beberapa waktu lalu. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

PASURUAN, Radar Bromo - Kabar baik datang bagi sektor kelautan di Kota Pasuruan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih lama dengan suhu yang lebih menyengat dibandingkan tahun sebelumnya.

Fenomena alam ini justru disambut optimistis oleh para petani garam yang memproyeksikan adanya lonjakan produksi secara signifikan.

Kepala Dinas Perikanan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan, Muallif Arif atau yang akrab disapa Ayik, menguraikan potensi produksi garam tahun ini jauh lebih besar.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya hujan seringkali turun tidak menentu, tahun 2026 ini diprediksi akan menjadi "tahun emas" bagi komoditas garam.

"Prediksi BMKG menunjukkan cuaca kemarau akan lebih panas dan kering. Bagi sektor garam, ini adalah sinyal positif. Proses penguapan air laut akan menjadi lebih cepat dan maksimal," ujar Ayik.

Berbeda dengan pola tahun lalu, di mana Kelompok Usaha Garam (Kugar) baru bisa mulai berproduksi pada bulan Juli akibat gangguan hujan di bulan Juni, tahun ini para petani sudah bisa tancap gas sejak dini.

Awal kemarau yang jatuh pada April hingga awal Mei, memungkinkan periode produksi menjadi lebih panjang, yakni sekitar enam bulan penuh.

Secara statistik, optimisme ini didorong oleh data perbandingan yang kontras. Pada tahun 2024, produksi garam sempat menyentuh angka 5.967 ton.

Namun, angka tersebut merosot tajam pada tahun 2025 menjadi hanya 4.832 ton akibat anomali cuaca, sehingga ada selisih penurunan mencapai 1.135 ton.

Tahun ini, pemerintah kota menargetkan produktivitas bisa kembali pulih atau bahkan melampaui rekor tahun 2024.

Meskipun jumlah kelompok usaha tetap stabil, luas lahan yang disiapkan masih sangat potensial. Tercatat total 107,99 hektare lahan garam yang tersebar di tiga kecamatan utama siap beroperasi maksimal.

Di Kecamatan Panggungrejo, menjadi sentra terbesar dengan luas 71,32 hektare yang dikelola oleh empat kelompok usaha (kugar).

Sementara Kecamatan Bugul Kidul, memiliki satu kugar yang mengelola lahan seluas 23,37 hektare.

Sedangkan Kecamatan Gadingrejo, menyumbang areal produksi seluas 13,3 hektare dengan satu kugar aktif.

"Proyeksi luas lahan tetap sama dengan tahun lalu, karena jumlah kelompok usaha kita memang tetap. Namun dengan kondisi cuaca yang mendukung, kami harap kapasitas dari 107,9 hektare ini bisa terserap secara maksimal," tambah Ayik. (riz/one)

Editor : Jawanto Arifin
#kota pasuruan #petani #garam