Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Shobih Bangga Dipercaya Menjadi Pemukul Beduk Peninggalan Mbah Slagah Pasuruan

Fahrizal Firmani • Rabu, 4 Maret 2026 | 08:25 WIB

BERSEJARAH: M. Shobih memukul beduk peninggalan Mbah Slagah sebagai penanda masuk waktu Duhur.
BERSEJARAH: M. Shobih memukul beduk peninggalan Mbah Slagah sebagai penanda masuk waktu Duhur.

SHOBIH, sudah bertahun-tahun mengabdi sebagai pemukul beduk Masjid Agung Al Anwar Kota Pasuruan.

Setiap menjelang azan Duhur, suara pukulan beduknya selalu menjadi ciri khas penanda waktu Duhur.

Bahwa, waktu salat telah tiba dan menyegerakan diri untuk menghadap Yang Maha Kuasa.

Usianya masih tergolong muda. Baru menginjak 46 tahun. Namun Shobih sudah sembilan tahun mengabdi sebagai pemukul beduk di Masjid Al Anwar Kota Pasuruan.

Baginya, menjadi pemukul beduk harus dijalankan dengan penuh keikhlasan.

Shobih mengabdi di Masjid Agung Al Anwar sejak 2007. Awalnya bukan sebagai penabuh beduk.

Melainkan full timer, berjaga selama 24 jam. Maklum, saat itu di masjid setempat belum tersedia security atau petugas keamanan.

“Saat ini bagian security ada sendiri. Jemaah yang membutuhkan sesuatu bisa melapor ke security yang bertugas jaga," katanya.

Warga Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, dipercaya sebagai pemukul beduk sejak pertengahan 2007.

Menggantikan penabuh beduk sebelumnya yang meninggal dunia. Namun tanggung jawab ini hanya dilakukan saat Duhur. Karena pada waktu lainnya tidak ada tabuhan beduk sebelum azan.

Dahulu, beduk dipukul dua kali. Yakni, pada waktu Duhur dan Asar. Namun saat ini hanya ketika masuk waktu Duhur.

Beduk dipukul empat menit sebelum azan dikumandangkan. Tujuannya, agar masyarakat yang mendengar segera bersiap jika sudah masuk waktu Duhur.

“Kalau dulu beduk memang dipukul di saat waktu Duhur dan asar. Namun, sejak saya diberi tanggung jawab sudah tinggal Duhur,” katanya.

Alumnus Ponpes Al Yasini, Kabupaten Pasuruan, ini menjelaskan, tidak sulit untuk memukul beduk.

Sebab, sebelum mendapatkan tanggung jawab menjadi pemukul beduk, ia sudah sering mendengar irama beduk dipukul oleh penabuh sebelumnya.

Ia belajar dengan cara memperhatikan beduk ini dipukul. Meski harus memukul selama empat menit, ia tidak pernah merasa capai.

“Asalkan dilakukan dengan tanggung jawab dan penuh keikhlasan, tentu akan dimudahkan. Alhamdulillah selama ini lancar," jelas Shobih.

Pria asli Kota Pasuruan ini mengaku merasa bangga bisa memukul beduk di Masjid Agung Al Anwar. Sebab, beduk yang dipukulnya bukanlah beduk sembarangan.

Melainkan beduk peninggalan Mbah Slagah, salah satu ulama penyebar agama Islam di Pasuruan.

Beduk ini telah berumur ratusan tahun. Sudah ada sejak 1750 dan sejauh ini masih dalam kondisi utuh. Beduk ini terbuat dari kayu jati. Kayu utuh yang dibolongi di bagian tengahnya. Menjadi saksi perkembangan Islam di wilayah Pasuruan.

Di luar menjadi pemukul beduk, Shobih juga bertanggung jawab mengelola perpustakaan di lantai dua masjid.

Perpustakaan ini memiliki koleksi buku-buku Islami. Dulu, perpustakaan ramai pengunjung. Banyak mahasiswa yang datang mencari referensi untuk skripsi.

Namun kini berbeda. Usai pandemi, peminatnya terus berkurang. Tidak jarang dalam satu hari tidak ada pengunjung sama sekali.

Bisa jadi kondisi ini disebabkan karena banyak yang memiliki smartphone. Mencari buku dan referensi bisa dilakukan secara online.

“Menjadi pemukul beduk atau menjaga perpustakaan sama-sama saya nikmati. Saya niatkan karena Allah agar hidup barokah,” ujar Shobih. (fahrizal firmani/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#beduk #pasuruan #masjid #mbah slagah