BANGIL, Radar Bromo - Di saat retribusi sebagian besar pasar tradisional di Kabupaten Pasuruan mengalami penurunan, Pasar Sayur Gempol justru mencatatkan capaian berbeda.
Unit pasar ini menjadi satu-satunya pasar daerah yang mampu melampaui target pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi.
Fakta itu terungkap saat Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan, Taufikhul Ghony, turun langsung meninjau aktivitas perdagangan di Pasar Sayur Gempol, Kamis (22/1) malam. Ghony menyisir area pasar sembari berdialog dengan pedagang.
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi upaya memotret langsung kinerja pasar yang kini menjadi tulang punggung retribusi daerah.
Dari 14 unit pasar yang dikelola pemkab, kontribusi terbesar justru datang dari Pasar Sayur Gempol.
“Awalnya target retribusi Pasar Gempol Rp 211 juta. Setelah ada pasar sayur, targetnya naik menjadi Rp 291 juta. Kalau dipersentasekan, capaiannya sekitar 137 persen. Ini menunjukkan potensi terbesar memang berasal dari pasar sayur,” ujar Ghony-sapaannya.
Menurutnya, capaian itu kontras dengan kondisi sejumlah pasar tradisional lain yang justru mengalami penurunan pendapatan.
Karena itu, Pasar Sayur Gempol dinilai bisa menjadi contoh pengelolaan pasar yang efektif di tengah tekanan efisiensi daerah.
“Apalagi kita tahu bahwa pasar sayur ini terbesar kedua di Jatim setelah Pasar Porong,” bebernya.
Ghony menegaskan, optimalisasi sumber PAD menjadi perhatian serius Bupati Pasuruan.
Terlebih di tengah keterbatasan anggaran, sektor pasar rakyat tetap diharapkan memberi kontribusi nyata bagi daerah sekaligus berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
“Pak Bupati menginginkan seluruh potensi PAD dikelola dengan baik. Pasar sayur dan bangunan plaza di kawasan Pasar Gempol ini punya potensi besar jika dimaksimalkan,” tegasnya.
Dari hasil peninjauan lapangan, Ghony juga mencatat sejumlah persoalan. Selain potensi retribusi yang tinggi, masih terdapat kios dan bedak di area plaza pasar yang pemanfaatannya belum optimal.
Kondisi ini dinilai menjadi peluang sekaligus tantangan dalam meningkatkan pendapatan pasar ke depan.
“Ini menjadi bahan kajian kami. Nanti akan kami sampaikan ke Bupati bagaimana pengelolaan Pasar Gempol bisa lebih baik, lebih representatif, dan semakin mendongkrak PAD,” katanya.
Ia menambahkan, pembenahan pasar tidak semata soal pendapatan. Kenyamanan pedagang dan pengunjung tetap menjadi prioritas.
Pasar yang tertata, aman, dan ramai diyakini akan menggerakkan roda ekonomi rakyat.
“Sesuai visi-misi Bupati, pasar tradisional harus naik kelas. Bukan hanya sebagai tempat jual beli, tapi menjadi rujukan masyarakat, bahkan di tingkat Jawa Timur,” jelas Ghony. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin