PASURUAN, Radar Bromo– Bencana angin kencang yang melanda Kabupaten Pasuruan, Rabu (4/3) malam, menyebabkan dampak luas di berbagai wilayah.
Hingga Kamis (5/3), BPBD Kabupaten Pasuruan mencatat, sedikitnya 30 pohon tumbang dan 32 bangunan rusak.
Berdasarkan hasil asesmen sementara BPBD, bencana akibat cuaca ekstrem yang dipicu pengaruh siklon tropis tersebut berdampak di 15 kecamatan.
Luasnya dampak bencana membuat petugas masih standby di lapangan sampai Kamis (5/3).
“Teman-teman masih di lapangan untuk melakukan asesmen dan penanganan. Selain pohon tumbang yang mengganggu arus lalu lintas, ada juga laporan rumah rusak dan fasilitas umum yang terdampak,” terang Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi.
Dari data sementara, Kecamatan Winongan menjadi wilayah dengan dampak kerusakan paling banyak.
Di wilayah tersebut, tercatat 7 pohon tumbang dan 14 rumah rusak. Terdiri atas 13 rumah rusak ringan dan satu rusak sedang. Selain itu, SMKN Winongan dan TPQ Khasani juga rusak ringan.
Beberapa kecamatan lain juga terdampak cukup signifikan. Di Kecamatan Purwodari, tercatat 8 rumah rusak sedang dan satu pohon tumbang.
Kemudian di Gondangwetan, terdapat 3 rumah rusak sedang dan 4 pohon tumbang.
Sementara di Lekok, satu rumah warga dan satu bangunan kantor KUA Lekok mengalami kerusakan ringan.
Di Grati, ada 5 pohon tumbang. Sedangkan di Pandaan, tercatat 3 pohon tumbang dan satu korban luka.
Secara keseluruhan, BPBD mencatat 13 rumah rusak ringan di Winongan. Dan 16 rumah rusak sedang di tujuh kecamatan.
Selain angin kencang, curah hujan yang tinggi juga memicu kenaikan debit air di sejumlah sungai besar. Seperti Sungai Rejoso dan Sungai Laweyan di Nguling.
Bahkan, di Desa Ranggeh, Kecamatan Gondangwetan, BPBD juga mengerahkan alat berat ekskavator untuk membersihkan sampah di sungai agar tidak menyumbat aliran.
Juga menurunkan armada tangki air untuk membersihkan lumpur di jalan akibat luapan sungai.
"Tim reaksi cepat kami masih terus melakukan asesmen dan penanganan di lapangan, termasuk pendistribusian air bersih di wilayah yang terdampak banjir luapan sungai," tambahnya.
Sugeng menjelaskan, fenomena angin kencang yang terjadi dipengaruhi faktor muson dan siklon tropis.
Sehingga, sulit diprediksi secara rinci. Karena itu, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan.
Ia juga mengingatkan agar warga yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai (DAS) untuk waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, baik angin kencang maupun banjir kiriman. Seperti di Rejoso, Laweyan, Petung, Welang, dan Kedunglarangan.
“Potensi cuaca ekstrem diperkirakan masih terjadi hingga 10 Maret sesuai prediksi BMKG,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Sebab, diperkirakan masih terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul peringatan dini terkait potensi angin kencang dan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada periode 4–8 Maret 2026.
Rusdi menjelaskan, cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh pengaruh siklon tropis yang terpantau di wilayah Australia.
Sehingga, kemudian berdampak pada kawasan Indonesia bagian selatan. Termasuk Kabupaten Pasuruan.
“Bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan maupun di jalan raya, kami minta untuk tetap waspada dan mengutamakan keselamatan diri,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Pasuruan telah menyiagakan personel dari BPBD dan Dinas Bina Marga untuk melakukan pemantauan dan penanganan jika terjadi bencana.
Selain itu, masyarakat juga diminta segera melaporkan keadaan darurat melalui layanan Call Center 112 yang beroperasi selama 24 jam.
“Kami berharap kewaspadaan masyarakat serta koordinasi antarinstansi dapat meminimalkan risiko bencana akibat cuaca ekstrem yang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan,” tuturnya. (ube/hn)
Editor : Muhammad Fahmi