Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Melihat Kondisi Umbulan Park-Pasuruan yang Semakin Memprihatinkan, Sumber Perekonomian Warga mulai Mati Suri

Fuad Alyzen • Minggu, 18 Januari 2026 | 17:48 WIB
BERTAHAN: M. Sueb, seorang PKL yang bertahan di Umbulan Park, membersihkan kolam dengan harapan ada pengunjung dan membeli dagangannya.
BERTAHAN: M. Sueb, seorang PKL yang bertahan di Umbulan Park, membersihkan kolam dengan harapan ada pengunjung dan membeli dagangannya.

SAAT megaproyek transmisi pipa mata air Umbulan dibangun, warga Desa Umbulan, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, mendapat komensasi dari Pempeov Jatim dan Kemenerian PUPR. Salah satunya dibangunnya Umbulan Park yang bisa menjadi tempat wisata.

Umbulan Park dibangun sebagai pengganti bagi masyarakat menjadi tempat wisata murah dan untuk membantu perekonomian masyarakat. Destinasi wisata ini berlokasi di Dusun Mulyorejo Lor dan diresmikan pada 2021 ini.

Namu, kini kondisinya memprihatinkan. Seakan mati suri. Banyak fasilitas yang rusak. Kumuh dan tidak terawat. Semua fasilitas dipenuhi rumput liar. Kecuali kolam utama dan di sekitar kolam. Karena masih ada satu pedagang kali lima (PKL) yang bertahan dan membersihkannya sambil berharap ada pengunjung agar dagangannya dibeli.

Sekretaris Desa Umbulan Lukman Hakim menceritakan, sebelum adanya Umbulan Park, kehidupan masyarakat sekitar begitu makmur. Sumber air utama menjadi sumber perekonomian warga sekitar. Meski tidak ada tiket masuk, banyak pengunjung berdatangan. Mereka bukan hanya warga sekitar, banyak juga dari luar desa dan kecamatan. “Sumber air ini sudah ada sebelum saya ada di dunia. Dulu banyak sekali pengunjung,” ujarnya.

Tujuan pengunjung beragam. Ada yang mandi di area sumber. Ada juga yang ngambil air untuk diminum, cuci kendaraan, karpet, dan beragam tujuan lainnya. Kondisi ini mengundang memantik pikiran bisnis warga sekitar. Mereka berusaha mengais rezeki dengan berjualan. Ada sekitar 45 pedagang yang mayoritas berjualan makanan dan minuman.

“Ketika hari-hari besar biasanya ramai. Pada hari itu pendapatan pedagang kadang Rp 1 juta. Per pedagang. Per harinya itu mendapat keuntungan,” ujar Lukman.

Belum lagi jasa parkir kendaraan pengunjung yang dulu dikelola Karang Taruna. “Bukan desa yang mengelola. Menaungi juga tidak. Jadi, semuanya warga. Aset alam di desa ini membantu perkonomian warga,” jelasnya.

Akhirnya, pada 2016, ada perencanaan pembangunan Umbulan Park oleh Pemprov Jatim. Setelah menyampaikan desain dan diketahui warga, mereka sempat ragu. Sebab, dengan kondisi sebelumnya sudah nyaman. Namun, setelah melihat desain denahnya yang luar biasa, akhirnya warga setuju. Ada harapan besar pembangunannya akan menjadi pusat perekonomian warga di desa. Terutama PKL.

Di gambar denah Umbulan Park, kata Lukman, akan terbangun 45 kios. Selain PKL memiliki tempat yang sebelumnya hanya bermodal meja dan bangunan semi permanen, akhirnya memiliki lapak tempat mereka berjualan. Begitu juga pengelolaan lainnya. Semuanya sudah bersemangat.

Pada 2017 Umbulan Park mulai dibangun. Setelah pembangunan itu, ternyata tidak sesuai gambar awal. “Karena tidak sesuai itu, warga menolak. Artinya inginnya kembali ke umbulan yang sebelumnya,” ujarnya.

Namun, sudah terlanjur dibangun. Puluhan PKL sudah menempati kios yang sudah disediakan. Benar saja apa yang diharapkan warga tidak sesuai. Pengunjung tidak sebanyak umbulan yang sebelumnya. Hingga 2019, pengelolaan Umbulan Park dilimpahkan ke Pemkab Pasuruan. Namun malah tambah sepi. Terlebih waktu itu dilanda Pandemi Covid 19.

Mulai 2021, Umbulan Park kembali ramai pengujung. Namun, hanya ketika di hari-hari besar keagamaan atau libur nasional. Seperti libur Hari Raya Idul Fitri. “Kalau hari besar jumlah motor pengunjung di parkiran paling banyak terhitung 150 motor sehari. Kalau hari biasa, 2 sampai 3 orang saja,” ujar Kepala Dusun Mulyorejo Lor Nidomi ketika mendampingi Lukman.

Sejak 2022 akhir, pengunjung semakin sepi. Fasilitas mulai tak terawat. PKL juga ikut mundur. Banyak di antara mereka yang lebih memilih beralih menjadi petani. Sejak 2023 makin sepi.

Perlahan, banyak sarana prasarananya rusak dan mulai ditumbuhi rumput liar.  Mulai dari kolam yang airnya dari Sumber Umbulan, musala, panggung, water boom, permainan seluncuran untuk anak-anak hingga lapak pedagang. Apalagi saat terjadi gempa yang merusak kolam. Dirinya meyakini pengunjung akan ketakutan dengan itu. “Setelah itu tambah tidak ada sama sekali pengunjung,” ujar Lukman.

Kini, Umbulan Park, mati suri. Tanpa pengelola. Hanya seorang PKL yang masih berupaya bertahan. Merawat harapan agar dapurnya tetap ngebul. “Gak tega saya melihatnya. Dia berharap masih ada pengunjung dengan kondisi semua fasilitas sudah rusak. Karena mau jadi petani tidak ada sawah. Mau kerja lainnya juga sudah tua,” katanya.

Salah seorang warga sekitar M. Rohim, 40, mengatakan, Umbulan Park sudah tidak bisa diharapkan. Setelah melihat kondisinya kini, ia tak yakin ada wisatawan yang akan berkunjung.

Rohim mengenang, dulu sebelum dibangun Umbulan Park, sumber pernghasilan para PKL begitu subur. Kini, memperoleh Rp 10 ribu dalam sehari, sudah besar. “Kalau gorengan tak terbeli sehari saja, selenjutnya kan dibuang. Rugi. Fasilitas banyak yang rusak. Yang mandi hanya anak-anak warga sini,” ujar warga Dusun Mulyorejo Lor ini. (zen/rud)

 

 

 

 

Banyak Rusak, Butuh Rehab Total

SEBAGAI tempat wisata, sebenarnya Umbulan Park digadang-gadang bisa menjadi tempat perputaran ekonomi baru. Namun, karena banyak fasilitas yang kurang terawat, berpengaruh terhadap tingkat kunjungan.

Sekretaris Desa Umbulan Lukman Hakim mengatakan, untuk membuat Umbulan Park bisa ramai memang tak bisa dipungkiri, butuh banyak perbaikan. Menambah wahana juga penting untuk mendongkrak daya tarik pengunjung. “Kolam renang menurut warga di tambah luasnya. Semakin banyak kolam dan wahana permainan, pengunjung akan ada daya tariknya bermain ke Umbulan Park,” katanya.

Tentu untuk merealisasikan harapan itu butuh anggaran besar. Sekitar puluhan sampai ratusan juta rupiah. Bahka, bisa miliaran. Menurutnya, pemerintah desa tidak bisa mengelola dengan kondisi seperti saat ini. Dari awal Umbulan Park sempat mau diserahkan ke pemerintah desa, namun menolak dengan alasan awal pembangunan.

Kini, kata Lukman, Umbulan Park sangat berpotensi tutup total. Kondisinya sudah memprihatinkan. Menurutnya, yang sangat dirugikan warga. Dulu mereka bisa mengelola Sumber Umbulan dan memperoleh penghasilan, kini setelah dibangun Umbulan Park, malah “menderita.” “Kata warga, terbunuh secara perlahan,” katanya.

Karena itu, pemerintah desa pernah didemo masyarakat. Warga mengira Umbulan Park dijual oleh pemerintah desa. Dengan kondisi itu, ia mengaku sering mengajukan proposal ke Pemprov untuk perbaikan Umbulan Park. Namun, sejauh ini belum ada respon.

Pernyataan senada disampaikan Kepala Dusun Mulyorejo Lor, Nidomi. Menurutnya, sejatinya warga bisa memompa perekonomian keluarganya melalui Umbulan Park. Jika, tempat wisata ini ramai pengunjung. Namun, nyatanya pengunjungnya nihil. “Yang pertama memang harus direhab. Semuanya fasilitasnya diperbarui,” ujarnya.

Menurutnya, sulit jika Umbulan Park harus dikelola pemerintah desa. Karena, kondisinya sudah tidak layak. Anggaran pemerintah desa tidak akan cukup. “Belum lagi sekarang ada Kopererasi Merah Putih,” katanya.

Mudin Desa Umbulan Suudi mengatakan, minimnya pengunjung sudah terasa sejak dibukanya Umbulan Park. Itu berdampak sekali kepada para pedagang. Sebelumnya ada Umbulan Park dan masih berupa  sumber alami, pengunjung begitu banyak. Berbeda ketika Umbulan Park, dibuka. “Saya dekat dengan warga. Saya mengetahui persis apa yang mereka rasakan dampak dari ini,” ujarnya.

Warga sekitar, M. Rohim, 40, menambahkan, pembangunan Umbulan Park sangat berdampak terhadap perekonomian warga. Terutama kepada para pedagang. Katanya, sebelum dibangun, lahan Umbulan Park merupakan sawah milik warga. “Jika mangkrak seperti ini mendingan digunakan untuk bertani. Jadi bisa masih mendapat penghasilan. Daripada Umbulan Park yang tidak bisa diharapkan. Semuanya rusak, tidak nyaman dilihat,” ujarnya. (zen/rud)

 

 

 

Pemkab Tak Bisa Lakukan Pemeliharaan

TAK terurusnya Umbulan Park sepertinya sulit untuk diselesaikan di tingkat daerah. Sebab, sejauh ini masih tercatat sebagau aset Pemprov Jawa Timur. Karena itu, Pemkab Pasuruan tak bisa berbuat banyak.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan Agus Hari Wibawa menyatakan, setelah dicek ke pemerintah kecamatan dan Bidang Aset, Umbulan Park memang tidak tercatat atau belum ada penyerahan dari Pemprov. Karena itu, Pemkab Pasuruan tidak bisa melakukan pemeliharaan.

“Belum ada penyerahan dari Provinsi. Jadi, kami tidak bisa memelihara aset yang dimaksud,” ujarnya.

Di Umbulan Park, sejauh ini hanya ada satu lapak PKL dan kolam renang yang berfungsi. Kolam ini dirawat oleh pasangan suami istri M. Sueb, 60, dan Suyami, 55. Warga RT 3/RW 1, Dusun Umbulan Lor, itu mengaku sudah puluhan tahun menjadi pedagang di Sumber Umbulan. “Saat di Sumber Umbulan dulu, saya sudah menjadi pedagang,” ujar M. Sueb.

Kini, dirinya bersama sang istri harus berjuang lebih keras untuk menjalani kehidupan. Ia mengaku bertahan di sekitar Umbulan Park, karena hendak berkerja yang lain sudah tidak memungkinkan. Menjadi PKL di Umbulan Park menjadi satu-satunya sumber penghasilan. Meski kadang dalam sehari tidak mendapat apa-apa lantaran tidak ada pengunjung.

Pasangan suami istri ini merawat kolam dan membersihkan rumput liar. Berharap pengunjung datang dan membeli dagangannya. Meski mereka tahu, itu tidak mudah. Namun, hanya itulah yang menjadi sarana mereka untuk mengais rezeki. “Yang beli hanya warga sekitar yang mencari rumput untuk pakan ternaknya. Pernah pengunjung beli. Tapi, tak seramai dulu saat masih di Sumber Umbulan utama,” kata Suyami, sembari membersihkan kolam. (zen/rud)

 

Editor : Fahreza Nuraga
#pasuruan #dinas pariwisata #umbulan park