DI Masjid Darussalam, Dusun Sukun, Desa Bakalan, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, ada pria yang selalu siaga. Dialah Rosyidi.
Tak sekadar menjaga kebersihan dan kesucian masjid, ia juga menjadi “napas” di Rumah Allah SWT ini.
Jarum jam baru menunjuk pukul 03.00. Saat sebagian besar warga Dusun Sukun, Desa Bakalan, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, masih terbungkus selimut di tengah udara dingin lereng pegunungan, Rosyidi sudah terjaga.
Benda pertama yang disentuh bukan ponsel cerdas, melainkan tombol sistem audio dan peralatan kebersihan.
Sejak 2010, rutinitas itu menjadi "napas" bagi pria kelahiran 1971 ini. Bisa dibilang, Rosyidi bukan sekadar marbot.
Ia penjaga kesunyian sekaligus pengundang jemaah melalui suara azannya yang berkumandang lima kali sehari di Masjid Darussalam.
Bagi orang awam, berdiri sendirian di dalam bangunan masjid yang luas pada pukul tiga pagi mungkin terasa mencekam. Namun bagi Rosyidi, kesunyian itu justru terasa “ramai.”
“Saya tidak pernah merasa malas, malah justru tergugah. Memang berat, tapi saya merasa seperti ada yang menemani. Saya anggap saja para malaikat sedang berada di masjid. Itu yang membuat saya tambah semangat,” ungkapnya dengan nada tenang.
Pria yang juga berprofesi sebagai Guru Bimbingan Konseling (BK) di SMP Islam Purwosari ini meyakini adanya pitulung (pertolongan) dari Sang Khalik yang membuatnya istiqamah menjaga waktu salat selama 16 tahun terakhir.
“Insyaallah dengan begini, ada saja berkah dan manfaat buat keluarga saya," katanya.
Ayah dua anak ini tidak pernah memandang tugas ini sebagai pekerjaan. Baginya, mengurus masjid merupakan bentuk wakaf waktu dan tenaga.
Meski mendapat bisyaroh (uang kehormatan atau tunjangan) yang jumlahnya bergerak dari angka Rp 50 ribu hingga kini Rp 150 ribu per bulan, ia tak pernah menoleh pada nominal tersebut.
“Bagi saya ini bukan pekerjaan, tapi pengabdian. Merawat rumah Allah itu tidak bisa diukur dengan uang," tegasnya.
Kesibukannya sebagai guru BK yang menuntut kedisiplinan di sekolah tidak lantas membuatnya abai pada kebersihan masjid.
Manajemen waktunya cukup ketat. Jika ada urusan yang mangharuskannya ke luar kota, "estafet" tugas mulia ini ia serahkan kepada putra bungsunya, Arif Rofiul.
Langkah Rosyidi mengabdikan diri di masjid memang mendapat dukungan penuh dari sang istri dan kedua anaknya.
Tak jarang, saat beban pekerjaan di masjid terasa berat, istri dan anak-anaknya turun tangan langsung membantu membersihkan lantai hingga teras masjid.
“Keluarga sangat mendukung. Alhamdulillah. Kalau saya sedang repot misalnya, Arif yang menggantikan. Ini sudah jadi komitmen keluarga," ujarnya.
Ada kepuasan batin tersendiri bagi Rosyidi saat melihat jemaah bisa beribadah dengan sujud yang khusyuk di atas lantai yang bersih dan sajadah yang tak berdebu. Hal itu, menurutnya, jauh lebih berharga daripada apresiasi dalam bentuk materi.
Saat ditanya sampai kapan akan bertahan memegang sapu dan pel di Masjid Darussalam? Rosyidi tersenyum. Ia menyerahkan segalanya pada takdir dan kepercayaan masyarakat.
“Selama masih diberi kepercayaan dan tenaga, saya lanjut. Tapi kalau suatu saat dibutuhkan kader yang lebih muda untuk regenerasi, saya siap," tuturnya.
Namun ada satu janji yang dipegang teguh. Meski nantinya tak lagi menjabat sebagai marbot, ia akan tetap memilih hidup dekat dan mengabdi untuk masjid.
"Bukan berarti kalau sudah tidak lagi jadi marbot, akhirnya jarang ke masjid. Insyaallah kebiasaan yang baik tetap saya pertahankan,” janjinya. (m. busthomi/rud)
Editor : Fahreza Nuraga