BANGIL, Radar Bromo — Busana adat masyarakat Tengger dari lereng Gunung Bromo kini memperoleh pengakuan resmi negara.
Kaweng dan Udeng Bromo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia, menyusul penyerahan sertifikat oleh Gubernur Jawa Timur kepada pemerintah daerah dan pelaku budaya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pasuruan, Agus Hari Wibawa, menegaskan status tersebut memperkuat kedudukan Kaweng dan Udeng sebagai simbol identitas sekaligus kehormatan masyarakat Suku Tengger.
Pengakuan itu juga menjadi instrumen perlindungan budaya di tengah geliat pariwisata kawasan Bromo Tengger Semeru.
“Penetapan WBTB ini untuk memastikan budaya lokal tetap lestari di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Bromo Tengger Semeru,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengakuan nasional tersebut membawa konsekuensi tanggung jawab bersama—baik pemerintah maupun masyarakat—untuk terus menjaga praktik budaya.
Termasuk penggunaan busana adat dalam ritual dan kehidupan sosial Tengger.
Pelestarian, lanjutnya, juga berpotensi menggerakkan ekonomi kreatif berbasis budaya di wilayah Pasuruan bagian atas.
Apresiasi datang dari legislator asal komunitas Tengger, Agus Setiya Wardana.
Ia menyebut penetapan WBTB sebagai kebanggaan kolektif masyarakat Tengger yang selama ini konsisten merawat tradisi leluhur.
“Masyarakat Tengger tentu berbangga. Terima kasih atas kepedulian pemerintah daerah yang telah mengawal Udeng dan Kaweng hingga diakui secara nasional,” tegasnya.
Dalam seremoni yang sama, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyerahkan total 46 sertifikat WBTB Indonesia Tahun 2025 kepada berbagai kabupaten/kota.
Ragam warisan yang ditetapkan mencakup seni pertunjukan, tradisi, ritual adat hingga kuliner khas daerah.
Dengan status WBTB, lanjut Wardana, Kaweng dan Udeng Tengger kini memiliki payung pelestarian yang lebih kuat.
Pengakuan ini diharapkan menjaga keberlanjutan identitas budaya Suku Tengger sekaligus memperluas peluang pemanfaatan budaya sebagai kekuatan pembangunan dan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Pasuruan.
“Dengan begini, Kaweng dan Udeng sekarang menjadi simbol kebanggaan bukan hanya bagi masyarakat Tengger tetapi juga warga Kabupaten Pasuruan seluruhnya,” tandas politisi Gerindra itu. (tom/one)
Baca Juga: Pegawai Pemkab Pasuruan Pakai Udeng-Selendang Tiap Rabu, Untuk Apa Ya?
Editor : Moch Vikry Romadhoni