LEKOK-Radar Bromo-Cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang tinggi melanda kawasan pesisir di dalam dua minggu terakhir.
Kondisi ini membuat para nelayan tradisional di pesisir Kabupaten Pasuruan libur melaut.
Para nelayan mengaku sudah hampir tiga pekan mereka tidak mencari ikan lantaran kondisi sangat membahayakan.
Muharror, 40, nelayan asal Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok, mengaku sudah dua pekan menghentikan aktifitas melaut.
Kata dia, angin kali ini hembusannya sangat kencang. Itu mengakibatkan ombak tinggi mencapai 2 meter lebih.
Angin kencang yang terjadi biasanya memuncak pada pagi hari sekitar pukul 08.00 dan malam hari pukul 21.00.
"Agak sulit diprediksi kapan datangnya angin. Yang pasti saya dan para nelayan sini memilih libur kerja. Pilih selamatnya saja. Demi anak istri di rumah," jelas Muharror.
Untuk mengisi waktu luang selama masa "libur" paksa ini, para nelayan melakukan berbagai kegiatan di darat.
Mereka fokus memperbaiki jaring yang rusak atau merawat perahu agar siap digunakan kembali saat cuaca membaik.
Beberapa nelayan lain bahkan mencari pekerjaan sampingan seperti buruh bangunan untuk menyambung hidup.
Senada juga dialami Mustofa, 35, nelayan asal Desa Tambak lekok, Kecamatan Lekok. Akibat besarnya angin, ia mengaku perahu yang diparkirnya di kawasan TPI Lekok ini sempat lepas tali tambannya.
Sehingga menyebabkan perahunya sempat lari ke tengah. Beruntung kejadian itu diketahui warga sekitar dan terselamatkan.
"Saking kencangnya angin banyak perahu yang lepas. Ada sekitar enam perahu. Termasuk perahu saya. Sempat rusak sedikit, tapi sudah saya perbaiki," ungkap Mustofa.
Rupanya, kondisi cuaca ekstrim angin musim barat itu juga merata dirasakan para nelayan wilayah lain.
Termasuk mereka yang tinggal di pesisir Nguling. Salah satunya adalah Fuadi, 35, nelayan asal Desa Kedawang, Kecamatan Nguling.
Menurut pengakuannya, kondisi angin besar seperti saat ini sangat berbahaya bagi perahu nelayan tradisional yang berukuran kecil.
Banyak nelayan yang sempat mencoba berangkat, namun akhirnya memutuskan untuk memutar balik karena hantaman ombak yang terlalu kuat dan risiko kecelakaan yang tinggi.
"Berbahaya sekali. Kami lebih pilih libur dulu sampai benar-benar kondisi aman untuk melaut," ungkap Fuadi.
Dampak dari cuaca buruk ini sangat terasa pada penurunan hasil tangkapan. Fuadi menyebutkan bahwa biasanya ia bisa mendapatkan hasil ikan cumi yang melimpah.
Namun kini hanya berkisar 5 hingga 10 kilogram saja. Hasil itu pun hanya cukup untuk menutupi biaya bahan bakar dan kebutuhan rokok saja tanpa ada sisa untuk dibawa pulang ke keluarga.
Meskipun tangkapan sedikit, harga ikan di pasaran justru mengalami kenaikan signifikan. Ikan nus atau cumi-cumi cumi yang biasanya kisaran Rp 20 ribu perkilogramnya kini bisa mencapai Rp 50 ribu.
Begitu juga dengan harga ikan kembung atau medai yang biasanya Rp.10 ribu perkilogramnya kini melonjak menjadi Rp30.000 per kilogram.
Hal ini dipicu oleh kelangkaan stok ikan akibat banyaknya nelayan yang memilih untuk libur melaut selama hampir setengah bulan.
Para nelayan kini hanya bisa bersabar sambil memantau tanda-tanda alam dan perhitungan kalender Jawa, berharap angin segera mereda.
Mereka berharap kondisi laut kembali normal dalam waktu dekat agar dapat kembali mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara layak. (ube/fun)
Editor : Fandi Armanto