JAPAN Tobacco International (JTI) Indonesia memiliki komitmen mendorong perekonomian masyarakat kota Pasuruan melalui penguatan potensi dan pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal.
Salah satu bukti nyata komitmen ini dilakukan dengan berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Pasuruan (Pemkot) dan masyarakat Kota Pasuruan.
Sabtu (14/2), komitmen ini ditandai dengan diresmikannya Kampoeng Koeno Bangilan, Kota Pasuruan.
Di dalam Kawasan Kelurahan Bangilan ini, diluncurkan destinasi wisata cagar budaya bangunan bersejarah dan kuliner khas Pasuruan.
Menurut Corporate Affairs Manager JTI Indonesia, Didik Suharsono, menyampaikan bahwa launching program ini merupakan partisipasi aktif perusahaan dalam membangun perekonomian masyarakat.
“Kami mendukung penuh inisiatif masyarakat melalui kelompok sadar wisata Bangilan untuk mengembangkan perekonomian di Bangilan, dengan memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal di masyarakat” ujarnya.
Rintisan kegiatan ini, Didik menambahkan, sudah dimulai bersama dengan para tokoh masyarakat dan pelaku usaha di Bangilan sejak dua tahun lalu.
Apa yang dimunculkan dalam launching ini merupakan buah pikiran dan komitmen masyarakat Bangilan melalui fasilitasi untuk menunjukkan identitas kota lama dan pariwisata berkelanjutan.
Peresmian dilakukan langsung oleh Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, yang didampingi Wakil Wali Kota Pasuruan, Mokhamad Nawawi; Ketua DPRD Kota Pasuruan, Mochammad Toyib dan perwakilan JTI Indonesia. Turut hadir juga jajaran Pokdarwis Bangilan bersama masyarakat Kampung Bangilan.
Berbagai kegiatan dilakukan untuk meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam mengupayakan Kampung Bangilan sebagai potensi pariwisata di Kota Pasuruan.
Mulai dari pembentukan dan penguatan Pokdarwis Bangilan, integrasi nilai-budaya kearifan lokal, hingga pemetaan potensi wisata, baik sejarah bangunan tua maupun kuliner khas Pasuruan.
Kampung Bangilan dikenal sebagai kawasan bersejarah dengan bangunan kuno. Terletak di pusat Kota Pasuruan, lokasinya yang sangat strategis, tidak terlalu jauh dari Stasiun Kota Pasuruan dan Payung Madinah yang berada di kawasan alun-alun Kota Pasuruan.
Selain banyak bangunan berarsitektur tua, Kampung Bangilan juga terkenal sebagai pusat kuliner khas Pasuruan, terutama sate komoh, rawon, dan kopi Sepoor Kaspandi.
Dan menurut cerita setempat, Kampung Bangilan memiliki keterkaitan sejarah dengan leluhur pendatang dari Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.
Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, menyambut inisiatif JTI Indonesia dalam membantu mengembangkan potensi wisata Sejarah di Kampung Bangilan. Adi memandang ini bisa menunjang destinasi wisata kota Pasuruan yang sudah ada. Dan tentunya menambah potensi perekonomian.
“Kawasan Bangilan harus dikelola dengan benar, karena disana ada nilai sejarah yang luar biasa. Bila dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka kawasan itu bisa berkembang pesat serta menjadi penggerak sektor pariwisata di Kota Pasuruan,” ujar Adi Wibowo dalam sambutannya saat peresmian.
Adi juga berharap kolaborasi yang sudah terjalin antara swasta masyarakat dan pemerintah ini bisa tetap terjalin dalam memaksimal potensi wisata berbasis kemasyarakatan. Dan jika memungkinkan bisa dikembangkan ke daerah-daerah lainnya di wilayah Kota Pasuruan.
Pejabat nomer satu di Kota Pasuruan juga meyakini Kampung Bangilan dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang tak hanya mempromosikan kekayaan budaya dan sejarah, namun juga mendorong perekonomian lokal.
Dukungan JTI sebagai mitra kolaborasi disebut sebagai bentuk kepedulian dunia usaha terhadap penguatan sektor pariwisata berbasis komunitas.
”Kalau Kampung Bangilan sudah berkembang, tentu kesejahteraan masyarakat sekitar juga terangkat,” kata Adi.
Sejalan dengan harapan masyarakat Kampung Bangilan, pegiat Pokdarwis Bangilan yang juga Ketua Karang Taruna Remaja Bangilan Raya (REMBARA), Abdul Rahman Firmansyah, menyampaikan apresiasinya atas support Pemkot Pasuruan dan JTI Indonesia dalam mendukung potensi wisata di wilayahnya.
Dirinya berharap komitmen masyarakat dan dukungan dari Pemkot Pasuruan dalam mempromosikan pariwisata di Kampung Bangilan ini bisa berkelanjutan.
“Selain kolaborasi multi-pihak, ke depannya yang tidak kalah penting yaitu penetapan Kampung Bangilan ini sebagai kawasan cagar budaya sehingga penataan dan perawatan disini tetap terjaga, di samping penguatan masyarakat bersama para pelaku usaha,” harap Firman.
Kegiatan launching dimeriahkan berbagai kegiatan. Mulai Mlaku Bareng Wali Kota, parade sepeda antik/kuno, lomba fotografi dengan objek spot-spot bernuansa kuno, serta kuliner khas Bangilan. (unt/*)
Editor : Abdul Wahid