PASURUAN, Radar Bromo - Kabut misteri masih menyelimuti sosok perempuan tanpa identitas (Mrs X) yang ditemukan membusuk di area persawahan Dusun Babatan, Desa Sambirejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan.
Hingga kini, Satreskrim Polres Pasuruan Kota masih berpacu dengan waktu untuk menguak jati diri korban di tengah nihilnya laporan kehilangan anggota keluarga dari masyarakat.
Dugaan bahwa perempuan ini merupakan korban tindak pidana kian menguat.
Hasil autopsi tim Laboratorium Forensik RS Bhayangkara Porong menemukan sejumlah luka signifikan pada tubuh korban yang tidak wajar.
Namun, siapa sosok di balik daster merah tersebut masih menjadi teka-teki besar bagi penyidik.
Kasi Humas Polres Pasuruan Kota, Aipda Muhammad Junaidi, mengungkapkan bahwa sejauh ini tiga orang saksi telah dimintai keterangan.
Mereka adalah warga yang pertama kali berada di lokasi kejadian. Sayangnya, kesaksian mereka belum mampu membuka tabir identitas maupun aktivitas terakhir korban sebelum maut menjemput.
“Satu saksi diperiksa saat penemuan awal, dua lainnya setelah rilis resmi di Mapolres. Namun, mereka tidak mengenali korban,” ujar pria yang akrab disapa Jun tersebut.
Upaya kepolisian kini beralih pada penelusuran digital. Penyidik tengah menyisir rekaman Closed Circuit Television (CCTV) di sekitar lokasi untuk memetakan pergerakan terakhir di area tersebut.
Meski ada kendala teknis, di mana kamera yang tersedia lebih banyak menyorot ke jalan raya ketimbang ke arah tower titik penemuan, petugas tetap optimis mencari celah petunjuk.
Polisi kini menggantungkan harapan pada ciri fisik menonjol yang dimiliki korban. Selain daster kain warna merah, korban memiliki ciri khusus berupa tato bergambar perempuan pada paha kaki kiri.
Identitas visual ini terus disebarluaskan melalui media sosial dan kanal berita dengan harapan ada pihak keluarga yang mengenali.
Terkait pemulasaraan, jenazah Mrs. X saat ini masih disemayamkan di RS Bhayangkara Pusdik Porong.
Meski secara prosedur jenazah tak dikenal bisa dimakamkan setelah satu pekan, penyidik memutuskan untuk menunda pemakaman demi kepentingan penyelidikan yang lebih dalam.
“Jenazah masih di Porong. Kami masih menunggu perkembangan penyelidikan dan berharap identitas segera terungkap,” beber Jun. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin