PARA bocah di RT 4/RW 6 Dusun Dinoyo, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, ketika Ramadan, mempunyai kebiasaan istimewa. Tanpa disuruh, mereka begitu bersemangat untuk belajar berpuasa agar bisa tadarus Alquran.
Menjelang pukul empat sore, halaman musala Al Falah di RT 4/RW 6 Dusun Dinoyo, Desa Sengonagung, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, mulai ramai. Suara anak-anak bersahutan, sebagian masih berlarian kecil, sebagian lain sudah duduk rapi sambil memegang Alquran.
Di musala kecil itu, tikar digelar memanjang. Angin sore berembus pelan, membawa suasana Ramadan yang khas: sederhana tapi hangat. Sekitar 20 anak berkumpul setiap hari. Usianya beragam. Dari yang baru belajar mengeja huruf hijaiah hingga yang sudah lancar membaca Alquran.
Mereka datang karena sudah menjadi kebiasaan yang ditunggu-tunggu setiap tahun. Tadarus dimulai pukul 16.00 dan berakhir menjelang azan Magrib. Satu per satu anak maju membaca, disimak teman-temannya. Suaranya belum selalu fasih tapi justru di situlah letak semangatnya.
Yang menarik, ada aturan tak tertulis yang sudah lama dijaga lintas generasi. Yakni, hanya anak yang berpuasa yang boleh ikut tadarus. Aturan itu tidak pernah diumumkan secara resmi. Tidak ada papan pengumuman, apalagi hukuman. Namun anak-anak sudah paham. Jika ingin ikut tadarus, mereka harus belajar berpuasa -meski belum penuh.
Ada yang menjalani puasa “beduk.” Ada pula yang bertahan hingga Magrib. Cara sederhana yang perlahan menumbuhkan kebiasaan. “Kalau nggak puasa, nggak bisa ikut ngaji,” ujar Jagad Patria Mandala, 6, sambil tersenyum malu.
Siswa kelas I SDN Sengonagung ini mengaku belum selalu kuat berpuasa seharian. Namun demi bisa duduk bersama teman-temannya di musala, ia mencoba bertahan lebih lama. “Kadang sampai Magrib, kadang beduk. Tapi aku mau ikut terus,” kata Jagad.
Semangat itu pula yang membuat kegiatan tadarus di kampung ini tak pernah sepi. Bahkan, dari tahun ke tahun, jumlah peserta relatif stabil. Anak-anak datang dengan kesadaran sendiri, tanpa perlu dijemput atau dipanggil.
Di balik itu, ada peran ibu-ibu kampung yang tak kalah penting. Mereka sepakat bergiliran menyiapkan makanan untuk anak-anak yang tadarus. Tidak ada kewajiban jumlah atau jenis. Semua dilakukan seikhlasnya -kadang sekadar takjil sederhana, kadang makanan berat untuk berbuka.
Menjelang pukul lima sore, aroma gorengan, kolak, atau mi goreng mulai tercium dari dapur warga. Anak-anak yang sejak tadi mengaji, perlahan menutup kitabnya sambil melirik ke arah hidangan yang mulai dibagikan.
“Biar anak-anak tambah semangat. Mereka kan capek juga habis ngaji sambil puasa,” kata salah satu ibu yang rutin terlibat, Ani Solihati.
Menurutnya, tradisi ini sudah berjalan lama. Tidak pernah direncanakan secara formal, tapi tumbuh dari kebiasaan gotong royong warga. “Yang penting anak-anak senang, betah di musala, dan belajar puasa sejak kecil,” ujarnya.
Kebersamaan itu semakin terasa menjelang waktu berbuka. Anak-anak duduk melingkar, menunggu azan dengan sabar. Tak ada yang berebut. Mereka sudah terbiasa berbagi.
Bagi sebagian anak, momen itulah yang paling ditunggu. “Senang kalau sudah mau buka. Lebih semangat menyelesaikan hataman,” kata Aida, 9, siswa kelas III SD.
Aida termasuk yang sudah mulai kuat berpuasa penuh. Ia juga sudah lancar membaca Alquran dan sering membantu teman yang lebih kecil. “Kalau ada yang belum bisa, aku bantu,” katanya.
Kegiatan tadarus ini bahkan sudah mencapai khatam pada 21 Ramadan lalu. Namun aktivitas tetap berjalan hingga akhir bulan. Anak-anak tetap datang, mengulang bacaan.
Bagi mereka, khatam Alquran bukanlah akhir. Yang lebih penting adalah menjaga kebiasaan. Di tengah gempuran gawai dan hiburan digital, musala kecil di sudut kampung itu menjadi ruang belajar yang hidup. Bukan hanya belajar membaca Alquran, tetapi juga belajar disiplin, berbagi, dan memahami makna puasa sejak dini. (muhamad busthomi/rud)
Editor : Fahreza Nuraga